Powered by Blogger.

CB Blogger Lab

PEMBACA

JASA SEO CB

Mau Ubah Pancasila? Hadapi Dulu NU!



Sumedang,PCNU Sumedang menyatakan sikap, bagi siapa saja yang mencoba ingin mengubah dasar negara, Pancasila, maka akan berhadapan dengan Nahdlatul Ulama. 

"Siapa saja, kelompok atau ormas mana pun yang ingin mengubah dasar negara, hadapi dulu NU!" tegas Ketua PCNU Sumedang KH Sa'dulloh di hadapan ratusan Nahdliyin Cigendel. 

Hal tersebut disampaikan pada peringatan Isra’ Mi'raj yang digelar Pengurus Ranting  NU Cigendel. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin (24/4) di Masjid Cigendel Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. 

Mereka yang ingin mengubah Pancasila dan NKRI itu tidak tahu sejarah. Padahal sejarah membuktikan bahwa peranan para kiai dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan negara ini sangatlah besar. 

Maka, bagi kami, sebagai penerus perjuangan para kiai dan santri Nahdlatul Ulama, menjadi kewajiban untuk mempertahankan NKRI, mempertahankan persatuan dan kesatuan dari rongrongan kelompok-kelompok yang anti-Pancasila dan NKRI.

“Di zaman ini kita tinggal enak nya saja. Tinggal mengisi kemerdekaan ini dengan hal hal yang positif. Tidak perlu angkat angkat sejata, bambu runcing,” katanya. 

Imam Hanafi mengatakan, lanjutnya, yang disebut dengan daulah islamiyyah itu, ketika pada suatu wilayah atau negara tidak ada intimidasi dalam hal beribadah. Tidak penting namanya itu apakah Indonesia, dasar negaranya Pancasila, atau hukumnya UUD, yang penting kita sebagai muslim bisa beribadah dengan aman, nyaman, dan tentram, itulah daulah islamiyyah.

Di akhir ceramah, Kiai Sa'dulloh mengimbau kepada seluruh Nahdliyyin agar tidak terbawa-bawa dengan kelompok anti-Pancasila. Ketika ada permasalahan yang berkaitan dalam hal beribadah, tanyalah pada ahlinya yaitu para ajengan, ustadz, juga kiai NU. (Syarif Hidayatulloh/Ayi Abdul Kohar/Abdullah Alawi) 

Salam Dari Jabar Buat DK : Memimpin Daerah Yang Kompleks Tidak Semudah Seperti Memimpin Satu Agama


BY MUHAMMAD SABRI ON APRIL 21, 2017POLITIK
Di masa saya sekolah dulu dan di berbagai percakapan sering sekali saya dapati orang-orang dewasa dan anak-anak kecil warga negara Indonesia menanyakan “kenapa yah Indonesia alamnya kaya raya letak negaranya strategis tetapi negaranya tidak maju dan penduduknya banyak yang miskin?”
Hari ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mayoritas warga Jakarta karena telah memberi jawaban kongkrit atas pertanyaan tersebut, jawaban yang membuat saya tidak perlu bingung lagi menjawabnya dengan berbagai teori sosiologis, ekonomis dan politis dan sebagainya. kali ini, jika saya mendapati ada orang yang mengajukan pertanyaan seperti itu, akan saya jawab “lihat pilgub DKI 2017”.
ya, pilgub kali ini memaparkan dengan sangat jelas kenapa negara Indonesia sampai detik ini tidak menjadi negara maju.
sebelum melangkah lebih jauh saya ingin mengutip sebuah hadits
“Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuranitu.” (BUKHARI – 6015).
Ya, terima kasih warga Jakarta, kalian telah menyerahkan urusan pemerintahan di provinsi anda yang menjadi barometer Indonesia kepada yang bukan ahlinya, sekali lagi terima kasih.
karena beberapa ayat yang diterjemahkan dan disalahgunakan secara SEMBARANGAN kalian telah ikut andil melakukan KEDZALIMAN terhadap jutaan orang. Kalian DZALIM, kalian DZALIM karena telah menyerahkan kepengurusan (sekali lagi, KEPENGURUSAN bukan KEPEMIMPINAN) ibu kota negara SAYA dan 250 juta orang lainnya kepada yang BUKAN ahlinya. Kalian DZALIM, ingat itu, KALIAN DZALIM.
Sekarang jelas sudah, kalian telah membuktikan kebenaran hadits Rasulullah diatas. Ini baru pilgub, berarti sangat besar kemungkinan kita kita menggunakan standar yang sama dalam pemilihan pemilihan lainnya. Wajar dunia politik kita kacau balau seperti sekarang ini. Terima kasih warga Jakarta.
Besok kejutan apa lagi yang akan diberikan warga Indonesia? Memilih orang yang mengurus negara ini karena panjang panjangan jenggot? Karena hitam hitaman jidat? Karena merdu merduan suara dalam melakukan tilawah Qur’an?
Jujur saya dulu sempat besar di lingkungan yang seperti itu, saya sempat mengalami 2 kali pemilihan gubernur Jawa Barat. Apa yang dibicarakan oleh orang orang sekitar saya mengenai Ahmad Heryawan yang waktu itu merupakan kandidat gubernur Jawa Barat? “Kang Aher hafal Qur’an”, “Kang Aher bisa baca kitab gundul”. Sekarang saya jadi ingat orang orang di sekitar saya dulu sama sekali tidak pernah membicarakan program, prestasi dan track record, mereka hanya meng elu elu kan keshalehan pribadi Ahmad Heryawan.
Hey, sesaleh apapun birokrat yang mengurus wilayah kalian, tidak akan memperbesar peluang kalian masuk surga SEDIKIT PUN, ingat itu. Se bejat apapun birokrat yang mengurus wilayah kalian juga tidak akan mengurangi kesempatan kalian untuk masuk surga SEDIKIT PUN.
Yang kalian lakukan hanya menghancurkan kesempatan kalian dan orang orang lain untuk menikmati pelayanan publik yang baik, pembangunan yang nyata dan kelegaan ekonomi yang akan menjauhkan puluhan juta bahkan ratusan juta orang dari kefakiran yang dekat dengan kekafiran. Peluang kalian masuk surga SAMA SEKALI TIDAK DIPENGARUHI oleh kesalehan kepala daerah kalian. Ingat itu dasar orang orang dzalim.
Ayat yang kalian salah gunakan itu bukan tentang pemilihan kepala daerah, ayat itu bukan tentang pemilihan gubernur, ayat itu bukan tentang pilkada. Tidakkah kalian mempelajari itu? Tidakkah kalian takut mempergunakan ayat Allah untuk agenda politik kalian? BELAJAR TAFSIR WOY! Jangan langsung percaya saja apa yang diteriakkan orang yang KELIHATANNYA mengerti agama. Gak semua pengkhotbah Jum’at yang kalian dengarkan mengerti apa yang mereka bicarakan.
Kepada saudara sebangsa dan setanah air yang tidak beragama Islam, saya tidak bisa membayangkan betapa kecewanya kalian dengan bangsa yang kemerdekaan dan kemakmurannya kita perjuangkan bersama sama ini. kalian bisa saja menjadi seorang lulusan S3 dari universitas paling unggul di dunia, meraih hadiah nobel, memiliki bergudang gudang prestasi, jujur, pekerja keras tapi dalam pilkada atau pilpres kalian bisa saja akan dikalahkan oleh orang yang buta huruf, tidak berpendidikan, tidak berpengalaman, korup dan pemalas asalkan seiman dengan mayoritas penduduk. Maafkan kondisi Indonesia yang seperti ini, maaf saudara saudara.
Oke, kedepannya apa yang kita cari? Orang yang paling merdu adzannya untuk jadi mentri keuangan? Orang yang bisa baca kitab gundul untuk jadi gubernur? Ahli tafsir untuk jadi mentri telekomunikasi? Orang yang jenggotnya paling panjang dan dahinya paling hitam untuk jadi presiden? Apa besok kalian akan memberikan kejutan lagi dengan membuat orang orang paling berprestasi dan cemerlang di Indonesia tidak bisa mendapatkan posisi strategis hanya karena tidak berjenggot, tidak bisa baca kitab gundul dan ngomong bahasa Arabnya belepotan? Terima kasih warga jakarta, kalian menjawab dengan sangat jelas kenapa Indonesia tidak maju maju sampai hari ini. Kalian telah membuktikan kebenaran hadits Rasulullah diatas, terima kasih.
Kenapa saya ngotot sekali mengenai hal ini, karena saya tidak pernah SEKALI PUN menemui pendukung Anies-Sandi yang mengatakan mereka memilih karena program, prestasi dan track record, TIDAK SEKALI PUN. terima kasih warga Jakarta.
Mulai besok jika saya atau anak anak saya bercita-cita menjadi presiden atau gubernur, akan saya sarankan mereka menghafal Qur’an dan bisa membaca kitab gundul seperti kang Aher. Karena ternyata itu yang dicari mayoritas orang Indonesia. percuma berprestasi dan berpendidikan tinggi, jujur dan pekerja keras, hal itu tidak pernah dibahas. belajar dari Aher, belajar dari pilgub Jakarta. Terima kasih warga Jakarta.
Sekarang saya tidak heran lagi kenapa Indonesia tidak maju maju sampai hari ini.
Terima kasih (sebagian besar) warga Jakarta.
Dari perbatasan provinsi ini....

KH Said Aqil Siradj: Sekarang ini Tiba-tiba ada Kelompok yang Bikin Kacau NU dan Indonesia


Jika ada orang Islam yang bikin kacau di Indonesia, bagaimana sikap Nahdliyyin? Pertanyaan itu sempat dilontarkan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj saat menjadi penceramah tunggal dalam Harlah NU ke 94 yang diselenggarakan PCNU Jepara di alun-alun 2 Jepara, Ahad (16/04/2017) siang.

Sekarang ini, kata Kiai Said, ada orang ajaib yang datang tiba-tiba. Mereka tidak ikut memerdekakan Indonesia, tidak ikut membangun bangsa, tidak ikut juga mendirikan pesantren, tidak membaur ke masyarakat, tidak pula ikut berdakwah ke kampung-kampung, tapi ujug-ujug menuduh musyrik, bid'ah, kafir, sesat dan neraka.

"Yang begitu membuat rusuh atau bukan?" Puluhan ribu hadirin serempak mengamini, mengiyakan. Bagaimana tidak, masyarakat yang sudah tenang dengan tahlilan, manaqiban, rejeban, selametan, syukuran, nuzulul qur'an, kok tiba-tiba dianggap bid'ah semua.

Al Murjifuna, yakni orang-orang yang bikin kacau, pembuat rusuh yang ada di Madinah, kata Allah "saya ijinkan kamu (Muhammad), serang mereka. Jangan biarkan mereka hidup di Kota Madinah, menjadi tetanggamu. Usir mereka!".

"sekarang kalau ada orang masuk ke Jepara, diapakan?" Pertanyaan Kiai Said itu dijawab berang-bareng, "Usiiiir" oleh ribuan peserta yang sudah sejak pagi menunggu undian kupon sepeda santai, memperebutkan hadiah utama Grand Max.

"Siapapun, termasuk HTI, yang bikin kacau, bikin resah, bikin konflik (usir)," tegas Kiai Said. 'Mereka bilang kalau apapun yang tidak dilakukan oleh Rasulullah itu bid'ah sesat. Padahal mereka pidatonya pakai Bahasa Indonesia, bukan bahasa Arab. Bid'ah tidaaak?" tanya Kiai Said sekali lagi, dan dijawab "Bid'ah".

Makanya, mereka yang mengikuti manhaj Nahdlatul Ulama akan mendapatkan dua hal, yakni semangat beragama dan juga semangat berbangsa. Mengapa? Karena kiai-kiai dulu, disamping mendakwahkan Islam juga ikut berkorban berjuang memerdekakan Indonesia. "Ratusan ribu kiai (jadi) syahid melawan Belanda," imbuh Kiai Said.

"Man mata liajli wathanihi mata syahidan, man khana li wathanihi, halalan damuhu walam yakuna kafiran/Barang siapa mati membela tanah airnya, mati syahid. Barang siapa berkhianat kepada bangsanya(Belanda), boleh dibunuh tapi tidak kafir," tambah Kiai Said menirukan ucapan Mbah Hasyim Asyari.

Kiai Said melanjutkan, keberhasilan dakwah Nabi itu bukan dengan cara ngacau dan pecicilan serta pethakilan. Jika ada yang bikin kacau dakwah Islam, kata Allah, usir! (Badri) [MM]

Klarifikasi Resmi atas Berita Fitnah Terhadap Ansor Maupun Banser Terkait Berita Bohong Dan Provokaso

PERNYATAAN SIKAP GP ANSOR TERKAIT FITNAH, BERITA BOHONG DAN PROVOKASI TERHADAP ANSOR MAUPUN BANSER

GP Ansor perlu menyatakan sebagai berikut:
1. Berdasarkan analisis dan pemantauan berita dan sosial media yang dilakukan di War Room Ansor, GP Ansor menemukan fakta-fakta adanya fitnah, berita bohong dan provokasi terhadap Ansor maupun Banser, terutama sejak GP Ansor dengan tegas menolak penyebaran ideologi HTI yang ingin merubah Pancasila, maupun ketegasan sikap GP Ansor untuk tidak mendukung siapa pun yang selingkuh dengan kelompok radikal.

2. GP Ansor menegaskan bahwa kami bukanlah organisasi politik, da dengan tegaknya nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, keutuhan NKRI, dan martabat konstitusi kita.

3. GP Ansor merasakan bahwa fitnah, berita bohong dan provokasi terhadap sahabat-sahabat Ansor maupun Banser, baik individu maupun organisasi semakin menggila menjelang Pilkada DKI ini, di mana fitnah, berita bohong dan provokasi itu berupa perobekan spanduk penolakan GP Ansor terhadap HTI - yang juga disebar di sosial media, berita bohong bahwa ada Ketua Cabang Ansor yang mengundurkan diri untuk kemudian memilih menjadi Ketua Pimpinan Wilayah FPI, dan terakhir, terkait berita bohong - yang berawal dari fitnah di sosial media bahwa sahabat-sahabat Ansor dan Banser melakukan penyerangan terhadap rumah Ketua FPI DKI Jakarta dini hari tadi.

4. GP Ansor menyatakan kekecewaan yang mendalam, mengutuk dan mempertimbangkan untuk melakukan langkah-langkah hukum terhadap media-media yang secara khusus menyebarkan berita bohong terkait penyerangan rumah Ketua FPI DKI Jakarta, karena berita tersebut tidak sesuai dengan etika dan kaidah jurnalistik yang berimbang (cover both sides) dan hanya mengutip cuitan sepihak di twitter tanpa verifikasi yang ketat.

5. GP Ansor sekali menegaskan bahwa TIDAK BENAR, sahabat-sahabat Banser menyerang rumah Ketua FPI DKI Jakarta dini hari tadi, dan menilai bahwa itu fitnah dan upaya adu domba untuk membuat Jakarta tidak kondusif menghadapi Pilkada esok hari.

6. GP Ansor memandang perlu untuk memberikan klarifikasi bahwa sahabat-sahabat Ansor dan Banser dini hari tadi sekitar jam 1 pagi, baru saja selesai melakukan Rapat Pleno di Konferensi Besar di Markas GP Ansor, dan mendapatkan laporan bahwa rumah cucu perempuan KH Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU dan juga Pahlawan Nasional, dikepung oleh gerombolan orang tak dikenal, namun patut diduga dari atribut-atribut yang dipakai berasal dari FPI.

7. GP Ansor berdasarkan laporan tersebut, sahabat-sahabat Banser di bawah koordinasi sahabat Ibadullah (Komandan Banser Riau) didampingi oleh aparat Kepoolisian melakukan pengawalan dan pendampingan cucu perempuan KH Wahab Chasbullah tersebut, yang dini hari itu menyelamatkan diri di Kantor Polres Jakarta Pusat untuk menghindarkan diri dari intimidasi dan hal-hal yang tak diinginkan, khususnya pasca adanya fitnah yang keji bahwa beliau membagi sembako sejak kemarin sore, agar bisa pulang kembali ke rumahnya dengan selamat.

8. GP Ansor perlu menegaskan bahwa saat pengawalan cucu perempuan KH Wahab Chasbullah tersebut, tidak ada seorang pun anggota Banser yang menyadari dan mengetahui bahwa di dekat lokasi tersebut ada markas atau rumah Ketua FPI Jakarta, maka sangatlah tidak mungkin sahabat-sahabat Banser melakukan serangan, hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Polda Metro Jaya bahwa tidak ada serangan terhadap Rumah Ketua FPI DKI (http://www.muslimoderat.net/2017/04/polda-metro-jaya-sebut-tak-ada-penyerangan-ke-rumah-ketua-fpi-dki.html#ixzz4eZyWxsKT) bahkan justru sebaliknya, sahabat-sahabat Banser justru diserang membabi buta dengan lemparan batu dan lain-lainnya, hingga akhirnya cucu perempuan KH Wahab Chasbullah dan sahabat-sahabat Banser yang mengawal beliau justru terpaksa terperangkap di dalam salah satu rumah di Gang Kramat Lontar tersebut selama kurang lebih satu jam.

9. GP Ansor memandang bahwa evakuasi perlu dilakukan segera untuk menyelamatkan cucu perempuan KH Wahab Chasbullah dan sahabat-sahabat Banser yang terperangkap tersebut, dengan cara berkoordinasi dengan pihak Kepolisian setempat, dan bukan dengan pengerahan massa serta main hakim sendiri.

10. GP Ansor sekali lagi menegaskan dan menyerukan kepada seluruh sahabat-sahabat anggota, kader maupun pengurus Ansor dan Banser untuk siaga satu komando, tetap mencintai republik ini, mengawal Pancasila dan kebhinnekaan, serta tidak tinggal diam terhadap semua fitnah, berita bohong dan fitnah. [muslimmoderat]
Lima Ciri Islam Sontoloyo Menurut Bung Karno

Lima Ciri Islam Sontoloyo Menurut Bung Karno

Juni adalah bulan Soekarno. Di bulan ia lahir dan wafat ini penting untuk kita mengingat kembali gagasan pendiri bangsa ini tentang Islam. Perhatiannya terhadap Islam begitu bergairah di zaman kemerdekaan. Berbagai gagasannya tentang Islam masih sangat relevan hingga kini.
Presiden pertama Indonesia yang akrab disapa Bung Karno ini mengedepankan esensi dan substansi Islam ketimbang simbol-simbol Islam yang kaku. Ia menyalakan, apa yang ia sebut sebagai, api Islam. Ia ingin menghidupkan kembali jiwa Islam sebagai ajaran universal sebagaimana visi etik Al-Quran dan sunah Nabi Muhammad.
Karena itu, ia menolak kecenderungan apa yang ia sebut sebagai masyarakat onta atau Islam Sontoloyo. Kecenderungan ini bukan hanya masih menggejala, bahkan kian menguat kini.
Sebagai pencetus Pancasila dan merumuskan nilai-nilainya, ia mengadopsi apa yang dilakukan Nabi Muhammad di Madinah sebagai petun­juk urusan menyusun dan membangkitkan masyarakat. Pancasila itu salah satu wujud bagaimana Bung Karno menerapkan visi etik Al-Quran dan sunah nabi itu.
Bung Karno mendalami Islam saat berada di Endeh. Bahkan menurut H.A. Notosoetardjo dalam Rakyat Bertanya Bung Karno Menjawab, ia menekuni pengetahuan Islam berawal saat dari Penjara Sukamiskin kemudian dilanjutkan dengan lebih intensif saat pembuangan di Endeh. Ia baru mulai mengeluarkan berbagai pendapatnya di media massa mengenai masalah-masalah Islam saat ia dipindahkan ke Bengkulu.
Dalam berbagai tulisannya tentang Islam itu tampak pengetahuan Bung Karno tentang Islam begitu luas dan mendalami persoalan. Selain melahap berbagai buku dari para ulama di berbagai negeri Islam, ia juga murid dari tokoh utama Sarekat Islam: Tjokroaminoto (Baca: Islam Progresif Tjokroaminoto).
Bisa dibilang, berbagai gagasannya tentang Islam ikut memberi landasan Islam Indonesia atau Nusantara.
Berikut lima ciri masyarakat onta atau Islam Sontoloyo yang menurutnya membuat Islam mundur dan konflik tak berujung di tengah masyarakat dan penghambat kemajuan bangsa.
  1. Royal Mencap Kafir
Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an) dan Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (1940), Bung Karno menulis kritik terhadap kecenderungan sebagian ulama dan umat Islam saat itu yang begitu mudah mencap kafir.
“Kita royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”. Pengetahuan Barat kafir; radio dan kedokteran kafir; sendok dan garpu dan kursi  kafir; tulisan Latin  kafir; yang bergaul dengan bangsa yang bukan bangsa Islam pun kafir!”
Menurut Bung Karno, yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, radio dan listrik, kemoderenan dan ke-uptodate-an berarti mereka mau tinggal dalam keterbelakangan, kuno, makan tanpa sendok, dan naik onta.
“Astagfirullah, inikah Islam? Inikah agama Allah?” tulisnya.
  1. Taklid Buta
Bagi Bung Karno, taklid itu seperti abu, debu, dan asap. Ia bukan api Islam. Islam tak lagi jadi agama yang boleh dipikirkan secara merdeka, tapi telah menjadi monopoli kaum fakih dan kaum tirakat.
“Hampir seribu tahun akal dikungkung sejak kaum Mu’tazilah sampai Ibnu Rusyd dan lainnya. Asy’arisme pangkal taklidisme dalam Islam. Akal tidak diperkenankan lagi. Akal itu dikutuk seakan-akan dari setan datangnya,” paparnya.
Mengutip Snouck Hurgronje, ia mengatakan ulama dari segala waktu terikat pada ucapan ulama terdahulu, masing-masing dalam kalangan mazhabnya. Syariat itu akhirnya bergantung kepada ijma’ dan tidak kepada maksud-maksud firman yang asli.
Padahal jelas, baginya, dua sumber utama Islam adalah Kalam Allah dan Sunah Rasul. Dari dua sumber ini pula para ulama mengambil kesimpulan hukum. Dari dua sumber utama ini pula kita mesti menyalakan api Islam.
Menurut Bung Karno, Al-Quran dan Hadits itu tidak berubah. Bahkan “teguh selama-lamanya, tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas.” Tapi pandangan masyarakat yang senantiasa berubah, berevolusi, dinamis, mengalir.
  1. Mengutamakan Fikih
Dalam Islam Sontoloyo (1940), Bung Karno menulis bahwa fikih bukanlah satu-satunya tiang keagamaan. Tiang utamanya ialah terletak dalam ketundukan kita punya jiwa pada Allah.
“Fikih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama. Belum dapat memenuhi syarat-syarat ketuhanan yang sejati, yang juga berhajat kepada tauhid, akhlak, kebaktian ruhani, kepada Allah,” tulisnya.
Menurutnya, Al-Quran dan api Islam seakan-akan mati karena kitab fikih itu sajalah yang dijadikan pedoman hidup, bukan kalam Illahi sendiri.
“Dunia Islam sekarang ini setengah mati, \tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sama sekali tenggelam dalam kitab fikihnyasaja, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya agama yang hidup.”
Hal itu tak berarti Bung Karno membenci fikih. Menurutnya, fikih tetap penting. Bahkan ia menyebutkan, masyarakat Islam tak dapat berdiri tanpa hukum-hukum fikih. Sebagaimana tiada masyarakat tanpa aturan perundang-undangan.
“Saya hanya membenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fikih, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja,” tulisnya.
Dengan mengutip Farid Wadji, Muhammad Ali, Kwada Kamaludin, Amir Ali, ia mengatakan bahwa alangkah baiknya di samping mempelajari fikih kita juga dengan sungguh belajar nilai dan visi etik Al-Quran.
Ini Bung Karno praktikkan, salah satunya saat anjing yang ia pelihara menjilat air di dalam panci di­ dekat sumur. Ia kemudian Ia pun meminta Ratna Juami untuk membuang air itu dan mencuci  panci itu beberapa kali dengan sabun dan kreolin.
“Di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin! Nabi s.a.w. sendiri telah menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak nyata haram atau makruh,” paparnya.
  1. Tak Melek Sejarah
 Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an), Bung Karno menulis, umumnya kita punya ulama dan kiai tapi tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarahnya. Mereka punya minat hanya tertuju pada agama, terutama pada bagian fikih. Tapi pengetahuan tentang sejarah umumnya nihil. Padahal sejarah adalah padang penyelidikan yang maha penting!
“Kebanyakan mereka tak mengetahui sedikitpun dari sejarah itu. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masayarakat yang menyebabkan kemajuan atau kemundurannya sesuatu bangsa. Sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian,” tulisnya.
Paling mujur, lanjut Bung Karno, mereka hanya mengetahui tarikh Islam saja. Dari tarikh Islam ini seharusnya mereka sudah dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. Tapi umumnya kita mempelajari hukum, kenal isi kitab fikih, mengetahui tiap perintah dan larangan agama hingga yang terkecil, tapi kita tidak mengetahui bagaimana cara Nabi, para sahabat, tabiin, khalifah menaafsirkan perintah dan larangan-larangan Allah di dalam urusan sehari-hari dan urusan negara.
“Kita sama sekali gelap dan buta buat di dalam hal menafsirkan itu oleh karena tidak mengenal tarikh,” imbuhnya.
Menurutnya, pelajaran terbesar dari sejarah adalah bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda di atas angkasa karena fikih tidak berdiri sendiri. Fikih disertai dengan tauhid dan etiknya Islam yang menyala-nyala. Fikih  hanyalah “kendaraan” saja.
Kendaraan ini dikusiri oleh rohnya etik Islam serta tuhid yang hidup. Dengan fikih yang demikian itulah umat Islam menjadi cakrawati (pucuk pimpinan) di separuh dunia!
Dengan mengutip Essad Bey, Bung Karno mengatakan, jia kedudukan fikih begitu sentral  di situlah Islam membeku menjadi satu sistem formil belakang. Ia tiada bergerak lagi, ia mandek! Bukanlah saja mandek, fikih bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas hidup.
Jika pemuka dan umat Islam Indonesia tetap tidak mengindahkan pelajaran besar dari sejarahnya sendiri dan mengikuti jejak para pemimpin besar di negeri lain serta hanya berorientasi fikih, maka jangan harap umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai kekuatan jiwa hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang ini.
  1. Hadis Lemah sebagai Pedoman
Menurut sebagian ulama, hadis lemah (da’if) bisa dijadikan sumber hukum selama tak bertentangan dengan Al-Quran. Bagi Bung Karno sendiri, hadis lemah di antara yang menyebabkan kemunduran Islam.
“Saya perlu kepada Bukhari atau Muslim itu karena di situlah dihimpun hadis-hadis sahih. Walaupun dari keterangan salah seorang pengamat Islam bangsa Inggris, di Bukhari pun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Dia pun menerangkan, bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam banyaklah karena hadis-hadis lemah itu yang sering lebih laku daripada ayat-ayat Al-Quran. Saya kira anggapan ini adalah benar.”  ***
(Achmad Rifki)
Back To Top