Powered by Blogger.

CB Blogger Lab

PEMBACA

JASA SEO CB

Tanggapan Fadli Zon Yang Kekki Gara-gara Dapati Karangan Bunga 'Nyasar’ ke Gedung DPR

Tanggapan Fadli Zon Yang Kekki Gara-gara Dapati Karangan Bunga 'Nyasar’ ke Gedung DPR

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon
Sedang heboh-hebohnya karangan bunga yang dikirim ke Balai Kota, ada satu yang mampir ke kantor Wakil Rakyat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Bunga tersebut ditujukan untuk Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon. Tidak ada nama pengirim terpampang di karangan bunga tersebut. Hanya tertulis, Tim Pencitraan.
Di karangan bunga bercorak hitam, merah, putih, dan kuning itu tertulis kalimat “Dear Bapak Fadli Zon, Mohon titip bunga di sini ya!! Karena Balai Kota sudah penuh.”
Karangan bunga tersebut masih terkait dengan maraknya kiriman karangan bunga yang ditujukan untuk Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat pasca.
Fadli kemudian mengunggah foto karangan bunga yang ditujukan untuknya itu ke akun Twitter-nya, @fadlizon.
Lewat unggahan tersebut, Fadli mengucap terima kasih sekaligus mempertanyakan sosok di balik pengirim karangan bunga tersebut.
“Kepada Tim Pencitraan, saya ucapkan terima masih atas kiriman karangan bunganya untuk saya ke DPR, siapakah Tim Pencitraan?” tulisnya, Sabtu, 29 April 2017.
Tidak sampai di situ, Fadli kemudian melanjutkan cuitannya dengan pernyataan yang terkesan menyindir pasangan Ahok-Djarot yang kalah dalam pilkada DKI, dan sempat diterpa rumor melakukan kecurangan yakni membagikan paket sembako untuk meraih suara di sejumlah wilayah menjelang pencoblosan 19 April lalu.
“Daripada kirim karangan bunga, saya sarankan kirim saja sembako, lebih bermanfaat seperti sembako beberapa hari sebelum pilkada, bisa ribuan paket sembako,” cuitnya.
Sebelumnya, Fadli juga mengungkapkan pernyataan kontroversial terkait membanjirnya rangkaian bunga yang mengalir untuk Ahok-Djarot di Balai Kota. Ia mengatakan bahwa fenomena tersebut adalah pencitraan murahan.
“Saya rasa masyarakat sudah tahulah. Itu bisa bukan efek positif yang didapat, tapi efek negatif, apalagi kalau ketahuan sumbernya itu-itu juga. Jadi pencitraan murahan,” kata Fadli di gedung MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (26/4/2017).
Hingga total karangan bunga yang sudah ada di Balai Kota mencapai 3.500 lebih. Karangan-karangan bunga tersebut dikirimkan oleh simpatisan Ahok-Djarot sebagai wujud ungkapan terima kasih sekaligus dukungan. JP

Marah Dan Kecewa; Tak Dapat Kiriman Bunga , Sindiran Pedas Deddy Corbuzier Buat Anies-Sandi


Deddy Corbuzier kembali mengeluarkan video sindiran.

Kali ini video tersebut seolah menyindir tentang pertandingan yang baru saja selesai.

Video tersebut dia unggah di akun Instagram pribadinya @mastercorbuzier.

Video yang diunggah pada Jumat (28/04/2017) diberi judul Kenyataan Kadang Menyakitkan.

Adegan tersebut memperlihatkan Chika Jessica yang mencari Deddy keruangannya.

Namun ternyata bos dari Chika tersebut tidak ada.

Deddy pun tiba-tiba muncul dan marah-marah.

Bapak satu anak ini marah dikarenakan dirinya telah berhasil memenangkan pertandingan tetapi tidak ada yang memberikan ucapan selamat.

Bahkan dirinya juga tidak mendapatkan karangan bunga sama sekali.

Chika kemudian memberitahu bosnya tersebut kalau ada karangan bunga yang sangat banyak.

Namun karangan bunga tersebut bukanlah untuk Deddy, melainkan untuk lawannya yang kalah.

Chika juga mengatakan kepada Deddy mungkin saja masyarakat tidak peduli meskipun dirinya menang.

"Pak, pak bos lagi apa?" tanya Chika Jessica. "Saya lagi bingung. Saya kan menang pertandingan kemarin, tapi enggak ada yang kasih selamat, enggak ada yang kasih karangan bunga sama sekali," timpal Deddy Corbuzier.

"Oh ada pak, banyak karangan bunga. Tapi enggak dikasih di sini pak," lanjut Chika Jessica.

"Dikasih kemana?" ujar Deddy Corbuzier. "Kasih ke lawan bapak yang kalah. Soalnya mungkin mereka enggak peduli meski bapak menang," tambah Chika Jessica.

"Damn its HURT!!! . Gw yang menang main BOLA Die yg BEKEN!! Tag temen km YANG NGERTI :) .

#menangMainBola #mybossandme #komedicerdas #SarcasmComedy #Thisishowcomedyshouldlooklike #MichaelJackson #ahok #taufiksavalas #triomacan #deddycorbuzier #chikajessica makan yuuuk."

Para netizen yang melihat video ini pun langsung paham kepada siapa sindiran tersebut ditujukan.

Namun tentu saja mereka menanggapinya dengan penuh canda karena video tersebut memang merupakan video komedi.

@ardina_putri86 : "Om @mastercorbuzier ide2nya selalu brillian lhohh...elite dan selalu bikin semua org penasaran."

@muhammad_allenr : "Hahhahaha.. bunga untuk orang kalah.. hahahhaa."

@gexyulia99 : "Mungkin pada gak peduli meskipun bapk menang.... Klw aku nangissss lgsg udh menang dlm proses yg sangat cpek, menghalalka. Segala cara ehhhh malah gak dipeduliin.... Mending kalah...."
baca juga;

[Sri Mulyani: Ini Masalah Anies Diberhentikan Dari Jabatan Menteri , Pak Anies Jangan Pura-pura Tidak Tahu]

@selimalselina : "Aq ngerti mksudnya om,,kena banget yah om @mastercorbuzier." [topnet]
Sama-sama China,Sama-sama Kristen AHOK di Benci HARY TAN (mualaf??) di Sanjung-sanjung

Sama-sama China,Sama-sama Kristen AHOK di Benci HARY TAN (mualaf??) di Sanjung-sanjung




Mulai ramai beredar kasak kusuk di berbagai media sosial, isu tentang Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo (HT) yang kini telah menjadi seorang Mualaf. Isu tersebut disinyalir bermula dari keterlibatan HT secara langsung dalam kampanye pemenangan paslon Anies Sandi, yang sekaligus mendekatkan lagi hubungan antara Prabowo dengan HT. Pada Pilpres tahun 2014, HT sempat menggandeng partai Hanura dengan menawarkan ke publik paket hemat (pahe) Capres dan Cawapres dengan slogan ‘Win HT’ atau Wiranto-Hary Tanoe. Sayangnya walaupun sangat gencar beriklan, terutama di rangkaian stasiun TV milik HT, sampai pernah masuk ke salah satu episode sinetron ‘Tukang Bubur Naik Haji’, pahe tersebut gagal secara menyedihkan. Malah perolehan suara partai Hanura anjlok ke angka 5% saja. Sangat mengenaskan Sumber: Detik.

Kembali ke isu HT menjadi mualaf. Setelah gonjang-ganjing penolakan Cagub petahana Ahok yang non muslim dan beragama Kristen pada Pilkada Jakarta yang sarat intimidasi bernuansa SARA, dari mulai penolakan pemimpin non muslim berdasarkan surat Al Maidah ayat 51, menolak mensholatkan saudaranya sesama muslim yang mendukung pemimpin non muslim, memunafikkan sesama muslim yang mendukung pemimpin non muslim, dan lain-lain. Semua aksi tersebut bukan main-main, pengerahan massa besar-besaran melalui demo berjilid memakai nomor cantik berbuntut, spanduk-spanduk yang menyebar seantero Jakarta, sampai kotbah di Mesjid-mesjid sampai ke pelosok Jakarta.

Dari keseluruhan aksi di atas, menjadi lumrah jika HT yang sudah jelas-jelas berambisi menjadi ‘Pemimpin negeri’… eits ini bukan gosip ya, HT sendiri yang menuliskan di sms yang ditujukan kepada Jaksa Yulianto yang menangani kasus dugaan korupsi pajak Mobile 8 awal tahun 2016. Berikut kutipannya:

“Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah, siapa yang benar. Siapa yang profesional siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasan itu tidak akan langgeng, saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional, yang suka abuse of power.Suatu saat saya akan jadi pimpinan negeri ini, di situlah saatnya Indonesia akan berubah dan dibersihkan dari hal hal yang tidak sebagaimana mestinya. Kasihan rakyat yang miskin makin banyak sedangkan yang lain berkembang dan makin maju.” Sumber: Detik2

Menjadi dilema tersendiri bagi HT yang juga merupakan keturunan Tionghoa dan beragama Kristen, persis sama seperti Ahok. Jika nanti pada saatnya, misalkan HT benar mencalonkan diri menjadi Cawapres pada tahun 2019, apakah FPI, FUI, GNPF-MUI, PKS, dan kawan-kawan akan pura-pura tutup mata dan mengamini saja? Apa kata dunia? Jalan satu-satunya, yang paling aman, memang jika HT memilih berganti agama, dan menjadi seorang mualaf.

Karena itulah sepertinya mulai santer berkembang isu tentang HT menjadi mualaf di media sosial, terutama Twitter. Berikut beberapa contohnya:

@ryan_nus: Pilpres 2019: Prabowo-Hary Tanoe, Jokowi-Sri mulyani. Note: HT jadi mualaf, SMI diserang ayat pemimpin wanita

@Ryan58827075: @harytanoe65 @Hary_Tanoe mualaf karna lg pilkada bergabung dulu dgn FPI rizieq shihab sesuai kebutuhan lah

@Tilapia_NYC: Dari mesjid At Tin nampak cikal bakal Indonesia 2019, wajah2 penampakan. Aplgi issue berkembang @Hary_Tanoe bakal jd mualaf. #janganjangan
Berikut beberapa screenshot kicauan tentang isu HT menjadi mualaf di jagad Twitter:







Tapi setelah saya mengecek kebenarannya, isu tersebut adalah hoax. Setidaknya sampai saat saya menuliskan artikel ini, HT belum mualaf.

Jadi menurut saya, ada tiga kemungkinan mengapa beredar isu tersebut:
Tim penasehat politik HT sengaja melempar isu tersebut ke netizen, to test the water. Untuk mengetahui bagaimana kira-kira respons masyarakat, positif atau negatif? Hal ini lumrah dilakukan di dunia politik, terutama jika hendak mengambil suatu kebijakan.
Isu tersebut timbul begitu saja tanpa disengaja, darimana asalnya, apa tujuannya, tidak jelas, murni hoax.
Isu tersebut sengaja dilempar oleh lawan politik atau siapa saja yang bersebrangan dengan HT. Isu sensitif berkaitan dengan agama, yang berpotensi menimbulkan gesekan, sehingga HT dan sebagian netizen yang mempercayai isu tersebut kena getahnya.

Beginilah repotnya jika membawa isu agama ke ranah politik. Sekali diterapkan, sulit untuk ditarik kembali. Nanti orang-orang mau bilang apa? Senjata makan tuan.

Isu HT menjadi mualaf, jika sampai suatu saat menjadi kebenaran. Sebaiknya kita ambil sisi positifnya saja, karena setiap agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan. Walaupun tentu keputusan menjadi mualaf itu sebaiknya karena memang benar telah mendapatkan hidayah dari Allah.

Lalu bagaimana jika keputusan menjadi mualaf dilakukan HT semata-mata demi memuluskan karier politiknya? Demi jualan ‘PraboTan’ untuk Pilpres 2019 misalnya? Pada dasarnya, walaupun saya tidak setuju, tapi tetap menghormati keputusan itu. Karena menurut saya, agama adalah urusan pribadi antara seseorang dengan Allah Tuhan YME, yang pada saatnya nanti akan dipertanggung jawaban oleh masing-masing individu. Kesimpulannya, agama seseorang tidak akan berpengaruh pada pilihan politik saya.

Menarik untuk dilihat nanti, apa kira-kira langkah yang akan diambil HT? Only time will tell... [seword]
Belum Dilantik Ko Sudah Sibuk Ngatur dan Ributin Soal APBD

Belum Dilantik Ko Sudah Sibuk Ngatur dan Ributin Soal APBD





Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjelaskan soal sistem password e-budgeting Pemprov DKI. Dengan adanya password rangkap ini, Ahok ingin tidak ada yang bisa seenaknya mengganti anggaran.

“Sistem e-budgeting semua jalan kecuali gubernur tidak mau atau gubernur perintah Bappeda untuk melanggar. Saya yakin kalau Bu Tuty (Kepala Bappeda) tidak diganti sebagai Bappeda pasti aman, kecuali Bu Tuty dicopot atau gubernur perintahkan nggak mau, atau gubernur nggak berani melawan DPRD, DPRD nggak mau kayak kasus 2015. SKPD yang bandel nggak mau dipecat oleh gubernur itu kejadian kayak tahun 2014,” kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (25/4/2017).

Sistem e-budgeting yang menggunakan password ini, dikatakan Ahok, untuk mengunci input data yang diisi oleh SKPD. Ahok ingin tidak ada yang bisa dengan seenaknya mengubah anggaran yang telah ditetapkan melalui e-budgeting ini.


“Ini kan betul ada kunci. Ada kunci maksudnya kamu nggak bisa ubah-ubah, ada password. Tapi kalau yang mau yang nyolongnya pegang password kan gimana, kan itu kan perintah gubernur. Makanya saya bilang, Gubernur DKI tuh sederhana, kamu berani pecat orang nggak yang nyolong,” ujarnya.

Pada 2014, banyak SKPD yang tidak mau mengisi dalam e-budgeting tersebut, sehingga banyak dipecat oleh Ahok. Pada 2015, Ahok bercerita sistem tersebut diisi oleh SKPD, tapi DPRD tidak mau tanda tangan. Pada 2016, akhirnya semua setuju mengikuti sistem ini. Dengan sistem ini, Ahok mengaku lebih mudah mengontrol APBD dan program.

Disisi lain, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menjawab wartawan terkait dengan kemungkinan APBD DKI dibongkar lagi setelah dipastikan adanya pergantian pimpinan di Balai Kota DKI.

“Kami dengan Pak Gubernur Basuki Tjahaja Purnama punya tanggung jawab sampai Oktober 2017. Sebab itu, kita kunci APBD supaya tidak dibongkar. Semua program akan tetap berjalan,” kata Djarot di Balai Kota DKI, kemarin.

Mantan Wali Kota Blitar tersebut yakin program yang sudah direncanakan tetap berjalan karena juga didukung DPRD DKI.

“Kami menjaga hubungan baik dengan DPRD DKI. Sebagian besar teman kami di partai. Ketua DPRD juga dari PDI Perjuangan. Jadi kami akan berkoordinasi dengan DPRD DKI memastikan apa yang kami programkan itu bisa tetap diteruskan,” tuturnya.

Semua ini jelas terlihat, bahwa APBD yang dikunci adalah untuk menghindari dari tangan-tangan hitam, dan memang objektif jika pemimpin pemprov petahana belum memberikan kuncinya, karena masa jabatan mereka masih 6 bulan lagi, yang berarti masih banyak yang perlu dikerjakan dan meneruskan program.

Prabowo Subianto yang merupakan Ketua Partai Gerindra sekaligus mengusung pasangan no 3 Anies-Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, mengungkapkan untuk bertindak jika Ahok masih tetap menahan password APBD.

“Kami berharap Gubernur yang saat ini masih menjabat tidak mempersulit gubernur terpilih yang baru yakni Saudara Anies Baswedan. Kami tidak akan diam Jika dihalang-halangi, kami akan tindak tegas”. ungkap Prabowo.

Mengenai program apa saja yang bisa disinergikan dengan Anies Baswedan selaku penguasa baru, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku belum membahas secara rinci apa saja yang akan masuk Rancangan APBD 2018.

Namun, dari semua program, ada satu yang sama, yaitu kartu lansia atau program hari tua. Program tersebut diprioritaskan Ahok masuk APBD 2018.

“Saya sudah sampaikan program itu (kepada Anies) dan ternyata kami punya program yang sama.”

Ya tentu gak bisa, Anis-Sandi kan belum resmi menjabat dan belum pula dilantik. Masa belum apa-apa, sudah mulai main ngotot. Saya pikir hanya yang budek yang ngotot, seperti pelawak bolot.

Disisi lain program dari cagub-cawagub terpilih beredar kabar bahwa program mereka hendak dimasukkan ke anggaran APBD 2017 (yo mbok sing sabar toh pak, udah terpilih jadi sabarlah tunggu dilantik). Biarlah Ahok-Djarot menuntaskan kerjanya di sisa masa jabatan. Kan sudah dibilang Pak Ahok, kalau program tersebut diprioritaskan masuk APBD 2018. So, nyantai aja dulu.
Eh si bapak Prabowo malah sebut “…Kami tidak akan diam Jika dihalang-halangi, kami akan tindak tegas”. Yang menghalangi itu siapa? Semua ada proses dan ada prosedurnya, tidak bisa main ngotot dan memaksa kehendak. Ucapan-ucapan seperti ini bisa jadi bomerang.
Password APBD gak bakal ditahan, jadi tidak usah takut. Tunggu waktunya dan ikuti prosedur yang berlaku. Dilantik juga belum, lebih baik yang terpilih memikirkan untuk meloloskan sandera politik islam jika memimpin nanti, yang cukup memuakkan belakangan ini, serta merealisasikan janji-janji di masa kampanye, agar rakyat tak didustai. Ambisi nafsu berkuasa bukan hanya terlihat saat kampanye, terlihat juga saat sudah terpilih.

Referensi opini : Kabar dari detik dan pustaka.

Sabar bro, oktober nanti berakhir jabatan Basuki, so sabar ya. [seword]
Jaksa Agung Jawab Tudingan Fadli Zon soal Rekayasa di Tuntutan Ahok

Jaksa Agung Jawab Tudingan Fadli Zon soal Rekayasa di Tuntutan Ahok

Jaksa Agung M Prasetyo (Grandyos Zafna/detikcom)

Jakarta - Jaksa Agung Muhammad Prasetyo menanggapi tudingan Wakil Ketua DPR Fadli Zon terkait dengan dugaan rekayasa di balik ringannya tuntutan jaksa terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Fadli menilai tuntutan hukuman percobaan 2 tahun disengaja untuk meringankan Ahok.

Prasetyo pun menanggapi bahwa jaksa telah melakukan tugas sesuai dengan koridor. Dia meminta seluruh pihak dapat menghormati proses hukum yang sedang berlangsung.

"Biarkanlah hukum berjalan sesuai dengan koridornya sendiri," ujar Prasetyo ketika dihubungi, Kamis (27/4/2017).

Menurut Prasetyo, penegak hukum memang sudah seharusnya independen. Namun dia juga berharap semua pihak tidak menekan berdasarkan kepentingan masing-masing.

"Jadi jangan sampai ada suatu tuntutan supaya penegak hukum independen tapi di sisi lain ditekan. Itu kan seperti itu bentuknya, disuruh independen tapi ditekan untuk mengikuti kehendak dan kemauan mereka,"Jaksa Agung M Prasetyo

Sebelumnya, Fadli menyebut tuntutan jaksa itu meringankan Ahok. Dia menyebut tuntutan tersebut terlihat direkayasa.

"Saya sangat setuju dan saya termasuk sependapat bahwa tuduhan dakwaan jaksa itu sangat terlihat menguntungkan terdakwa. Tuntutan ya yang sekarang ini kelihatan direkayasa dan dipermudah, diperingan," kata Fadli kepada wartawan seusai acara pleno MUI di gedung MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (26/4).

Tuntutan jaksa terhadap Ahok, menurut Fadli, tidak sejalan dengan rasa keadilan masyarakat. Rasa keadilan masyarakat, ditegaskan Fadli, harus menjadi acuan dengan adanya gonjang-ganjing dan kegaduhan yang diakibatkan.

"Tiba-tiba nanti hukumannya hanya percobaan, dan dibebaskan. Saya kira ini membuat masyarakat tidak lagi percaya pada hukum, sementara pada kasus lain dengan yurisprudensi yang ada di hukum, seperti kasus Arswendo dan Musadeq," ucapnya.

Jaksa penuntut umum yang diketuai Ali Mukartono sebelumnya menuntut Ahok 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Jaksa menyebut Ahok terbukti melakukan tindak pidana yang ancaman pidananya diatur dalam Pasal 156 KUHP.

Ahok dalam pleidoi menegaskan tidak pernah menistakan agama atau menyebarkan kebencian terhadap golongan melalui pernyataan saat bertemu dengan warga di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Ahok yakin majelis hakim akan memutus perkaranya secara objektif dan adil.
(dhn/detik)
Media-media Asing Sorot Kekalahan Ahok atas Anies Baswedan

Media-media Asing Sorot Kekalahan Ahok atas Anies Baswedan




Pilkada Gubernur DKI Jakarta tidak hanya menarik perhatian masyarakat dalam negeri, tapi menarik perhatian dunia internasional. Sebagian besar pemberitaan berfokus pada kekalahan kandidat petahana, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, dari lawannya, Anies Baswedan.

Dengan mengaitkan pada kasus penistaan agama yang menjerat Ahok, mayoritas media-media asing tersebut menyebut Pilkada DKI sebagai pemilihan umum yang terpecah belah. Seperti dilaporkan CNN, Kamis (20/4/2017), media besar asal Amerika Serikat (AS) itu menuliskan judul ‘Jakarta governor concedes election after divisive campaign‘ dalam artikelnya terkait Pilkada DKI yang digelar pada Rabu (19/4) kemarin.

“Gubernur Jakarta Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama mengakui kekalahannya dalam pertaruhan pilkada, Rabu (19/4), ini mengakhiri apa yang disebut oleh salah satu surat kabar sebagai kampanye ‘paling kotor, paling terpolarisasi’. Kekalahannya ini kemungkinan akan dipandang sebagai kemenangan bagi kalangan muslim konservatif negara itu, yang sungguh-sungguh berkampanye melawan Gubernur Kristen beretnis China yang dikenal sebagai Ahok itu,” tulis CNN dalam artikelnya seraya menautkan link editorial surat kabar Jakarta Post bertanggal 18 April..

Media AS lainnya, New York Times (NYT), memberi judul ‘Jakarta Governor Concedes Defeat in Religiously Tinged Election’. NYT menyebut kekalahan Ahok ini sangat ‘menghancurkan’.

Dengan mengutip pengamat politik, Bonar Tigor Naipospos, yang juga Wakil Badan Eksekutif Setara Institute for Democracy and Peace NYT menyebut Ahok terkena dampak penggunaan agama sebagai senjata politik.

“Pengamat mengatakan Basuki tidak bisa pulih dari dampak yang diberikan kelompok Islamis yang menggunakan agama sebagai senjata politik, meskipun aturan pemerintahan yang berusia satu dekade melarang taktik semacam itu,” sebut NYT dalam artikelnya.

Adapun artikel Wall Street Journal (WSJ) soal kekalahan Ahok diberi judul ‘Islamist-Backed Candidate Ousts Jakarta’s Christian Governor’. “Pemilih di Ibu Kota menggulingkan minoritas Kristen, orang kepercayaan presiden, dalam pemilihan gubernur, menggantikannya dengan kandidat yang menunggangi gelombang dukungan Islamis garis keras yang telah membalikkan politik di negara mayoritas muslim terbesar di dunia itu,” tulis WSJ.

Sementara pada USA Today yang berjudul ‘Muslim voters oust Jakarta’s Christian governor’ menuliskan, “Pemilu pada Rabu (19/4) merupakan ujian bagi reputasi toleransi beragama di Indonesia.”

Media Inggris, BBC, juga membahas Pilkada DKI dalam artikelnya berjudul ‘Jakarta election: Christian governor concedes to Muslim rival’. Sedangkan media Al Jazeera memberi judul ‘Governor Ahok concedes Jakarta election to Baswedan’ dalam artikelnya.

“Baswedan, seorang politikus muslim yang berpendidikan tinggi, diuntungkan oleh serangan terhadap Purnama dengan meraup dukungan pemimpin religius konservatif dan tokoh beraliran radikal yang menentang pemilihan seorang non-muslim. Kampanye yang terpolarisasi telah memberikan panggung nasional bagi kelompok muslim konservatif Indonesia,” tulis Al Jazeera.

Adapun Reuters, media yang berkantor di London, Inggris, menyinggung kedatangan Wakil Presiden AS Mike Pence yang berdekatan dengan Pilkada DKI. “Pemilu digelar menjelang kunjungan Wakil Presiden AS Mike Pence, saat pemerintahan (Presiden AS Donald) Trump berupaya mencapai kekuatan kawasan dengan lebih terlibat di negara terbesar keempat di dunia dan negara mayoritas muslim terbesar tersebut,” demikian ditulis Reuters.
Jokowi: Api Sudah Sampai Di Depan Pintu Rumah Kita

Jokowi: Api Sudah Sampai Di Depan Pintu Rumah Kita




Oleh: Denny Siregar

Apa yang akan terjadi pada Pilpres 2019 nanti ?

Mari kita lihat bahwa pertarungan 2019 akan sama dengan 2014. Disana hanya akan ada dua kekuatan besar yaitu Prabowo dan Jokowi.

Kenapa begitu ? Apakah tidak ada calon lain selain mereka ?

Tentu ada. Tetapi tidak akan muncul atau dimunculkan. Karena memang disainnya adalah membangun dua kekuatan besar lalu membenturkannya.

Sebenarmya Pilgub Jakarta kemaren adalah contoh kecil Pilpres nanti. Isu-isu agama akan kembali dimainkan dengan menggunakan masjid-masjid. Kali ini temanya adalah Islam vs PKI.

Jokowi pelan-pelan akan di stigmakan sebagai PKI.

Meskipun serangan ini mungkin bukan serangan langsung ke pribadi beliau, tetapi ini akan menghantam orang2 disekitar beliau. Jokowi dikelilingi orang2 PKI, begitu isu besarnya. Dan genderang perang ini sudah dibangun mulai sekarang melalui ceramah, di masjid, pengajian dsbnya.

Prabowo akan memainkan kembali isu sebagai muslim, terutama ketika dibelakangnya dia adalah Islam garis keras yang tidak perduli siapa pemimpinnya yang penting yang mudah ditunggangi. Persis seperti Ahok, yang dicari adalah momentum kesalahan Jokowi dan dibangun untuk memunculkan demo-demo besar.

Kali ini untuk meluncurkan demo akan jauh lebih mudah. Penguasaan Jakarta dengan menangnya Anies Sandi adalah keuntungan utama. Masjid Istiqlal akan dijadikan sebagai simbol perlawanan dan memudahkan pendemo dari berbagai wilayah menginap disana.

Seperti Ahok juga, Jokowi akan dihadapkan pada dua pilihan simalakama.

Jika kalah, maka negara kembali akan dikuasai para mafia dan sistem yang sudah dibangun susah payah hancur seketika.

Jika menang, maka kemenangan itu tidak akan diterima lapang dada. Mereka akan berteriak, "Jokowi tidak mungkin menang kecuali main curang.." Persis pilgub Jakarta, kan ?

Beberapa partai yang awalnya berkoalisi dengan Jokowi dan PDIP akan pecah dan merapatkan barisan dengan Gerindra dan PKS. Terutama Golkar yang sekarang sedang terpecah dua. Juga PPP yang sudah merapat ke Gerindra. Nasdem liat-liat mana yang menguntungkan. Hanura tetap setia.

Pilpres 2019 akan menjadi pilpres terkeras yang kita lalui. Terutama karena disana banyak kepentingan yang saling berbenturan. Mulai penguasa, pengusaha, politikus dan tentara. Kemungkinan besar tentara akan mulai terpecah sesudah pilpres ini..

Ada yang bermain, ada yang memanfaatkan, ada yang mengamati dan yang paling berbahaya adalah yang menjadi penunggang setia.

Mereka yang nanti bertempur di pilpres, tidak sadar bahwa mereka sedang memainkan bola api besar yang panas sekali. Pikiran para politikus ini pendek, yang penting merebut kekuasaan tanpa melihat bahaya ke depan bahwa ada penunggan gelap di punggung mereka dengan jubah KHILAFAH.

Konsultan politik yang kemaren bermain permainan berbahaya dengan menggunakan masjid sebagai alat politik dan propaganda, juga tidak sadar bahwa ia sedang membangkitkan monster pelan-pelan.

Yang ada di pikirannya hanya uang dan bagaimana calon yang diusungnya menang. Tidak pernah berfikir bahwa apa yang dia lakukan itu suatu kesalahan besar yang akan disesalinya kemudian..

Semua elemen nasionalis harus duduk mulai sekarang dan memikirkan langkah apa yang harus dilakukan.

Sementara ini cuma Banser dan Ansor yang tampak aktif mencegat keberadaan HTI dimana-mana dengan logistik yang kurang. Belum lagi harus menghadapi FPI, FUI, MIUMI dan lain2 yang tidak kalah ganasnya..

Pemerintahan Jokowi sekarang ini memang kelhatan sekali berada pada posisi bimbang. Jika si Islam garis keras dihantam, mereka akan teriak HAM. Jika didiamkan, mereka merasa bahwa mereka mendapat peluang.

Si garis keras ini memang pengecut sekali.

Mereka selalu bersembunyi dibaik kata "Islam dan Muslim". Kalau diatas angin, mereka gagah berkoar, "Kami umat muslim mayoritas.." Tapi kalau terpojok tereaknya beda, "Sesama muslim bersaudara, jangan kami diadu domba dengan NU wahai syiah.."

Apa yang saya paparkan hanya berupa kemungkinan dengan melihat pola yang sama yang mereka lakukan di Suriah dan disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.

Semoga ini bisa menjadi perhatian kita bersama bahwa kemerdekaan itu tidak diberikan begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan sekuat tenaga..

Salam secangkir kopi...

(Sumber: dennysiregar,com)

Ahok Terkapar. Anies-Sandi menang dan kini 'Hangat' tertawa bersama 9 Naga. Nah lo ketahuan belangnya?



Kasihan Jamaah Mamat dan Mimin
Siapa sebetulnya yang menjadi pemenang dalam Pilkada Jakarta? Umat Islam? Bukan. Ormas-ormas Islam "garis unyu"? Juga bukan. Yang menang adalah kaum politisi dan pengusaha. Yang menang adalah "kaum elit"-nya, bukan "massa" atau "rakyat kecilnya".

Rakyat bawah, umat Islam di Jakarta khususnya, hanya diberi "permen" iming-iming "gubernur Islam", "Jakarta Syariah", "tiket masuk surga", dlsb. Ditambah bonus-bonus dunia fantasi seperti rumah 350 juta DP 0%, subsidi 3 M, ojek terbang, dlsb.

Yang memberi mereka "permen" itu tentu saja adalah para pimpinan ormas Islam yang rela memanipulasi agama, membajak ayat, dan menipu Tuhan demi kemenangan paslon mereka. Para pimpinan ormas itu tentu saja "perpanjangan tangan" dari para politisi dan pengusaha tadi. Para pemimpin ormas Islam hanya dipakai sebagai "pengumpul suara" dan penggerak massa karena mereka yang mempunyai akses ke massa bawah. Tentu saja bukan cuma-cuma mereka rela "bule-tekle" melakukan itu.

Maka, begitu "pesta" usai dan Anies-Sandi dinyatakan unggul, berpesta poralah mereka para pengusaha, politisi, lengkap dengan tim sukses oke-oce seperti foto di bawah ini. Yang satu sedang berpesta-pora di Leon Resto and Bar sambil berminum-minum ria, satunya lagi sedang berpesta pora sambil bermakan-makan ria dimana para pengusaha China-non-Muslim juga larut bergembira ria di dalamnya. Yang berbaju merah-hijau adalah ibu Sandi Uno (Syar'i banget, kan? he he).

Coba kalian perhatikan: dimana "jamaah Mamat dan Mimin"? Apakah mereka ikut makan-minum dalam pesta? Mereka teriak-teriak kapir-aseng setiap hari, kehujanan-kepanasan demo berjilid-jilid, memaki sana-sini sampai lambene ndower, tapi giliran "pesta" usai, ya sudah selesai juga nasib Mamat dan Mimin. Mereka ditinggalkan.

Jamaah Mamat dan Mimin sepanjang massa dikadalin dan dikibulin oleh para elit politik, elit agama, dan elit bisnis. Kampanye "Jakarta Syariah" hanyalah jargon, kampanye "gubernur Muslim" hanyalah modus dan alat propaganda, dan "tiket masuk surga" tentu saja adalah "gombal mukiyo". Tapi rupanya jamaah Mamat dan Mimin suka dengan semua ini sehingga membuat mereka "sakauww" alias mabuk kepayang.

Para politisi dan pengusaha tahu karakter jamaah Mamat dan Mimin di Jakarta yang memiliki sentimen etnis-agama yang tinggi dan gampang dimainin dan diprovokasi dengan isu-isu murahan dan berita-berita manipulatif seperti "China-kapir" di belakang Ahok. Padahal "China-kapir" di belakang Anies-Sandi berjibun yang turut melawan Ahok karena ladang-ladang bisnis mereka terancam. "Para naga" itu justru di belakang Anies-Sandi. Atau, kampanye Anies-Sandi sebagai "figur Islami"? Islami dari Hong Kong?

Mari kita turut bersimpati kepada jamaah Mamat dan Mimin yang selalu menjadi korban politik kotor dan perselingkuhan kaum elit politik, bisnis, dan agama. Tapi jamaah Mamat dan Mimin itu memang antik: dikasih tahu begini eh malah marah-marah, ngamuk, ngumpat-ngumpat dan menuduh kapir-liberal, antek aseng-asong. Karena itu, saya sering bertanya-tanya: Mamat dan Mimin itu berasal dari species apa sih?

sumber tulisan: Sumanto Al Qurtuby
Ahok kalah di Pilgub DKI 2017 karena tinggalkan Teman Ahok?

Ahok kalah di Pilgub DKI 2017 karena tinggalkan Teman Ahok?

Anies Baswedan temui ahok di Balai Kota. ©istimewa

Founder Rumah Perubahan, Rhenald Kasali menilai kekalahan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok disinyalir karena 'meninggalkan' relawan setianya, Teman Ahok. Menurut Rhenald, relawan sangat berperan penting dalam kontestasi politik.

Dia memberi contoh, ketika Joko Widodo (Jokowi) menang dan menjadi presiden dalam Pilpres 2014 lalu, relawan yang berperan besar bukan partai. Begitu juga Ahok, lanjut Rhenald, ketika mantan Bupati Belitung Timur itu berpaling ke partai, pemilihnya melemah.

"Sudah ada Teman Ahok, (Ahok malah) masuk partai katanya disuruh, apa akibatnya?" ujar Rhenald pada acara peluncuran buku 'Disruption' bersama Asosiasi Penulis dan Inspirator Indonesia (ASPIRASI) di Rumah Perubahan, Bekasi, Minggu (23/4).

Dalam hitung cepat, pasangan Ahok- Djarot kalah dari pasangan Anies-Sandiaga. Menurut penghitungan real count KPU, Ahok-Djarot memperoleh suara sebesar 2.351.438 suara atau 42,05 persen, sementara pasangan Anies-Sandiaga memperoleh 3.240.379 suara atau 57,95 persen dari total suara sah yakni 5.591.817 suara.

Rhenald menilai partai politik itu disrubtif atau ganggu.

Dalam hal ini, lanjut Rhenald, ada lawan yang tidak kasat mata dan tak mudah menghadapinya. "Siapa itu lawan tak kelihatan? media yang bukan teman-teman (media mainstrem), yang semua orang menjadi media yang menulis sendiri yang semua orang menjadi wartawan, itu lawan-lawan tak kelihatan," tegas dia.

Hal itu dijabarkan dalam buku setebal 497 halaman tersebut. Buku itu mengupas tentang ancaman kehancuran bagi pebisnis, politik, birokrasi, dan lainnya karena menggunakan pemikiran-pemikiran lama. [ded]merdeka
Investigasi Allan Neirn, Prabowo Subianto Ancaman Rezim Otoriter Jinak

Investigasi Allan Neirn, Prabowo Subianto Ancaman Rezim Otoriter Jinak


Pilkada DKI Jakarta 2017 telah usai. Pesta demokrasi rakyat DKI Jakarta mewariskan sejarah bagi anak cucu kelak bahwa Pilkada DKI Jakarta di tahun 2017 ini adalah pilkada terkotor sepanjang sejarah yang pernah dialami oleh bangsa ini.

Kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno adalah bentuk dari matinya demokrasi di negeri ini akibat ingkat ketegangan dan ketakutan-ketakutan imajiner yang sengaja dibuat selama masa kampanye dan hari H pencoblosan.

Sejarah membuktikan bahwa pemimpin yang lahir dari ketakutan rakyat tidak akan pernah melahirkan kepemimpinan yang bagus. Kepemimpinan Presiden Soeharto adalah bukti sahih yang tidak terbantahkan.

Melalui cara-cara otoriter lunak, kemenangan Anies-Sandi dalam pilkada DKI Jakarta 2017 telah membuka jalan yang lebar bagi Prabowo Subianto dan para afiliasi politiknya serta para pejuang oposisi jalanan menerapkan pola paket yang sama dalam agenda pilpres 2019 mendatang.

Pola dan cara-cara yang sama akan diterapkan dalam pilpres 2019 dengan memberdayakan ormas radikal, tudingan racun neo komunisme dan neoliberal terhadap pemerintah, menciptakan ketakutan dan keresahan, serta menunggani agama dalam politik praktis untuk mempengaruhi psikologi massa. Suka tidak suka, ini sudah berhasil diterapkan dalam pilkada DKI Jakarta 2017 ini.

Sisi Gelap Pemikiran Prabowo Subianto

Allan Nairn adalah seorang Jurnalis khusus investigasi yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk berjuang menentang kebijakan-kebijakan Amerika Serikat yang menghisap dan membunuh orang-orang sipil di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Hampir 20 tahun lamanya ia meleburkan dirinya dalam perjuangan rakyat di Timor Leste, Papua Barat dan Aceh. Sepak terjangnya membuat almarhum mantan Presiden Soeharto murka dan melarang Allan Nairn masuk ke Indonesia karena dianggap sebagai musuh negara dan ancaman bagi keamanan nasional.

Demi kepentingan sisi kemanusiaan, Allan Nairn mengungkapkan sisi gelap pemikiran Prabowo Subianto melalui wawancara tatap muka mereka pada tahun 2001 yang silam di kantor salah satu perusahaan milik Prabowo Subianto di Mega Kuningan, Jakarta Pusat.

Dalam wawancara eksklusif yang berdurasi 4 jam itu, Prabowo Subianto menjelaskan dengan meledak-ledak bahwa bangsa ini belum siap untuk hidup berdemokrasi karena terlalu banyaknya ragam suku, agama dan ras. Oleh karena itu bangsa ini membutuhkan suatu sistem pemerintahan yang efektif berupa rezim otoriter yang jinak.

Prabowo Subianto juga berbicara panjang lebar tentang fasisme, demokrasi, kebijakan membunuh dalam tubuh militer, hubungannya dengan Pentagon dan intelijen Amerika, serta menyinggung mantan Presiden RI Gus Dur.

Dalam wawancara itu, Prabowo menyebutkan bahwa bahwa hal yang memalukan bagi militer tunduk pada Presiden yang matanya buta. Bukan hanya melontarkan hinaannya terhadap Gus Dur, Prabowo Subianto bahkan pernah mengancam akan menembak Gus Dur.

Dalam buku yang ditulis oleh H. Muhammad Zaki, “Gus Dur Presiden Republik Akhirat”, Prabowo Subianto yang saat itu menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus melontarkan ancaman kepada Gus Dur karena kerap mengkritisi pemerintahan Presiden Soeharto saat itu.

“Sampaikan pada Gus Dur, kalau tetap berkoar-koar seperti itu, saya punya 100 Snipper (penembak jitu) yang siap membuangkan Gus Dur”

Gus Dur menanggapi ancaman Prabowo kala itu dengan santai. “Kalau benar Prabowo bilang begitu, tolong tanyakan kepadanya, Prabowo agamanya apa? Kalau dia menjawab Islam, tolong tanyakan nyawa itu milik siapa?”

Sadis memang. Bukan tidak mungkin hal yang sama jika pada pilpres 2019 mendatang Prabowo Subianto berhasil memenangkan pilpres seperti kemenangannya yang telak pada pilkada DKI Jakarta 2017 ini. Saya tidak bisa membayangkan negara ini akan jadi apa jika ditelisik dari kepribadian Prabowo Subianto yang keras, pemarah dan cenderung otoriter, diktator, kejam dan bengis.

Yang jelas sistem pemerintahan yang dijalankan akan cenderung otoriter, militeristik dan fasis. Pola pemerintahannya akan membawa kembali bangsa ini ke genggaman penguasa tirani yang bahkan tidak menutup kemungkinan bisa lebih kejam daripada rezim Soeharto.

Dalam wawancaranya Allan Neirn kala itu, Prabowo Subianto mengidolakan sistem pemerintahan seperti yang dianut Presiden Pakistan Perves Musharraf yang fasis dan diktator.

Bukan hanya itu saja, Prabowo Subianto bahkan juga mengajari cara yang efektif bagi militer untuk membantai warga sipil. Sisi gelap pemikiran Prabowo Subianto itu terungkap setelah dipancing Allan Nairn mengenai tragedi santa Cruz, Timor Leste. Kepada Allan Nairn, Prabowo Subianto memberitahu bahwa untuk membantai warga sipil harus dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, bukan dengan cara mengumbar tembakan ditengah kota.
Prabowo Subianto menyebut bahwa militer Indonesia kala itu bodoh karena membantai warga sipil tanpa perencanaan yang matang. Seharusnya mereka membantai di desa-desa terpencil sehingga tidak diketahui oleh siapa pun, bukan di tengah ibu kota provinsi. Prabowo Subianto marah karena akibat kelalaian militer Indonesia tanpa perencanaan pembantaian yang matang, seluruh dunia jadi tahu kekejaman mereka.

Peluang Prabowo Subianto Menuju Kursi Orang Nomor Satu di Negeri Ini


Prabowo Subianto adalah mantan militer yang tangguh. Kekalahannya pada pillres 2014 yang lalu tidak serta merta membuatnya pantang menyerah begitu saja. Peluang Prabowo menuju kursi orang nomor satu di negeri ini cukup besar jika rakyat kecil tidak diberi asupan informasi yang benar sejak dini tentang karakter Prabowo Subianto yang sesungguhnya.



Keberhasilannya dalam pilkada DKI Jakarta 2017 ini adalah contoh nyata keberhasilan strateginya menyetir pemahaman politik rakyat kecil. Selain itu, Prabowo Subianto juga memiliki kekuatan pendanaan yang kuat.

Selain sebagai pengusaha yang punya hubungan dengan jaringan multinasional, Prabowo Subianto juga disokong penuh oleh adiknya, Hasyim Djojohadikusumo, seorang bilyuner dan merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia yang memiliki hubungan yang kuat dengan korporasi multinasional.

Selain itu, Prabowo Subianto juga menguasai ormas-ormas radikal, para pejuang oposisi jalanan, strategi militer yang efektif, serta kekuatan stasiun-stasiun TV yang dimiliki oleh para konglomerat oligarki untuk mengatur arah konten politiknya.

Prabowo Subianto juga adalah seorang orator yang handal yang menampilkan sosok sebagai sebagai seorang pengayom rakyat miskin dan orang yang tidak akan tunduk pada aseng (Baca: kekuatan asing).

Ini adalah fakta karena selama ini Indonesia dieksploitasi pihak asing selama puluhan tahun dimana rakyat kecil adalah pihak yang paling terkena imbasnya. Fakta-fakta inilah yang harus diwaspadai sejak dini sebelum semuanya terlambat.
Sikap Otoriter Prabowo Subianto, Bahaya Bagi Demokrasi NKRI

Selain kesaksian Allan Neirn, ada juga kesaksian Wiranto dalam bukunya “Dari Catatan Wiranto-Bersaksi di Tengah Badai”, Sintong Panjaitan dengan bukunya “Perjalanan Seorang Prajurit Komando”, B.J. Habibie dengan bukunya “Detik-detik yang Menentukan”, semuanya mengarah ke hal yang sama mengenai sisi kelam karakter Prabowo yang keras dan otoriter.

Ketika masih dalam pendidikan di Akademi Militer di Magelang, Prabowo Subianto pernah memukul SBY sampai babak belur karena menganggap SBY telah melaporkan dia ke atasan mereka saat itu, Sarwo Edhi Wibowo (ayah Ani Yudhoyono). Saat itu Prabowo bersama beberapa rekannya diam-diam keluar dari asrama mereka di Magelang, lalu ke Jakarta untuk bertemu dengan Titiek Soeharto, putri ke-empat Presiden Soeharto, yang saat itu dipacarinya.

Hal ini disampaikan oleh Hermawan Sulistyo, yang menjadi Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk kasus Kerusuhan Mei 1998. Hermawan juga menceritakan ketika ditemukannya mayat-mayat aktivis yang muncul satu per satu ke permukaan laut di sepanjang jalur Kepulauan Seribu sampai ke wilayah perairan Lampung di lepas Pantai Kalianda.

Menurut Hermawan hanya karena kebesaran Allah yang membuat mayat para aktivis itu bisa muncul ke permukaan laut, padahal kaki mereka semua sudah dirantai dan diberi pemberat. Tim TGPF juga menemukan satu mayat di Cemeru Sewu, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan luka tusukan bayonet di lambungnya.

Tantangan Allan Nairn dan Prabowo yang Membisu

Meskipun wawancara dengan Prabowo Subianto saat itu sudah terjadi kurang lebih 16 tahun yang lalu, namun sampai saat ini tidak ada perubahan pada karakter Prabowo Subianto. Sungguh tragis apabila masih saja ada rakyat Indonesia, yang karena ketidaktahuannya, tanpa sadar terhipnotis dengan ketokohan seorang Prabowo Subianto.

Tantangan Allan Nairn untuk dikonfrontir dengan Prabowo di depan Pengadilan pun tidak berani diladeni Prabowo. Padahal tidak sedikit rakyat Indonesia yang tidak percaya dengan apa yang diungkapkan Allan Nairn dari hasil wawancara mereka.

Bagi para pendukung fanatik Prabowo Subianto mungkin akan berkata bahwa kesaksian Allan Nairn tidak bisa dipakai sebagai rujukan karena Allan Nairn adalah orang asing yang barangkali punya niat terselubung untuk mengadu domba bangsa ini, tapi saya tidak berpendapat demikian. Ini bukan masalah mencampuri urusan negara lain, akan tetapi semata-mata murni masalah kemanusiaan yang diperjuangkan Allan Neirn selama ini.

Selain itu, selama tidak pernah ada upaya hukum dari Prabowo Subianto secara pribadi untuk membersihkan namanya dari dosa masa lalu guna meyakinkan rakyat Indonesia bahwa semua tuduhan Allan Nairn terhadap dirinya sama sekali tidak benar.

Allan Nairn bahkan mempersilahkan Prabowo Subianto mengajukan gugatan pencemaran nama baik di pengadilan Indonesia, namun tidak dilakukan oleh Prabowo Subianto. Di pengadilan dan dibawah sumpah, Allan Nairn akan membuka semua peran Prabowo Subianto dalam pembunuhan rakyat sipil di masa lalu.

Tantangan Allan untuk dikonfrontir dengan Prabowo Subianto di depan Pengadilan pun tidak diladeni Prabowo. Padahal tidak sedikit rakyat Indonesia yang tidak percaya dengan apa yang diungkapkan oleh Allan Nairn.

Selain itu, jika Allan Nairn bertujuan mengadu domba bangsa ini, buktinya Allan Nairn menantang Prabowo Subianto untuk bergabung bersama dirinya untuk menuntut semua Presiden Amerika Serikat yang hipokrit dan masih hidup untuk diadili dan dipenjara karena peran mereka dalam kejahatan terhadap kemanusiaan dan pembunuhan massal terhadap warga sipil di Indonesia.

Allan Nairn juga juga menantang Prabowo Subianto agar bergabung bersama dengannya guna menyerukan agar Freeport McMoRan diusir dari Indonesia karena eksploitasi sumber daya alam Papua yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Indonesia dan isu kontrak-kontrak tambang.

Namun Prabowo Subianto tidak berani meladeni tantangan Allan Nairn. Silahkan pembaca asumsi sendiri kenapa bisa begitu. [seeword]

Salam Dari Jabar Buat DK : Memimpin Daerah Yang Kompleks Tidak Semudah Seperti Memimpin Satu Agama


BY MUHAMMAD SABRI ON APRIL 21, 2017POLITIK
Di masa saya sekolah dulu dan di berbagai percakapan sering sekali saya dapati orang-orang dewasa dan anak-anak kecil warga negara Indonesia menanyakan “kenapa yah Indonesia alamnya kaya raya letak negaranya strategis tetapi negaranya tidak maju dan penduduknya banyak yang miskin?”
Hari ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mayoritas warga Jakarta karena telah memberi jawaban kongkrit atas pertanyaan tersebut, jawaban yang membuat saya tidak perlu bingung lagi menjawabnya dengan berbagai teori sosiologis, ekonomis dan politis dan sebagainya. kali ini, jika saya mendapati ada orang yang mengajukan pertanyaan seperti itu, akan saya jawab “lihat pilgub DKI 2017”.
ya, pilgub kali ini memaparkan dengan sangat jelas kenapa negara Indonesia sampai detik ini tidak menjadi negara maju.
sebelum melangkah lebih jauh saya ingin mengutip sebuah hadits
“Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuranitu.” (BUKHARI – 6015).
Ya, terima kasih warga Jakarta, kalian telah menyerahkan urusan pemerintahan di provinsi anda yang menjadi barometer Indonesia kepada yang bukan ahlinya, sekali lagi terima kasih.
karena beberapa ayat yang diterjemahkan dan disalahgunakan secara SEMBARANGAN kalian telah ikut andil melakukan KEDZALIMAN terhadap jutaan orang. Kalian DZALIM, kalian DZALIM karena telah menyerahkan kepengurusan (sekali lagi, KEPENGURUSAN bukan KEPEMIMPINAN) ibu kota negara SAYA dan 250 juta orang lainnya kepada yang BUKAN ahlinya. Kalian DZALIM, ingat itu, KALIAN DZALIM.
Sekarang jelas sudah, kalian telah membuktikan kebenaran hadits Rasulullah diatas. Ini baru pilgub, berarti sangat besar kemungkinan kita kita menggunakan standar yang sama dalam pemilihan pemilihan lainnya. Wajar dunia politik kita kacau balau seperti sekarang ini. Terima kasih warga Jakarta.
Besok kejutan apa lagi yang akan diberikan warga Indonesia? Memilih orang yang mengurus negara ini karena panjang panjangan jenggot? Karena hitam hitaman jidat? Karena merdu merduan suara dalam melakukan tilawah Qur’an?
Jujur saya dulu sempat besar di lingkungan yang seperti itu, saya sempat mengalami 2 kali pemilihan gubernur Jawa Barat. Apa yang dibicarakan oleh orang orang sekitar saya mengenai Ahmad Heryawan yang waktu itu merupakan kandidat gubernur Jawa Barat? “Kang Aher hafal Qur’an”, “Kang Aher bisa baca kitab gundul”. Sekarang saya jadi ingat orang orang di sekitar saya dulu sama sekali tidak pernah membicarakan program, prestasi dan track record, mereka hanya meng elu elu kan keshalehan pribadi Ahmad Heryawan.
Hey, sesaleh apapun birokrat yang mengurus wilayah kalian, tidak akan memperbesar peluang kalian masuk surga SEDIKIT PUN, ingat itu. Se bejat apapun birokrat yang mengurus wilayah kalian juga tidak akan mengurangi kesempatan kalian untuk masuk surga SEDIKIT PUN.
Yang kalian lakukan hanya menghancurkan kesempatan kalian dan orang orang lain untuk menikmati pelayanan publik yang baik, pembangunan yang nyata dan kelegaan ekonomi yang akan menjauhkan puluhan juta bahkan ratusan juta orang dari kefakiran yang dekat dengan kekafiran. Peluang kalian masuk surga SAMA SEKALI TIDAK DIPENGARUHI oleh kesalehan kepala daerah kalian. Ingat itu dasar orang orang dzalim.
Ayat yang kalian salah gunakan itu bukan tentang pemilihan kepala daerah, ayat itu bukan tentang pemilihan gubernur, ayat itu bukan tentang pilkada. Tidakkah kalian mempelajari itu? Tidakkah kalian takut mempergunakan ayat Allah untuk agenda politik kalian? BELAJAR TAFSIR WOY! Jangan langsung percaya saja apa yang diteriakkan orang yang KELIHATANNYA mengerti agama. Gak semua pengkhotbah Jum’at yang kalian dengarkan mengerti apa yang mereka bicarakan.
Kepada saudara sebangsa dan setanah air yang tidak beragama Islam, saya tidak bisa membayangkan betapa kecewanya kalian dengan bangsa yang kemerdekaan dan kemakmurannya kita perjuangkan bersama sama ini. kalian bisa saja menjadi seorang lulusan S3 dari universitas paling unggul di dunia, meraih hadiah nobel, memiliki bergudang gudang prestasi, jujur, pekerja keras tapi dalam pilkada atau pilpres kalian bisa saja akan dikalahkan oleh orang yang buta huruf, tidak berpendidikan, tidak berpengalaman, korup dan pemalas asalkan seiman dengan mayoritas penduduk. Maafkan kondisi Indonesia yang seperti ini, maaf saudara saudara.
Oke, kedepannya apa yang kita cari? Orang yang paling merdu adzannya untuk jadi mentri keuangan? Orang yang bisa baca kitab gundul untuk jadi gubernur? Ahli tafsir untuk jadi mentri telekomunikasi? Orang yang jenggotnya paling panjang dan dahinya paling hitam untuk jadi presiden? Apa besok kalian akan memberikan kejutan lagi dengan membuat orang orang paling berprestasi dan cemerlang di Indonesia tidak bisa mendapatkan posisi strategis hanya karena tidak berjenggot, tidak bisa baca kitab gundul dan ngomong bahasa Arabnya belepotan? Terima kasih warga jakarta, kalian menjawab dengan sangat jelas kenapa Indonesia tidak maju maju sampai hari ini. Kalian telah membuktikan kebenaran hadits Rasulullah diatas, terima kasih.
Kenapa saya ngotot sekali mengenai hal ini, karena saya tidak pernah SEKALI PUN menemui pendukung Anies-Sandi yang mengatakan mereka memilih karena program, prestasi dan track record, TIDAK SEKALI PUN. terima kasih warga Jakarta.
Mulai besok jika saya atau anak anak saya bercita-cita menjadi presiden atau gubernur, akan saya sarankan mereka menghafal Qur’an dan bisa membaca kitab gundul seperti kang Aher. Karena ternyata itu yang dicari mayoritas orang Indonesia. percuma berprestasi dan berpendidikan tinggi, jujur dan pekerja keras, hal itu tidak pernah dibahas. belajar dari Aher, belajar dari pilgub Jakarta. Terima kasih warga Jakarta.
Sekarang saya tidak heran lagi kenapa Indonesia tidak maju maju sampai hari ini.
Terima kasih (sebagian besar) warga Jakarta.
Dari perbatasan provinsi ini....
Media Asing : Berikan Judul-judul Berita Mengagetkan Soal Kekalahan Ahok Lawan Anies

Media Asing : Berikan Judul-judul Berita Mengagetkan Soal Kekalahan Ahok Lawan Anies




Pemilihan Gubernur-Wagub DKI Jakarta yang menyebabkan tersingkirnya gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menjadi sorotan media asing arus utama.

Ahok dilihat sebagai tokoh fenomenal dan antikorupsi.

Namun, Ahok menjadi pergunjingan luas, tidak saja di Indonesia tetapi di luar negeri, akibat sentimen agama dan etnis.

Beberapa media asing menyinggung bagaimana Anies sebenarnya telah merangkul seluruh warga Jakarta untuk bersatu dan melupakan perbedaan.

Kekalahan Ahok dan kemenangan Anies Baswedan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, itu diartikulasikan dalam terminologi atau diksi yang dikaitkan dengan masalah agama dan ras oleh sejumlah media asing arus utama.

Media Arab berbasis di Doha, Qatar, Al Jazerra, menyebutkan, Ahok yang sedang “diadili karena penistaan” agama kalah dari Anies "setelah kampanye agama yang memecah belah”.

Dari hasil penghitungan cepat oleh 10 lembaga survei, “gubernur Kristen di ibu kota Jakarta” kalah telak setelah “kampanye yang dimulai dengan perbedaan agama dan rasial di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia itu," demikian Al Jazeera, Rabu (19/4/2017).

Ahok sedang diadili karena kasus penistaan agama Islam, demikian media Arab tersebut.

Dalam beberapa bulan ini, “ratusan ribu warga Indonesia melakukan protes menentangnya di Jakarta, mencaci maki keturunan China itu, dan menuntut dia untuk dipenjara atau dibunuh,” kata media Arab itu.

Anies dilihat sebagai “seorang politisi Muslim berpendidikan tinggi, memanfaatkan serangan balik terhadap Ahok dengan mencari dukungan dari para ulama konservatif dan tokoh radikal ‘pinggiran’ yang menentang pemilihan non-Muslim.”

Anies Baswedan disebut mendapat dukungan dari “elite politik dan bisnis yang kalah telak pada Pilpres 2014” dan yang mencari jalan untuk maju pada Pilpres 2019, demikian Al Jazeera.

Ian Wilson, ahli Indonesia dari Murdoch University di Australia barat, mengatakan, kemenangan Anies atau kekalahan Ahok sebagai indikasi bahwa identitas digunakan sebagai “senjata politik”.

Pemberitaan dengan nada yang yang sama disampaikan harian New York Times (NYT).

Salah satu media arus utama AS itu menambahkan, Ahok kalah “dalam pertarungan sengit yang secara luas dipandang sebagai ujian toleransi agama dan etnis.”

Ahok telah mengaku kalah dan mengucapkan selamat kepada Anies. Ia meminta para pendukungnya untuk “melupakan semua hal yang terjadi selama kampanye” – merujuk kepada isu perbedaan agama dan sentimen rasial yang mewarnai kampanye.

Menurut para analis, Ahok sulit bangkit dari kerusakan yang dilakukan “kelompok-kelompok radikal yang menggunakan agama sebagai senjata politik, meskipun peraturan pemerintah puluhan tahun melarang cara seperti itu,” demikian media AS tersebut.

“Hal itu menunjukkan kepada saya bahwa kelompok radikal semakin mengakar di masyarakat, khususnya di daerah perkotaan,” demikian NYT mengutip salah satu pengamat di Indonesia.

NYT menambahkan, “Kekalahan Basuki akan semakin memberanikan kelompok-kelompok garis keras untuk memberikan tekanan lebih lanjut di Jakarta dan pemerintah pusat untuk mewujudkan agenda ultra konservatif, yang meliputi pelembagaan hukum Islam dan melarang penjualan alkohol.”

Anies oleh para pendukungnya “disebut gubernur ‘anak pribumi’ dan berjanji menyelesaikan masalah ibu kota,” kata NYT. Ia juga mengatakan, “perjalanan kita masih panjang.”

Menurut NYT, Anies secara pribadi tidak langsung menyerang soal agama dan etnis Basuki, tapi “ia bertemu dengan para pemimpin garis keras selama kampanye dan tur ke masjid-masjid."

Sementara CNN menyebutkan, kekalahan Ahok “kemungkinan akan dilihat sebagai kemenangan bagi umat Islam konservatif di Indonesia, yang telah berkampanye keras terhadap gubernur Kristen etnis Tionghoa yang dikenal sebagai Ahok itu.”

Indonesia adalah negara yang paling padat penduduk Muslim-nya di dunia. Dari sekitar 263 juta jiwa penduduk Indonesia, sekitar 87 persen di antaranya adalah pemeluk Islam.

"Kami harus melupakan perbedaan. Kita semua sama," kata Ahok setelah hasil pemilu awal menunjukkan ia tertinggal jauh dari Anies, tulis CNN.
Calon gubernur DKI nomor urut 3 Anies Baswedan usai menggunakan hak suaranya di TPS 28, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, Rabu (19/4/2017). Quick count lembaga survei untuk putaran kedua Pilkada DKI Jakarta mengunggulkan pasangan Anies-Sandi atas Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. (KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO)

Para analis, demikian CNN, mengatakan, “kekalahan Ahok akan mendorong penggunaan agama sebagai alat politik dalam pemilu di Indonesia.”

Majalah Times, kantor berita Associated Presse (AP) dan ABC News Australia juga mengartikulasikan kekalahan Ahok dan kemenangan Anies dengan nada yang hampir sama.

“Baswedan telah menarik dukungan dari ulama konservatif yang menentang pemilihan non-Muslim,” demikian AP.

“Polarisasi masa kampanye telah merusak reputasi Indonesia yang menganut bentuk Islam moderat,” tulis AP lagi.

Meski demikian, Anies telah mengajak warga Jakarta untuk bersatu dan bersama-sama membangun Jakarta, tak lagi menonjolkan perbedaan.

"Bagi kami, perjalanan masih panjang, usaha kami tidak hanya memenangkan pemilu tapi tujuan utama kami adalah untuk menciptakan kembali keadilan sosial bagi warga Jakarta," kata Anies seperti dirilis ABC News.TS





Setelah 4 Jam Menang Hasil Quick Count, Tim Anies-Sandi Pesta Alkohol, Padahal Getol Teriak Kafir dan Haram



"Kekuasaan Tuhan yang kasih dan Tuhan yang ambil" kata Ahok dalam pidatonya di MetroTV, Jiwa besar Ahok mencerminkan beliau adalah seorang petarung sejati. Diputaran pertama, ia tau bahwa ia dicurangi tapi ia tidak pernah ingin ribut, ia ijinkan pertarungan berlangsung pada putaran kedua, ia percaya bahwa semua Tuhan yang mengatur.



Nah, berbeda dengan Tim Anies-sandi ini, mereka dulu getol banget mengatakan haram, kafir-kafirkan orang tapi kenyataanya mereka adalah kaum yang munafik padahal di masjid waktu usir pak Djarot, mereka bilang pak Djarot munafik tapi apa yang dilakukan mereka? Baru Quick Count mereka sudah tegak Vodca dan Whyski padahal kata bibib Rizieq bilang itu "haroooommmmm".

Nanti bang haji Rhoma dengar pasti marah kalau tau mereka ini mabuk-mabukan, tapi tak apalah merekakan 11-12 saja, yang penting urusan TPS 35 di selesaikan dulu, dan kami masih akan mengumpulkan lagi bukti-bukti yang lainnya agar seluruh dunia tau bahwa mereka ini para penipu termasuk KPPS, KPU DKI dan Bawaslu.

Berani mengatakan mereka penipu? lah, buktinya banyak mereka itu berpihak kepada Anies. Quick Count di manfaatkan untuk menjatuhkan Ahok sebelum penghitungan real count oleh KPU. Yang jelasnya ketika penghitungan suara oleh KPU dan ternyata Ahok menang dengan suara terbanyak, KPU pasti tutup mata saja sambil umumkan "ANIES-SANDI MENANG 1000%".

BONGKARRRRRR....
Anies-Sandi Menang, Efek Donald Trump dan Teka-Teki yang Terbongkar

Anies-Sandi Menang, Efek Donald Trump dan Teka-Teki yang Terbongkar





Hilary Clinton secara mengejutkan kalah dalam Pilpres Amerika Serikat tahun lalu. Donald Trump yang rasis dan melarang umat Islam menginjak kaki di Amerika, menang. Demi keamanan dari teroris, warga Amerika lebih memilih Trump yang anti Islam. Logika psikologis warga saat memilih tidak bisa diprediksi.

Kini inspirasi dan efek kemenangan Trump itu melanda warga Jakarta. Anies-Sandi yang didukung oleh kaum radikalis-rasis hampir dipastikan menang. Ahok-Djarot yang pluralis, moderat dan berkinerja hebat kalah. Untuk sementara begitu hasil quick count yang nantinya tidak terlalu berbeda jauh dengan hasil resmi dari KPUD.

Kekalahan Ahok-Djarot sebetulnya sudah diprediksi namun masih penuh teka-teki. Litbang Kompas, sebuah lembaga survei netral dan independen, secara mengejutkan tidak merilis hasil surveinya pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Teka-teki Litbang Kompas yang diam membatu terbongkar. Kompas sengaja tidak merilis hasil surveinya, barangkali dengan alasan untuk menahan kekalahan telak Ahok-Djarot dari Anies-Sandi.

Pernyataan sesumbar Prabowo bahwa hanya kecurangan besar yang bisa mengalahkan Anies, kini berdasar. Survei-survei yang merilis kemenangan Anies-Sandi dan dipercaya Prabowo termasuk survei internalnya membuat Prabowo amat yakin akan kemenangan Anies-Sandi. Dan itu terbukti pada hasil quick count Pilkada hari ini 19 April 2017.

Dari sisi kemenangan Anies itu, warga Jakarta mengambil kesimpulan bahwa sebagian besar warga Jakarta menginginkan gubernur baru yang Muslim. Prinsip Asal Bukan Ahok (ABA) terpaku terpatri dalam hati sebagian besar warga. Warga Jakarta secara psikologis lebih memilih pemimpin yang seagama dan sosok yang tidak menggusur lahan-lahan dan rumah mereka.

Dari sisi kekalahan Ahok, warga Jakarta juga mengambil kesimpulan bahwa sosok yang double minoritas masih belum mendapat tempat di Jakarta, ibu kota republik. Mungkin sejarah akan berubah bila ibu kota telah berpindah ke Palangkarya, Kalimantan ke depan. Hal yang terjadi di ibu kota Inggris, London, dimana seorang yang Muslim bisa menjadi wali kota London yang mayoritas Kristen, bisa terjadi di Indonesia di masa depan.

Dari Kekalahan Ahok-Djarot, teka-teki yang selama ini menjadi tanda tanya terbongkar. Isu tuduhan penistaan agama, sangat berpengaruh kepada elektabilitas Ahok. Pun menjadi terbukti bahwa Ahok yang berhasil menjadi Gubernur adalah berkah dari Jokowi yang sukses naik menjadi Presiden. Mungkin saja Ahok tidak pernah menjadi gubernur DKI Jakarta kalau bukan karena Jokowi.

Teka-teki berikutnya yang terbongkar adalah terkulainya gerakan Tamasya Al-Maidah bisa saja karena dirasa tidak perlu. Alasannya kemenangan Anies-Sandi sudah di depan mata. Cukup intimidasi kecil, maka Anies-Sandi akan melenggang, menari dan berjoget. Tarian dan jogetan Anies-Sandi, sangat pantas dilakukan setelah sekian bulan bertarung bercucuran darah dan air mata. Berjogetlah Anies. Kini anda telah membuktikan ucapan anda untuk memecat Ahok dari kursi gubernur DKI. Selangkah lagi anda bisa memecat Jokowi dari kursi RI-1.

Kekalahan Ahok-Djarot pasti membuat Megawati sedikit menyesal. Inilah kekalahan kedua bagi Megawati dalam kurun waktu berdekatan. Rano Karno yang didukung PDIP dalam Pilkada Banten, kalah tipis dari lawannya. Insting Prabowo yang dua kali memenangkan kursi gubernur DKI yakni dengan Jokowi-Ahok 2012 dan kini Anies-Sandi 2017 patut diacungi jempol.

Dalam hal isnting, Prabowo lebih tajam dari Megawati. Kemenangan insting Prabowo sudah cukup membalas dendamnya kepada Ahok yang meninggalkan Gerinda. Kemenangan itu juga bisa dijadikan sebagai pelipur lara atas kekalahan di Piplres 2014 lalu dari Jokowi. Pertarungan pada Pilpres 2019 menanti anda Prabowo. Tentu dengan kisah yang berbeda karena lawan anda bukan Ahok tetapi Jokowi. Dia asli pribumi, Muslim dan juga berkinerja hebat.

Kini Megawati hanya bisa berandai-andai. Andai Risma, wali kota Surabaya, yang dipasangkan dengan Djarot, cerita kemenangan di Pilgub DKI bisa lain. Tetapi Megawati terlalu yakin pada Ahok. Dan itu tidak salah. Sepak terjang Ahok selama tiga tahun menduduki kursi panas di DKI setara dengan kerja 10 tahun gubernur sebelumnya semacam Sutiyoso. Ahok telah mengukir namanya dalam sejarah Pemrov DKI sebagai gubernur pendobrak dan pengubah mental birokrat. Tetapi sayang bu Megawati, agama masih menjadi nomor satu pertimbangan di Jakarta dan bukan nasionalis.

Pilkada hari ini yang berlangsung cukup damai, patut disyukuri warga Jakarta. Warga Jakarta telah memilih sosok yang dipilihnya. Para pendukung Ahok patut mengucapkan selamat kepada Anies-Sandi yang berhasil menjadi gubernur. Pendukung Ahok harus bisa move on. Sebaliknya bagi pasangan yang menang Anies-Sandi harus bisa merangkul para pendukung Ahok, menenun kembali kain kebangsaan yang telah robek-robek.

Adalah tugas Prabowo, Hary Tanoe, Hasyim untuk mengerem laju intoleran Riziq-FPI dan PKS. Tugas Prabowo untuk membuang wacana Jakarta Bersyairah dan tetap mengedepankan keberagaman dalam naungan NKRI. Sebab jika tidak, Jakarta akan mundur ke belakang dan itu merepotkan pengusaha yang berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi. Toh akibatnya akan membuat sengsara warga dengan tingkat ekonomi rendah pemilih Anies-Sandi.

Bagi Ahok sendiri, anda telah bertarung dengan kepala tegak. Sepak terjangmu akan diingat oleh bangsa ini dan bahkan dunia. Kekalahan di Pilkada DKI bukanlah akhir segalanya. Setelah menyelesaikan tugas sebagai gubernur hingga Oktober 2017, tugas lain sedang menanti anda. Barangkali ada peluang baru di istana dengan jabatan menteri. Di sana kehebatan seorang Ahok kembali dinanti.

Akhir kata, selamat kepada Anies-Sandi sebagai gubernur baru DKI 2017-2022 dengan program DP Rumah Nol persen dan sejuta program OK-OCE. Pun kepada Ahmada Dhani, tak usah pindah ke Cisarua karena musuh anda tersingkir sudah. Terima kasih kepada Ahok-Djarot yang telah memajukan dan memberi warna bagi Jakarta selama ini.swd
Inul “Tampar” Anies: Haji Djarot Diusir dari Masjid, Inul Malah Terima Kehadiran Anies

Inul “Tampar” Anies: Haji Djarot Diusir dari Masjid, Inul Malah Terima Kehadiran Anies




Inul Daratista adalah seorang pedangdut yang dikenal dengan goyangan “ngebor”-nya. Mulai eksis di dunia tarik suara genre dangdut, Inul pun menjadi artis ibukota dan mulai menjadi artis nasional. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Perempuan bernama asli Ainur Rohimah ini lahir di Pasuruan tahun 1979. Muslimah taat ini memiliki sebuah cerita yang panjang di dunia tarik suara.

Inul Daratista memulai karir penyanyi dangdut lewat acara-acara sederhana di daerah Pasuruan, Jawa Timur. Tanpa sepengetahuannya, aksi panggung Inul diabadikan oleh seseorang dalam sebuah rekaman video. Video ini lantas diperbanyak dan diedarkan dalam format VCD ke berbagai pelosok daerah, ini yang mendorong nama Inul mulai terkenal.

Julukan “Ratu Goyang Ngebor” pun menjadi ciri khas dari Inul, karena goyangannya yang seperti mesin bor. Menurut saya ini kurang pas, karena tidak ada lantai yang hancur karena goyangannya. Hehehe.



Inul mulai tampil di banyak tempat. Perlahan namun pasti, jadwal panggung Inul mulai padat dan ia mulai terkenal di jagad pertelevisian Nasional. Sejumlah televisi mulai berebutan untuk menampilkan Inul dengan suara dan goyangannya.

Inul Daratista dikenal pada tahun 2000an. Artinya sudah 17 tahun ia menjadi figur publik yang mengisi acara hiburan di Indonesia. Selama itu pula, tidak ada pemberitaan miring yang menghabisinya dan menghantamnya. Kita mengetahui bahwa dunia entertainment itu sangat menggoda. Nikmat duniawi yang begitu besar tersedia di dunia entertainment. Namun melihat tidak ada kisah-kisah yang terlalu fenomenal yang dialami Inul, tentu kita dapat berkesimpulan bahwa Inul adalah orang yang cukup baik.

Mungkin ada satu atau dua kasus yang menerpa, salah satunya mengenai hak cipta. Namun hal ini sudah ditelusuri dan diselesaikan secara hukum. Entah bagaimana kelanjutannya, saya tidak ingin membawa artikel ke arah sana.

Sekarang ia sudah separuh baya, 39 tahun. Tentu ia sudah mengerti kondisi fisiknya, sekarang tidak ada goyangan panas yang ditampilkan oleh Inul. Ia mulai fokus kepada dunia tarik suara dan mengisi beberapa acara seperti Dangdut Academy sebagai juri.

Dari rekam jejak, sangat terlihat bagaimana Inul Daratista menjaga dan menetapkan integritasnya. Namun akhir-akhir ini kabar miring diembuskan dari kaum bumi datar, khususnya para pendukung Anies. Postingan Instagram Inul menuai kontroversi perihal dukungannya kepada Ahok dan klarifikasinya di dalam kalimatnya yang dianggap kontroversial, padahal biasa saja.



Para kaum bumi datar sempat melakukan boikot kepada Inul karena ucapannya yang dianggap menista ulama. Bahkan sampai sekarang. Ia menjadi bulan-bulanan. Bagaimana mungkin mereka (kaum bumi datar) yang belajar agama, namun memiliki perkataan dan hati yang tega untuk memfitnah Inul?

Inul jelas mengatakan kasus yang menjerat Rizieq Shihab dengan Firza Hots. Bahkan polisi sekarang sedang menyelidiki kasus ini. Jelas sekali bahwa Inul menjadi orang yang mengatakan fakta, bukan hoax, seperti apa yang sering diucapkan oleh para pendukung Anies Sandi.

Seiring waktu berlangsung, Inul pun harus menerima Anies sebagai tamu undangan dari acara yang sempat hampir diblokir oleh KPI, Dangdut Academy 4. Inul yang “kelihatannya” mendukung Ahok, menerima kehadiran Anies Baswedan di acara Dangdut Academy 4.

Di acara Dangdut Academy 4, Inul menerima Anies dan bahkan menyanyi bersamanya, tanpa harus menunjukkan dukungan. Tentu ini merupakan tamparan keras dari Inul kepada Anies. Di hari yang sama, para pendukung Anies mengusir Haji Djarot keluar dari masjid. Justru sekarang penistaan agama dilakukan oleh pendukung Anies.

Maling teriak maling, penista agama teriak penista agama. What on earth?



Acara yang diisi oleh beberapa artis ibukota sebagai juri, malah menjadi ajang penerimaan Anies dan kampanye Anies. Anies terlihat canggung dan ia bergoyang kesana kemari, seperti bola ping pong…. Ups. Kok saya malah nyanyi ya? Mari kita lanjutkan.

Juri-juri Dangdut Academy berfoto dengan Anies, tak terkecuali Inul Daratista. Mereka berpose OK OCE. Namun Inul yang kita kenal sebagai sosok wanita berintegritas dan tidak “menjual” murah dukungannya. Ia tidak berpose OK OCE Meskipun seluruh juri melakukan salam tersebut, Inul tetap tidak melakukannya. Inilah karakter pendukung Ahok Djarot. Luar biasa bukan?

Kita tahu bahwa Inul sudah tepat di dalam melakukan hal tersebut. Mengapa? Karena jelas ia adalah pendukung Ahok. Pendukung Ahok memiliki integritas yang kuat, identitas yang jelas, dan inner security yang mantap.

Ketenangan seorang pendukung Ahok Djarot sangat nyata. Tidak ada aksi anarkis dan aksi provokasi yang dilakukan untuk mendulang suara Ahok Djarot. Pendukung Ahok Djarot adalah pendukung rasional, tidak emosional. Emosi pendukung Ahok Djarot mungkin ada, namun emosi yang positif dan emosi memenangkan Ahok Djarot.

Kita melihat bagaimana integritas pendukung Ahok Djarot diwakilkan oleh Inul Daratista. Pedangdut yang meniti karirnya dari sederhana. Terkenal karena VCD bajakan, dan menjadi “ibu juri” bagi para pedangdut. Inilah Inul Daratista. Manusia sederhana, mendukung orang yang sederhana, secara sederhana juga menunjukkan integritasnya.swd
Meski Dilarang Polisi, Panitia Tetap akan Gelar Tamasya Al-Maidah

Meski Dilarang Polisi, Panitia Tetap akan Gelar Tamasya Al-Maidah


Jakarta - Meskipun dilarang kepolisian, acara Tamasya Al-Maidah akan tetap digelar. Ketua Panitia Tamasya Al-Maidah Ustaz Ansufri ID Sambo mengatakan pengawalan pilgub belum cukup kuat meski ada pengawalan dari kepolisian.

"Intinya mengawal, mengawasi, supaya kemenangan tidak dicederai oleh kecurangan-kecurangan. Ini yang sangat tidak diinginkan. Imbauan yang dilakukan walaupun sudah ada KPU dan sebagainya, kita mensinyalir ini belum cukup kuat. Kita mau lebih kuat lagi, jangan sampai demokrasi ini mencederai hal-hal yang tidak kita inginkan," kata Ansufri di aula Buya Hamka, Masjid Al Azhar, Jl Sisingamangaraja, Jakarta Selatan, Senin (17/4/2017).

Ia mengatakan massa yang datang nantinya bertugas memantau, tetapi tidak masuk TPS. Mereka akan memantau dari jarak 20 meter.

"Yang kedua, kalau terjadi intimidasi, kecurangan, kita sorakin. Kita kasih tahu, selama ini sudah terjadi beberapa kali intimidasi, dibiarkan oleh petugas TPS. Makanya kita datang untuk mendukung para aparat untuk berani menindak," ujarnya.

Ketiga, Ansufri mengatakan, apabila ada kecurangan, massa akan dapat langsung mendokumentasikannya. Hal itu bisa dibawa ke MK sebagai barang bukti kelak.

Ansufri berjanji nantinya acara Tamasya Al-Maidah akan berlangsung damai. Ia menjamin tidak akan ada intimidasi, bahkan dia siap jika ada anggotanya yang melakukan pelanggaran untuk diserahkan ke polisi.

"Insyaallah pendekatannya damai, tertib, tidak akan ada keinginan kita mengintimidasi, karena jaraknya 20 meter dari TPS. Insyaallah tidak ada intimidasi. Kalau ada intimidasi di tempat, tangkap saja, misal ada 100 orang per TPS kalau masing-masing ada 2 orang melanggar komitmen, silakan saja serahkan. Bahkan kita sudah ada komitmen, siapa pun yang melakukan intimidasi justru kelompok kita yang akan menangkap, menyerahkan ke aparat," ujarnya.

Ansufri menyebut tidak ada alasan bagi kepolisian melarang warga datang ke Jakarta pada Pilkada DKI. Hal itu karena Tamasya Al-Maidah dijanjikan akan berlangsung damai.

"Saya kira karena ini aksi damai, berkunjung, orang datang, melihat, dan memantau, tidak ada alasan untuk melarang itu. Justru kalau melarang, negara melakukan kekerasan terhadap rakyatnya. Ini suatu tindakan yang damai. Kita ingatkan, kita berkunjung untuk mengawasi dan memastikan pilkada berlangsung dengan damai, adil, dan demokratis. Kalau kita diintimidasi oleh negara, malah diusir, dan ditangkap, ini pelanggaran besar bagi demokrasi," ujarnya.
(fjp/fjp) [detik]
Lima Ciri Islam Sontoloyo Menurut Bung Karno

Lima Ciri Islam Sontoloyo Menurut Bung Karno

Juni adalah bulan Soekarno. Di bulan ia lahir dan wafat ini penting untuk kita mengingat kembali gagasan pendiri bangsa ini tentang Islam. Perhatiannya terhadap Islam begitu bergairah di zaman kemerdekaan. Berbagai gagasannya tentang Islam masih sangat relevan hingga kini.
Presiden pertama Indonesia yang akrab disapa Bung Karno ini mengedepankan esensi dan substansi Islam ketimbang simbol-simbol Islam yang kaku. Ia menyalakan, apa yang ia sebut sebagai, api Islam. Ia ingin menghidupkan kembali jiwa Islam sebagai ajaran universal sebagaimana visi etik Al-Quran dan sunah Nabi Muhammad.
Karena itu, ia menolak kecenderungan apa yang ia sebut sebagai masyarakat onta atau Islam Sontoloyo. Kecenderungan ini bukan hanya masih menggejala, bahkan kian menguat kini.
Sebagai pencetus Pancasila dan merumuskan nilai-nilainya, ia mengadopsi apa yang dilakukan Nabi Muhammad di Madinah sebagai petun­juk urusan menyusun dan membangkitkan masyarakat. Pancasila itu salah satu wujud bagaimana Bung Karno menerapkan visi etik Al-Quran dan sunah nabi itu.
Bung Karno mendalami Islam saat berada di Endeh. Bahkan menurut H.A. Notosoetardjo dalam Rakyat Bertanya Bung Karno Menjawab, ia menekuni pengetahuan Islam berawal saat dari Penjara Sukamiskin kemudian dilanjutkan dengan lebih intensif saat pembuangan di Endeh. Ia baru mulai mengeluarkan berbagai pendapatnya di media massa mengenai masalah-masalah Islam saat ia dipindahkan ke Bengkulu.
Dalam berbagai tulisannya tentang Islam itu tampak pengetahuan Bung Karno tentang Islam begitu luas dan mendalami persoalan. Selain melahap berbagai buku dari para ulama di berbagai negeri Islam, ia juga murid dari tokoh utama Sarekat Islam: Tjokroaminoto (Baca: Islam Progresif Tjokroaminoto).
Bisa dibilang, berbagai gagasannya tentang Islam ikut memberi landasan Islam Indonesia atau Nusantara.
Berikut lima ciri masyarakat onta atau Islam Sontoloyo yang menurutnya membuat Islam mundur dan konflik tak berujung di tengah masyarakat dan penghambat kemajuan bangsa.
  1. Royal Mencap Kafir
Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an) dan Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (1940), Bung Karno menulis kritik terhadap kecenderungan sebagian ulama dan umat Islam saat itu yang begitu mudah mencap kafir.
“Kita royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”. Pengetahuan Barat kafir; radio dan kedokteran kafir; sendok dan garpu dan kursi  kafir; tulisan Latin  kafir; yang bergaul dengan bangsa yang bukan bangsa Islam pun kafir!”
Menurut Bung Karno, yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, radio dan listrik, kemoderenan dan ke-uptodate-an berarti mereka mau tinggal dalam keterbelakangan, kuno, makan tanpa sendok, dan naik onta.
Astagfirullah, inikah Islam? Inikah agama Allah?” tulisnya.
  1. Taklid Buta
Bagi Bung Karno, taklid itu seperti abu, debu, dan asap. Ia bukan api Islam. Islam tak lagi jadi agama yang boleh dipikirkan secara merdeka, tapi telah menjadi monopoli kaum fakih dan kaum tirakat.
“Hampir seribu tahun akal dikungkung sejak kaum Mu’tazilah sampai Ibnu Rusyd dan lainnya. Asy’arisme pangkal taklidisme dalam Islam. Akal tidak diperkenankan lagi. Akal itu dikutuk seakan-akan dari setan datangnya,” paparnya.
Mengutip Snouck Hurgronje, ia mengatakan ulama dari segala waktu terikat pada ucapan ulama terdahulu, masing-masing dalam kalangan mazhabnya. Syariat itu akhirnya bergantung kepada ijma’ dan tidak kepada maksud-maksud firman yang asli.
Padahal jelas, baginya, dua sumber utama Islam adalah Kalam Allah dan Sunah Rasul. Dari dua sumber ini pula para ulama mengambil kesimpulan hukum. Dari dua sumber utama ini pula kita mesti menyalakan api Islam.
Menurut Bung Karno, Al-Quran dan Hadits itu tidak berubah. Bahkan “teguh selama-lamanya, tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas.” Tapi pandangan masyarakat yang senantiasa berubah, berevolusi, dinamis, mengalir.
  1. Mengutamakan Fikih
Dalam Islam Sontoloyo (1940), Bung Karno menulis bahwa fikih bukanlah satu-satunya tiang keagamaan. Tiang utamanya ialah terletak dalam ketundukan kita punya jiwa pada Allah.
“Fikih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama. Belum dapat memenuhi syarat-syarat ketuhanan yang sejati, yang juga berhajat kepada tauhid, akhlak, kebaktian ruhani, kepada Allah,” tulisnya.
Menurutnya, Al-Quran dan api Islam seakan-akan mati karena kitab fikih itu sajalah yang dijadikan pedoman hidup, bukan kalam Illahi sendiri.
“Dunia Islam sekarang ini setengah mati, \tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sama sekali tenggelam dalam kitab fikihnyasaja, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya agama yang hidup.”
Hal itu tak berarti Bung Karno membenci fikih. Menurutnya, fikih tetap penting. Bahkan ia menyebutkan, masyarakat Islam tak dapat berdiri tanpa hukum-hukum fikih. Sebagaimana tiada masyarakat tanpa aturan perundang-undangan.
“Saya hanya membenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fikih, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja,” tulisnya.
Dengan mengutip Farid Wadji, Muhammad Ali, Kwada Kamaludin, Amir Ali, ia mengatakan bahwa alangkah baiknya di samping mempelajari fikih kita juga dengan sungguh belajar nilai dan visi etik Al-Quran.
Ini Bung Karno praktikkan, salah satunya saat anjing yang ia pelihara menjilat air di dalam panci di­ dekat sumur. Ia kemudian Ia pun meminta Ratna Juami untuk membuang air itu dan mencuci  panci itu beberapa kali dengan sabun dan kreolin.
“Di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin! Nabi s.a.w. sendiri telah menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak nyata haram atau makruh,” paparnya.
  1. Tak Melek Sejarah
 Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an), Bung Karno menulis, umumnya kita punya ulama dan kiai tapi tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarahnya. Mereka punya minat hanya tertuju pada agama, terutama pada bagian fikih. Tapi pengetahuan tentang sejarah umumnya nihil. Padahal sejarah adalah padang penyelidikan yang maha penting!
“Kebanyakan mereka tak mengetahui sedikitpun dari sejarah itu. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masayarakat yang menyebabkan kemajuan atau kemundurannya sesuatu bangsa. Sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian,” tulisnya.
Paling mujur, lanjut Bung Karno, mereka hanya mengetahui tarikh Islam saja. Dari tarikh Islam ini seharusnya mereka sudah dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. Tapi umumnya kita mempelajari hukum, kenal isi kitab fikih, mengetahui tiap perintah dan larangan agama hingga yang terkecil, tapi kita tidak mengetahui bagaimana cara Nabi, para sahabat, tabiin, khalifah menaafsirkan perintah dan larangan-larangan Allah di dalam urusan sehari-hari dan urusan negara.
“Kita sama sekali gelap dan buta buat di dalam hal menafsirkan itu oleh karena tidak mengenal tarikh,” imbuhnya.
Menurutnya, pelajaran terbesar dari sejarah adalah bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda di atas angkasa karena fikih tidak berdiri sendiri. Fikih disertai dengan tauhid dan etiknya Islam yang menyala-nyala. Fikih  hanyalah “kendaraan” saja.
Kendaraan ini dikusiri oleh rohnya etik Islam serta tuhid yang hidup. Dengan fikih yang demikian itulah umat Islam menjadi cakrawati (pucuk pimpinan) di separuh dunia!
Dengan mengutip Essad Bey, Bung Karno mengatakan, jia kedudukan fikih begitu sentral  di situlah Islam membeku menjadi satu sistem formil belakang. Ia tiada bergerak lagi, ia mandek! Bukanlah saja mandek, fikih bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas hidup.
Jika pemuka dan umat Islam Indonesia tetap tidak mengindahkan pelajaran besar dari sejarahnya sendiri dan mengikuti jejak para pemimpin besar di negeri lain serta hanya berorientasi fikih, maka jangan harap umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai kekuatan jiwa hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang ini.
  1. Hadis Lemah sebagai Pedoman
Menurut sebagian ulama, hadis lemah (da’if) bisa dijadikan sumber hukum selama tak bertentangan dengan Al-Quran. Bagi Bung Karno sendiri, hadis lemah di antara yang menyebabkan kemunduran Islam.
“Saya perlu kepada Bukhari atau Muslim itu karena di situlah dihimpun hadis-hadis sahih. Walaupun dari keterangan salah seorang pengamat Islam bangsa Inggris, di Bukhari pun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Dia pun menerangkan, bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam banyaklah karena hadis-hadis lemah itu yang sering lebih laku daripada ayat-ayat Al-Quran. Saya kira anggapan ini adalah benar.”  ***
(Achmad Rifki)
Back To Top