Powered by Blogger.

CB Blogger Lab

PEMBACA

JASA SEO CB

Ngapain Sok Ngurusin Negara? Emangnya Kamu Siapa?

Ngapain Sok Ngurusin Negara? Emangnya Kamu Siapa?




Ngapain sok ngurusin negara? Emangnya kamu siapa?

Dua pertanyaan tersebut sudah sering saya dengar, belakangan malah terdengar lebih sering dari sebelumnya. Ujung dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah menilai negatif, memandang sebelah mata tentang apa yang saya lakukan dengan melahirkan Seword.

Dan jawaban saya dari dulu masih sama, bukan siapa-siapa. Hanya rakyat sipil, rakyat jelata yang tak mampu berkontribusi banyak terhadap kemajuan negeri ini, tapi sangat cinta Indonesia lahir bathin. Tapi untuk menjawab rasa penasaran negatif atau kepo yang menyudutkan itu, hari ini saya ingin cerita sedikit tentang Seword dan pengaruhnya terhadap psikologi politik, kebetulan Seword baru saja kena serangan yang cukup besar.

“Hello, We’ve identified an inbound Denial of Service (DoS) attack that is targeting an IP address assigned to your Linode. As the attack was large enough to negatively impact our network and subsequently the service of other customers, we’ve null routed the IP address until the attack subsides.

Once the attack has subsided, the null route will be removed and connectivity to your Linode’s IP address will be restored.”

Itulah pesan yang IT Seword terima pada hari kamis sore kemarin, sehingga kami dibuat kelabakan untuk setting ulang dan beli pengaman tambahan, kemudian memantaunya selama beberapa jam.

Terakhir kali Seword down gara-gara serangan dos adalah saat awal kampanye Pilgub DKI, sekitar bulan Oktober 2016. Saat itu ada yang kirim paket serangan senilai milyaran rupiah untuk menumbangkan Seword selama beberapa jam. Tapi seingat saya notifikasinya pesannya tak sedramatis sore ini.

Apa arti serangan-serangan ini?

Setiap serangan pasti didasari oleh ketidaksukaan atau merasa terganggu. Pasti! Dan inilah juga yang pasti menjadi alasan mengapa ada orang yang mau menghamburkan uangnya hanya untuk menumbangkan Seword selama beberapa jam saja, bukan selamanya.

Dengan dua kali kejadian seperti ini, yang saya pahami adalah, ada sekolompok orang yang begitu kaya dan sedang berupaya melawan Seword. Tapi karena media mereka tidak efektif dan tidak mampu melawan arus opini yang berkembang di Seword, jadi mereka hanya bisa coba menumbangkan dengan beragam cara. Mulai dari menuduh situs hoax sampai membeli perangkat serangan untuk menyerang server kami.

Sampai di sini, jika ada yang bertanya “ngapain sok ngurusin negara?” saya bisa lebih mudah untuk menjawabnya. Karena media-media mainstream, media abal-abal, media radikal, media fundamentalis dan seterusnya itu telah memiliki agenda masing-masing. Dan ketika media tersebut dikumpulkan, kemudian dikendalikan oleh satu atau dua orang yang memiliki kepentingan politik di negeri ini, maka hasilnya adalah opini publik yang sesuai dengan kepentingan segelintir orang, bukan kepentingan dan kemajuan Indonesia.

Hal-hal seperti itulah yang harus kita lawan dan koreksi. Sudah rahasia umum kalau media seperti televisi, radio dan koran memiliki kecenderungan politik pada partai tertentu, sebab pimpinannya terjun ke dalam politik atau malah ada pimpinan media yang kemudian buat partai sendiri, jadi ketua umumnya sendiri dan maju sendiri sebagai pasangan capres cawapres. Kalau kondisi seperti ini dibiarkan, maka opini di media jadi tidak berimbang.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu, pimpinan DPR Fadli Zon mengatakan “Saya kira harus ada klarifikasi dari presiden. Kasus ini begini karena ada rumor kalau Presiden melindungi Ahok. Makanya Presiden harus berikan klarifikasi.”

Lihatlah komentar sang pimpinan DPR yang terhormat tersebut. Dia menyebar rumor yang entah dari mana asalnya, kemudian memojokkan Presiden Jokowi dengan mengait-ngaitkannya denagn kasus Ahok yang juga entah benar atau tidak. Tidak jelas, sebab sampai waktu itu tidak ditemukan unsur korupsi.

Baca baik-baik, pimpinan DPR menyebar rumor kemudian diberitakan serius di media-media mainstream yang dengan bangganya menyebut diri mereka media netral ataupun kredibel. Selanjutnya rumor tersebut ditanggapi oleh orang yang katanya pengamat beken, dan kemudian setuju Presiden harus klarifikasi.

Kalau yang seperti ini kita biarkan, maka opini publik, politik dan informasi yang beredar di masyarakat hanyalah informasi golongan orang-orang gila yang kebetulan memiliki lebih banyak dana atau memiliki media. Kita kembali ke jaman penjajahan.

Untuk melawan dan mengkoreksi hal-hal aneh atau menyesatkan seperti itu, maka muncullah Seword. Media opini pembanding yang coba berikan opini lebih logis dari media manapun. Di sinilah kami dengan 600an penulis siap mengawal negeri ini ke arah yang lebih baik, dengan tegas dan jelas menyatakan hitam dan putih. Tanpa pernyataan abu-abu. Yang salah ya salah. Titik tanpa koma.

Dari Seword untuk Indonesia

Bagaimanapun, sebagai pendiri web ini saya bukanlah pejabat yang gaji sebulannya sama dengan 5 tahun gaji UMR Jakarta. Bukan pula orang kaya yang kelebihan dana. Bukan jebolan mahasiswa aktifis yang memiliki banyak pengikut. Namun dengan segala keterbatasan tersebut kami coba terus memberikan yang terbaik untuk negeri ini.

Seword tidak bisa membeli slot iklan seperti web sebelah, tapi saya tau teman-teman pembaca yang setia selalu menyebarkan link tulisan di sosial medianya masing-masing. Dari group facebook sampai WA.

Seword tidak bisa membayar penulis-penulis dengan harga yang mahal, hanya 3 rupiah perview, tapi dengan semangat perjuangan yang sama, untuk Indonesia tercinta, semuanya bergerak dari seluruh penjuru negeri untuk meluruskan segala opini dan komentar yang salah atau abu-abu di Indonesia. Melawan politisi busuk dan yang sesapian dengannya. Dan karena semangat perjuangan yang sama tersebut, Seword menjadi portal opini paling berpengaruh di Indonesia saat ini. Karena semuanya tergerak untuk ikut berkontribusi. Banyak orang yang semula hanya komentator, sekarang ikut menulis bersama kami.

Bagaimanapun kami juga hanyalah manusia biasa. Tentu ada banyak kekurangan atau mungkin juga kesalahan-kesalahan. Kadang ada penulis yang berlebihan dalam bereaksi, sehingga beberapa kali saya dan admin terpaksa turunkan artikelnya. Setiap ada keluhan pembaca terkait artikel yang tidak sesuai dengan semangat Seword, langsung admin turunkan dan tegur penulisnya. Tapi kadang ada juga pembaca yang hanya komplain artikel Seword tidak bagus, namun ketika ditanya tulisan yang mana? Mereka bungkam dan kabur begitu saja. Hal yang seperti itu tentu tidak bisa kami tindak lanjuti.

Beberapa kali saya juga menerima komplain terkait iklan di Seword. Ada pembaca yang usul agar iklan dihapus, seperti media baru sebelah yang bersih dari iklan. Supaya tidak ribet. Komplain seperti ini juga tidak bisa saya tindak lanjuti, sebab memang Seword ini berdiri mandiri, tanpa investor dan tanpa dukungan dana yang melimpah. Sementara biaya operasional seperti beli server, bayar admin dan seterusnya itu cukup tinggi. Belum lagi beri apresiasi 3 rupiah perview untuk penulis. Kalau tanpa penayangan iklan atau tanpa klik iklan dari para pembaca, saya mau bayar pakai apa? Hahaha

Terakhir, apapun itu, dengan segala kekurangannya, kami Seword memang sedang “mengurusi” negeri ini. Karena setelah Tuhan, yang kami cintai selanjutnya adalah Indonesia. ….Begitulah kura-kura. [seword]
Belum Dilantik Ko Sudah Sibuk Ngatur dan Ributin Soal APBD

Belum Dilantik Ko Sudah Sibuk Ngatur dan Ributin Soal APBD





Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjelaskan soal sistem password e-budgeting Pemprov DKI. Dengan adanya password rangkap ini, Ahok ingin tidak ada yang bisa seenaknya mengganti anggaran.

“Sistem e-budgeting semua jalan kecuali gubernur tidak mau atau gubernur perintah Bappeda untuk melanggar. Saya yakin kalau Bu Tuty (Kepala Bappeda) tidak diganti sebagai Bappeda pasti aman, kecuali Bu Tuty dicopot atau gubernur perintahkan nggak mau, atau gubernur nggak berani melawan DPRD, DPRD nggak mau kayak kasus 2015. SKPD yang bandel nggak mau dipecat oleh gubernur itu kejadian kayak tahun 2014,” kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (25/4/2017).

Sistem e-budgeting yang menggunakan password ini, dikatakan Ahok, untuk mengunci input data yang diisi oleh SKPD. Ahok ingin tidak ada yang bisa dengan seenaknya mengubah anggaran yang telah ditetapkan melalui e-budgeting ini.


“Ini kan betul ada kunci. Ada kunci maksudnya kamu nggak bisa ubah-ubah, ada password. Tapi kalau yang mau yang nyolongnya pegang password kan gimana, kan itu kan perintah gubernur. Makanya saya bilang, Gubernur DKI tuh sederhana, kamu berani pecat orang nggak yang nyolong,” ujarnya.

Pada 2014, banyak SKPD yang tidak mau mengisi dalam e-budgeting tersebut, sehingga banyak dipecat oleh Ahok. Pada 2015, Ahok bercerita sistem tersebut diisi oleh SKPD, tapi DPRD tidak mau tanda tangan. Pada 2016, akhirnya semua setuju mengikuti sistem ini. Dengan sistem ini, Ahok mengaku lebih mudah mengontrol APBD dan program.

Disisi lain, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menjawab wartawan terkait dengan kemungkinan APBD DKI dibongkar lagi setelah dipastikan adanya pergantian pimpinan di Balai Kota DKI.

“Kami dengan Pak Gubernur Basuki Tjahaja Purnama punya tanggung jawab sampai Oktober 2017. Sebab itu, kita kunci APBD supaya tidak dibongkar. Semua program akan tetap berjalan,” kata Djarot di Balai Kota DKI, kemarin.

Mantan Wali Kota Blitar tersebut yakin program yang sudah direncanakan tetap berjalan karena juga didukung DPRD DKI.

“Kami menjaga hubungan baik dengan DPRD DKI. Sebagian besar teman kami di partai. Ketua DPRD juga dari PDI Perjuangan. Jadi kami akan berkoordinasi dengan DPRD DKI memastikan apa yang kami programkan itu bisa tetap diteruskan,” tuturnya.

Semua ini jelas terlihat, bahwa APBD yang dikunci adalah untuk menghindari dari tangan-tangan hitam, dan memang objektif jika pemimpin pemprov petahana belum memberikan kuncinya, karena masa jabatan mereka masih 6 bulan lagi, yang berarti masih banyak yang perlu dikerjakan dan meneruskan program.

Prabowo Subianto yang merupakan Ketua Partai Gerindra sekaligus mengusung pasangan no 3 Anies-Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, mengungkapkan untuk bertindak jika Ahok masih tetap menahan password APBD.

“Kami berharap Gubernur yang saat ini masih menjabat tidak mempersulit gubernur terpilih yang baru yakni Saudara Anies Baswedan. Kami tidak akan diam Jika dihalang-halangi, kami akan tindak tegas”. ungkap Prabowo.

Mengenai program apa saja yang bisa disinergikan dengan Anies Baswedan selaku penguasa baru, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku belum membahas secara rinci apa saja yang akan masuk Rancangan APBD 2018.

Namun, dari semua program, ada satu yang sama, yaitu kartu lansia atau program hari tua. Program tersebut diprioritaskan Ahok masuk APBD 2018.

“Saya sudah sampaikan program itu (kepada Anies) dan ternyata kami punya program yang sama.”

Ya tentu gak bisa, Anis-Sandi kan belum resmi menjabat dan belum pula dilantik. Masa belum apa-apa, sudah mulai main ngotot. Saya pikir hanya yang budek yang ngotot, seperti pelawak bolot.

Disisi lain program dari cagub-cawagub terpilih beredar kabar bahwa program mereka hendak dimasukkan ke anggaran APBD 2017 (yo mbok sing sabar toh pak, udah terpilih jadi sabarlah tunggu dilantik). Biarlah Ahok-Djarot menuntaskan kerjanya di sisa masa jabatan. Kan sudah dibilang Pak Ahok, kalau program tersebut diprioritaskan masuk APBD 2018. So, nyantai aja dulu.
Eh si bapak Prabowo malah sebut “…Kami tidak akan diam Jika dihalang-halangi, kami akan tindak tegas”. Yang menghalangi itu siapa? Semua ada proses dan ada prosedurnya, tidak bisa main ngotot dan memaksa kehendak. Ucapan-ucapan seperti ini bisa jadi bomerang.
Password APBD gak bakal ditahan, jadi tidak usah takut. Tunggu waktunya dan ikuti prosedur yang berlaku. Dilantik juga belum, lebih baik yang terpilih memikirkan untuk meloloskan sandera politik islam jika memimpin nanti, yang cukup memuakkan belakangan ini, serta merealisasikan janji-janji di masa kampanye, agar rakyat tak didustai. Ambisi nafsu berkuasa bukan hanya terlihat saat kampanye, terlihat juga saat sudah terpilih.

Referensi opini : Kabar dari detik dan pustaka.

Sabar bro, oktober nanti berakhir jabatan Basuki, so sabar ya. [seword]
Menebak di Mana Kaki JK Berada , Bisma Atau Sengkuni

Menebak di Mana Kaki JK Berada , Bisma Atau Sengkuni



Bagaimana pun sebagai warga Negara Indonesia, saya harus tetap menghormati Beliau. Selain Beliau adalah Wakil Presiden Republik Indonesia saat ini, secara tata krama, Beliau juga adalah orang yang dituakan dan selayaknya dihormati oleh kami-kami yang masih muda. Namun, belakangan ini ada yang mengganjal di benak saya perihal sikap Pak JK yang terkesan mendua.

Setidaknya ada dua momentum yang membuat saya bertanya-tanya, sebenarnya kaki Pak JK ini ada di mana?

Pertama adalah bagaimana Beliau bertemu dengan Zakir Naik (ZN), tokoh sektarian garis keras wahabi yang bahkan di Negara asalnya sendiri merupakan seorang buronan. Pihak otoritas India telah menetapkan ZN terkait dengan jaringan terorisme di India. Pada November 2016, media lokal melaporkan bahwa badan investigasi nasional Negara India (NIA) telah menggerebek beberapa properti komersial dan residensial milik ZN.

Dari hasil penggerebekan tersebut, pejabat NIA menyita beberapa dokumen yang diduga menunjukkan keterlibatan Islamic Research Foundation (IRF), organisasi yang dipimpin ZN, dengan para calon milisi yang akan melakukan perjalanan ke Suriah dan bergabung dengan ISIS.

Sekalipun kepada publik disampaikan bahwa Pak JK bertemu dengan ZN dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), namun mustahil memisahkan status Pak JK sebagai Wapres yang menemui tokoh kontroversial. Juga alasan yang disampaikan Sekretaris Wapres, Mohammad Oemar bahwa Pak JK tidak mengetahui lebih jauh tentang latar belakang ZN adalah suatu respons yang janggal. Masa dengan kapasitas Beliau sebagai Wapres tidak dapat memerintahkan jajarannya untuk mencari informasi terlebih dahulu tentang orang yang akan ditemui?

Yang menjadi masalah dari pertemuan tersebut adalah konteks sosial-budaya dan keagamaan yang ada di Indonesia. Sudah bukan barang baru bahwa radikalisme sektarian keagamaan berkedok keislaman sedang berkembang secara terstruktur, sistematis dan masif di Indonesia. Mempublikasikan pertemuan Wapres sebagai orang nomor dua di Indonesia (juga mewakili wajah pemerintah) dengan salah satu tokoh radikalis hanya akan men-justifikasi keberadaan mereka. Para kaum radikalis akan makin tersulut semangatnya untuk menjalankan agenda mereka di Indonesia karena merasa didukung pemerintah. Tidak mungkin pihak Wapres tidak bisa membaca hingga ke titik ini.

Inilah yang membuat saya menjadi bertanya-tanya, di manakah posisi Pak JK ketika kondisi bangsa sedang darurat radikalisme. Alm. KH. Hasyim Muzadi saja, salah satu tokoh cendekiawan Muslim terkemuka di Indonesia pernah menyatakan bahwa selain Indonesia berada dalam kondisi darurat narkoba, ia juga sedang berada dalam kondisi darurat radikalisme. Dan radikalisme ini upaya, daya, tenaga dan tujuannya tidak pernah main-main untuk mendirikan Negara Khilafah Indonesia dan menggeser Pancasila.

Kedua yang menambah alasan saya terus mempertanyakan Pak JK adalah keterlibatan konglomerasinya di dalam agenda politik berbasis SARA di pilkada DKI Jakarta. Kalla Group dan Bosowa Group (milik adik ipar Pak JK, Aksa Mahmud) berada di belakang Anies-Sandi ketika mengikuti kontestasi pilkada DKI. Sudah banyak tulisan saya (juga penulis-penulis lain) yang membahas bagaimana keberadaan oposisi di DKI ini akan mengganggu jalannya pemerintahan Pak Jokowi. Bukan saja karena gubernur yang mereka usung adalah orang yang sudah terbukti tidak bisa bekerja sama dengan Presiden, pada kelompok oposisi ini juga banyak bercokol kelompok-kelompok yang terindikasi makar dan kaum radikal.

Selalu yang saya khawatirkan dari komposisi kelompok semacam ini adalah narasi mereka sudah terpola di sepanjang sejarah. Politikus ambisius, ditambah penyandang dana dan massa keagamaan sektarian-radikal yang militan adalah perpaduan ramuan yang mematikan di dalam catatan banyak bangsa di dunia. Setidaknya ketika kita ikuti pola runtuhnya Negara-negara timur tengah, kita akan bisa membaca jalur yang serupa yang sedang dibangun di Indonesia.

Maka dari itu, sekalipun mungkin dukungan Kalla dan Bosowa Group hanya merupakan langkah strategis untuk mengamankan bisnis keluarga, saya mohon Bapak pertimbangkan nasib bangsa kita ke depan. Karena anak cucu kita sendiri yang akan memakan buahnya. Apakah kita tega menanam bibit buah maja yang pahitnya nanti akan ditelan keturunan kita?


Rangkuman dari salah satu surat kabar yang menjabarkan kelompok-kelompok konglomerasi yang mendukung pasangan Anies-Sandi.

Salah satu program Anies-Sandi yang menurut saya akan menjadi nutrisi penggemukan ormas-ormas radikal adalah soal bagi-bagi dana APBD untuk setiap ormas. Program ini saya garis bawahi untuk benar-benar diperhatikan, baik oleh pemerintah pusat maupun masyarakat. Selanjutnya titik yang harus kita waspadai adalah pilpres 2019 untuk yang terdekat, dan pilpres 2024. Kenapa 2024? Karena, jikalau pada skenario terbaik 2019 kembali dimenangkan oleh Pak Jokowi, maka pada 2024 kita (untuk sementara waktu) tidak memiliki figur kuat seperti Beliau lagi. Perhatikan saja, nama-nama mentereng dan tokoh senior yang sekarang sedang membangun tangga politik ada kubu sebelah mana? (PS, HT, TS, AB, dan yang lainnya).

Jikalau kita katakan “tenang, kita punya Ahok”. Jujur saja, sekalipun saya tidak mau pesimis, melihat pergerakan radikalis yang penetrasinya hingga ke kampung-kampung dan momentum pilkada di DKI Jakarta, maka dalam pandangan saya masyarakat kita belum siap. Terutama dalam menyikapi persoalan SARA.

Akhir kata dari saya bagi para Pembaca (Seword), dalam hati terdalam saya hanya bisa berdoa. Saya bukan siapa-siapa, hanya warga biasa yang rindu melihat bangsa saya untuk bangkit dan terbang. Dan saya yakin banyak Warga Negara Indonesia, apapun agama, kepercayaan, ras dan etnisnya merindukan hal yang sama.

Masakan Negara kita harus kembali terpuruk dan memasuki masa-masa tergelapnya hanya karena segelintir orang yang mau mengamankan kepentingan pribadinya? Apalagi jalan yang ditempuh adalah dengan menggunakan isu SARA. Masakan kita sampai hati mengorbankan masa depan anak cucu bangsa kita sendiri demi sedikit privasi? Tolong, janganlah tega.
Oleh Nikki Tirta.SWD
Jokowi: Api Sudah Sampai Di Depan Pintu Rumah Kita

Jokowi: Api Sudah Sampai Di Depan Pintu Rumah Kita




Oleh: Denny Siregar

Apa yang akan terjadi pada Pilpres 2019 nanti ?

Mari kita lihat bahwa pertarungan 2019 akan sama dengan 2014. Disana hanya akan ada dua kekuatan besar yaitu Prabowo dan Jokowi.

Kenapa begitu ? Apakah tidak ada calon lain selain mereka ?

Tentu ada. Tetapi tidak akan muncul atau dimunculkan. Karena memang disainnya adalah membangun dua kekuatan besar lalu membenturkannya.

Sebenarmya Pilgub Jakarta kemaren adalah contoh kecil Pilpres nanti. Isu-isu agama akan kembali dimainkan dengan menggunakan masjid-masjid. Kali ini temanya adalah Islam vs PKI.

Jokowi pelan-pelan akan di stigmakan sebagai PKI.

Meskipun serangan ini mungkin bukan serangan langsung ke pribadi beliau, tetapi ini akan menghantam orang2 disekitar beliau. Jokowi dikelilingi orang2 PKI, begitu isu besarnya. Dan genderang perang ini sudah dibangun mulai sekarang melalui ceramah, di masjid, pengajian dsbnya.

Prabowo akan memainkan kembali isu sebagai muslim, terutama ketika dibelakangnya dia adalah Islam garis keras yang tidak perduli siapa pemimpinnya yang penting yang mudah ditunggangi. Persis seperti Ahok, yang dicari adalah momentum kesalahan Jokowi dan dibangun untuk memunculkan demo-demo besar.

Kali ini untuk meluncurkan demo akan jauh lebih mudah. Penguasaan Jakarta dengan menangnya Anies Sandi adalah keuntungan utama. Masjid Istiqlal akan dijadikan sebagai simbol perlawanan dan memudahkan pendemo dari berbagai wilayah menginap disana.

Seperti Ahok juga, Jokowi akan dihadapkan pada dua pilihan simalakama.

Jika kalah, maka negara kembali akan dikuasai para mafia dan sistem yang sudah dibangun susah payah hancur seketika.

Jika menang, maka kemenangan itu tidak akan diterima lapang dada. Mereka akan berteriak, "Jokowi tidak mungkin menang kecuali main curang.." Persis pilgub Jakarta, kan ?

Beberapa partai yang awalnya berkoalisi dengan Jokowi dan PDIP akan pecah dan merapatkan barisan dengan Gerindra dan PKS. Terutama Golkar yang sekarang sedang terpecah dua. Juga PPP yang sudah merapat ke Gerindra. Nasdem liat-liat mana yang menguntungkan. Hanura tetap setia.

Pilpres 2019 akan menjadi pilpres terkeras yang kita lalui. Terutama karena disana banyak kepentingan yang saling berbenturan. Mulai penguasa, pengusaha, politikus dan tentara. Kemungkinan besar tentara akan mulai terpecah sesudah pilpres ini..

Ada yang bermain, ada yang memanfaatkan, ada yang mengamati dan yang paling berbahaya adalah yang menjadi penunggang setia.

Mereka yang nanti bertempur di pilpres, tidak sadar bahwa mereka sedang memainkan bola api besar yang panas sekali. Pikiran para politikus ini pendek, yang penting merebut kekuasaan tanpa melihat bahaya ke depan bahwa ada penunggan gelap di punggung mereka dengan jubah KHILAFAH.

Konsultan politik yang kemaren bermain permainan berbahaya dengan menggunakan masjid sebagai alat politik dan propaganda, juga tidak sadar bahwa ia sedang membangkitkan monster pelan-pelan.

Yang ada di pikirannya hanya uang dan bagaimana calon yang diusungnya menang. Tidak pernah berfikir bahwa apa yang dia lakukan itu suatu kesalahan besar yang akan disesalinya kemudian..

Semua elemen nasionalis harus duduk mulai sekarang dan memikirkan langkah apa yang harus dilakukan.

Sementara ini cuma Banser dan Ansor yang tampak aktif mencegat keberadaan HTI dimana-mana dengan logistik yang kurang. Belum lagi harus menghadapi FPI, FUI, MIUMI dan lain2 yang tidak kalah ganasnya..

Pemerintahan Jokowi sekarang ini memang kelhatan sekali berada pada posisi bimbang. Jika si Islam garis keras dihantam, mereka akan teriak HAM. Jika didiamkan, mereka merasa bahwa mereka mendapat peluang.

Si garis keras ini memang pengecut sekali.

Mereka selalu bersembunyi dibaik kata "Islam dan Muslim". Kalau diatas angin, mereka gagah berkoar, "Kami umat muslim mayoritas.." Tapi kalau terpojok tereaknya beda, "Sesama muslim bersaudara, jangan kami diadu domba dengan NU wahai syiah.."

Apa yang saya paparkan hanya berupa kemungkinan dengan melihat pola yang sama yang mereka lakukan di Suriah dan disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.

Semoga ini bisa menjadi perhatian kita bersama bahwa kemerdekaan itu tidak diberikan begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan sekuat tenaga..

Salam secangkir kopi...

(Sumber: dennysiregar,com)
9 Naga Membayar 9 Onta Untuk Menipu 9 Juta Keledai

9 Naga Membayar 9 Onta Untuk Menipu 9 Juta Keledai



Padahal kalau ditelusuri bisnis para taipan di atas itu berkibar karena ada fasilitas dari Cendana dan tidak ada hubungan dekat dengan Jokowi maupun Ahok. Nyatanya tuduhan 9 Naga itu tak pernah terbukti sampai sekarang, bahkan kemenangan Anies-Sandi kemarin justru membuka kedok 9 Naga itu mendukung siapa? Kemenangan Anies-Sandi itu kemenangan yang dipaksakan dengan cara-cara yang tidak fair dan gentelmen. Mereka menang dengan membelenggu Ahok dengan tuduhan mengada-ada lewat demo "Ahok Menista Agama, Ulama, Alquran", agar mereka bisa leluasa kampanye dan Ahok sibuk di pengadilan hingga tidak bisa konsentrasi dalam bekerja.Nyatanya tuduhan 9 Naga itu yang mendukung pembiayaan Anies-Sandi dan nama-nama di atas sebagian besar ada di belakang Paslon 3. Artinya tuduhan mereka sebenarnya untuk membuka kedok mereka sendiri.

Oleh : Stefanus Toni Aka Tante Paku

Dulu waktu Pilpres 2014 dihembuskan oleh kelompok cingkrang otaknya dengan isu kalau Jokowi didukung 9 Taipan yang mereka sebut dengan julukan 9 Naga sebagai penyandang dana dari etnis cina.

Hal serupa juga disebarkan kembali saat Pilkada DKI Jakarta 2017 bahwa Ahok didukung 9 Naga yang kelak akan menguasai Jakarta, bahkan akan menguasai Indonesia. Siapa saja pebisnis cina yang mereka tuduhkan itu?

1. Tommy Winata
2. Sugianto (Aguan),
3. Arief Prihatna (Cocong)
4. Edi Winata
5. Kwee Haryadi kumala (A Sie)
6. Cahyadi Kumala (Sui Teng)
7. Hari Tanoe Soedibyo
8. Iwan Cahyadi Karsa (Eng Tiong)
9. Johnny Kesuma

Padahal kalau ditelusuri bisnis para taipan di atas itu berkibar karena ada fasilitas dari Cendana dan tidak ada hubungan dekat dengan Jokowi maupun Ahok. Nyatanya tuduhan 9 Naga itu tak pernah terbukti sampai sekarang, bahkan kemenangan Anies-Sandi kemarin justru membuka kedok 9 Naga itu mendukung siapa?

Kemenangan Anies-Sandi itu kemenangan yang dipaksakan dengan cara-cara yang tidak fair dan gentelmen. Mereka menang dengan membelenggu Ahok dengan tuduhan mengada-ada lewat demo "Ahok Menista Agama, Ulama, Alquran", agar mereka bisa leluasa kampanye dan Ahok sibuk di pengadilan hingga tidak bisa konsentrasi dalam bekerja.

Nyatanya tuduhan 9 Naga itu yang mendukung pembiayaan Anies-Sandi dan nama-nama di atas sebagian besar ada di belakang Paslon 3. Artinya tuduhan mereka sebenarnya untuk membuka kedok mereka sendiri.

Teriak-teriak kalau Anies-Sandi kalah pasti DICURANGI, padahal faktanya mereka memang bermain curang agar tidak dituduh maling makanya teriak maling, maling duluan. Begitu juga dengan isu 9 Naga tadi, justru mereka di belakangnya sambil kasak-kusuk membuat perjanjian bila ingin Anies-Sandi menang telak!

Dan aksi-aksi TIGA ANGKA itu sebagian dari strategi cantik dari 9 Naga keturunan Tionghoa itu. Mereka bisa membayar siapa saja, tak perduli agamanya apa, jabatannya apa, uang yang berkuasa.Jadi kemenangan Anies-Sandi itu sudah membuka kedok mereka sekaligus memberi pelajaran bagi kita, bahwa para Taipan itu tetap NGAKAK walau kaum ONTA teriak-teriak USIR CINA, ANTEK ASENG, dan segala penistaan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia ini.

Karena faktanya : 9 Naga Membayar 9 Onta Untuk Menipu 9 Juta Keledai

9 Naga adalah para Taipan yang sudah muncul di balik pesta kemenangan Anies-Sandi kemarin.

9 Onta adalah para tokoh-tokoh berkedok agama yang terlibat aksi-aksi tiga angka kemarin.

9 Juta Keledai adalah warga Jakarta dan sekitarnya yang berhasil dibayar murah untuk HURA HURA HURU HARA di Jakarta kemarin.

Dan saya sudah pernah menuliskan prediksi kekalahan Ahok di Web Redaksi Indonesia ini dengan berbagai analisa yang ternyata hasilnya benar. Ahok kalah mutlak! Dan yang menang adalah 9 Naga tersebut, Anies-Sandi berikut partai pendukungnya adalah wayangnya mereka saja, para Taipan itulah dalang sebenarnya. [redaksindonesia]

Membongkar Hubungan PKS Dengan Amerika, Jonru Bungkam !


Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan dalam waktu dekat Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence akan berkunjung ke Indonesia dan bertemu Presiden Joko Widodo.

Wiranto menuturkan, saat pertemuan, mereka membicarakan substansi hal-hal yang akan menjadi bahan pertemuan antara Pence dan Jokowi.

Menurutnya, ada beberapa hal strategis yang akan dibicarakan terkait hubungan bilateral kedua negara. Meski demikian, Wiranto belum bisa memastikan kapan pertemuan itu akan dilakukan.

“Yang kami bincangkan bukan waktunya tetapi mengenai substansi apa yang kira-kira nanti bisa dijadikan acuan pembicaraan dengan Presiden jokowi. Hal-hal yang menyangkut masalah strategis yang bisa dibincangkan,” kata Wiranto seperti yang dimuat dalam media nasional ini.

Hal tersebut dibenarkan oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R. Donovan Jr, saat bertemu di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat seperti yang diberitakan dalam media nasional ini.

Menurut Joseph R. Donovan. Jr, Wapres Amerika, Mike Pence tidak hanya akan bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Indonesia.

“Beliau juga dijadwalkan akan bertemu, wakil presiden, menteri, dan pengusaha,” papar Joseph usai menghadiri seminar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta seperti yang dilansir dalam media nasional ini.

Tidak hanya itu, pasangan dari Donald Trump ini juga dijadwalkan akan bertemu dengan para pemuka agama di Masjid Istiqlal.

“Kami sangat nantikan kunjungan tersebut. Banyak sekali permasalahan yang akan dibahas dalam kemitraan strategis,” paparnya kepada wartawan seperti yang dimuat dalam media nasional ini.

Sementara itu, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengaku akan banyak bertanya mengenai kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) di era kepemimpinan Donald Trump, kepada Wapres AS Michael Richard Pence yang akan berkunjung ke Tanah Air, pada tanggal 20 April 2017 nanti.

Menurut JK, sangat penting mengetahui kebijakan ekonomi negeri Paman Sam tersebut, karena akan berdampak pada hubungan ekonomi dua negara yang sudah terjalin selama puluhan tahun.

“Saya ingin mengetahui apa kebijakan Amerika yang baru setelah Trump ini, efeknya (bagi) kita. Tetapi intinya adalah bagaimana kita tetap meningkatkan hubungan perdagangan dan juga hubungan politik dengan baik, tapi tentu kita tetap kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan kita,” kata JK seperti yang diberitakan dalam media nasional ini.

Apalagi, lanjutnya, banyak perusahaan besar asal AS yang berinvestasi di Tanah Air. Untuk itu, hubungan baik antara dua negara harus dijaga, terutama hubungan ekonomi dan perdagangan seperti yang dilansir dalam media nasional ini.

Bagaimana Respon Jonru ???

Jika Jonru pernah memfitnah Presiden Jokowi sebagai Syiah hanya karena Presiden Jokowi bertemu dengan perwakilan negara Iran beberapa waktu yang lalu seperti yang saya bahas dalam tulisan saya di https://seword.com/politik/membongkar-hubungan-pks-dengan-partai-komunis-china-jonru-bungkam/.

Apakah Jonru akan memfitnah Presiden Jokowi lagi sebagai antek Amerika (antek asing) saat Presiden Jokowi akan bertemu Wapres Amerika pada tanggal 20 April 2017 nanti ???

Ssssttt, Jonru berkoar lantang dengan memfitnah Presiden Jokowi sebagai antek Syiah hanya karena Presiden Jokowi bertemu dengan perwakilan negara Iran, tapi jonru BUNGKAM saat Presiden PKS, Sohibul Iman bertemu dengan dubes negara komunis di markas DPP PKS !!!

Bahkan Jonru juga bungkam saat mengetahui jika PKS sudah lama bekerjasama dengan Partai Komunis China seperti yang udah penulis bahas dalam link tulisan di atas !!!

Hubungan Antara PKS Dengan Amerika

Ada yang pernah ingat jika PKS melakukan demo boikot produk Amerika seperti yang dimuat dalam media nasional ini ???


http://news.liputan6.com/read/280698/demo-pks-ajak-boikot-produk-amerika

Atau ada yang masih ingat kader PKS hasil liqo kemarin sore yang “didoktrin” untuk boikot produk Amerika seperti foto di bawah ini dan dimuat dalam situs PKS ???



http://www.pksdepok.com/2012/09/pandu-keadilan-geruduk-kedubes-amerika.html

Apakah Anda termasuk orang yang berhasil “ditipu” oleh PKS dan percaya bahwa PKS yang mengklaim dirinya sebagai Partai Dakwah benar-benar anti Amerika seperti koar-koar mereka yang berteriak lantang anti Amerika selama ini di media sosial ???

Jika kader-kader PKS hasil liqo kemarin sore “didoktrin” untuk demo boikot produk Amerika, tetapi Muhammad Anis Matta, Presiden PKS saat itu dengan sadar tanpa paksaan malah “halal” menggunakan produk Amerika berupa KFC dan topi Nike seperti foto berikut ini : (Jonru bungkam ya melihat sifat “kemunafikan” Muhammad Anis Matta di bawah ini !!! Ha ha ha)


https://mobile.twitter.com/gunromli/status/450113049395875840?lang=en

Bukan hanya Muhammad Anis Matta, Presiden PKS saat itu yang “halal” menggunakan produk Amerika, meskipun Anis Matta sendiri “mendoktrin” kader-kader PKS hasil liqo kemarin sore untuk “akting” sok demo boikot produk Amerika, bahkan LHI, Presiden PKS (sebelum Anis Matta) yang merupakan “koruptor” sapi malah ketawa-ketiwi saat bertemu dengan dubes Amerika di markas DPP PKS seperti dalam foto berikut ini :


http://www.rmol.co/read/2011/03/12/20769/PKS-AMERIKA-MESRA-

Kasihan banget ya anak-anak muda hasil liqo kemarin sore “didoktrin” oleh PKS untuk “akting” demo boikot produk Amerika, sementara Presiden PKS, Muhammad Anis Matta “halal” menggunakan produk Amerika, bahkan LHI yang juga Presiden PKS (sebelum Anis Matta) malah ketawa-ketiwi dengan dubes Amerika di markas DPP PKS !!!! wkwkwkwkwk

Sssstttttt, Tifatul Sembiring (Presiden PKS setelah HNW dan sebelum LHI) malah pernah mengucapkan Terima Kasih kepada Amerika seperti yang dibongkar oleh situs intelijen Wikileaks dan pernah dimuat dalam media nasional berikut ini !!! Wkwkwkwkw


http://news.detik.com/berita/1711888/wikileaks-tifatul-berterima-kasih-diplomasi-as-untungkan-pks

Tiga orang Presiden PKS “mesra” dengan Amerika tapi jonru bungkam ??? Jonru waras ???

Masih percaya dengan PKS yang mengklaim dirinya sebagai partai dakwah dan koar-koar teriak anti Amerika tapi faktanya 3 orang Presiden PKS malah “mesra” dengan Amerika ???

Masih kurang percaya jika PKS merupakan “antek” Amerika tapi “berakting” seolah-olah anti Amerika ???

Pengamat politik internasional KH Hasyim Wahid (Gus Iim) menyatakan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), salah satu partai politik berbasis Islam yang mulai berkembang di Indonesia hanyalah mainan baru Amerika Serikat seperti yang dimuat dalam situs resmi milik NU berikut ini :


http://www.nu.or.id/post/read/15198/gus-iim-pks-jadi-mainan-baru-amerika

Penulis sudah berjanji kepada pembaca setia Seword akan membongkar “kedok” PKS secara perlahan tapi pasti….

PKS sudah siap kan jika saya bongkar “kedoknya” sebagai pendukung pemberontak Suriah yang merupakan buatan Amerika, Turki, Arab Saudi dan sekutunya di Qatar tapi PKS sok teriak anti Amerika dan teriak anti zionis ? [swd]
Investigasi Allan Neirn, Prabowo Subianto Ancaman Rezim Otoriter Jinak

Investigasi Allan Neirn, Prabowo Subianto Ancaman Rezim Otoriter Jinak


Pilkada DKI Jakarta 2017 telah usai. Pesta demokrasi rakyat DKI Jakarta mewariskan sejarah bagi anak cucu kelak bahwa Pilkada DKI Jakarta di tahun 2017 ini adalah pilkada terkotor sepanjang sejarah yang pernah dialami oleh bangsa ini.

Kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno adalah bentuk dari matinya demokrasi di negeri ini akibat ingkat ketegangan dan ketakutan-ketakutan imajiner yang sengaja dibuat selama masa kampanye dan hari H pencoblosan.

Sejarah membuktikan bahwa pemimpin yang lahir dari ketakutan rakyat tidak akan pernah melahirkan kepemimpinan yang bagus. Kepemimpinan Presiden Soeharto adalah bukti sahih yang tidak terbantahkan.

Melalui cara-cara otoriter lunak, kemenangan Anies-Sandi dalam pilkada DKI Jakarta 2017 telah membuka jalan yang lebar bagi Prabowo Subianto dan para afiliasi politiknya serta para pejuang oposisi jalanan menerapkan pola paket yang sama dalam agenda pilpres 2019 mendatang.

Pola dan cara-cara yang sama akan diterapkan dalam pilpres 2019 dengan memberdayakan ormas radikal, tudingan racun neo komunisme dan neoliberal terhadap pemerintah, menciptakan ketakutan dan keresahan, serta menunggani agama dalam politik praktis untuk mempengaruhi psikologi massa. Suka tidak suka, ini sudah berhasil diterapkan dalam pilkada DKI Jakarta 2017 ini.

Sisi Gelap Pemikiran Prabowo Subianto

Allan Nairn adalah seorang Jurnalis khusus investigasi yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk berjuang menentang kebijakan-kebijakan Amerika Serikat yang menghisap dan membunuh orang-orang sipil di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Hampir 20 tahun lamanya ia meleburkan dirinya dalam perjuangan rakyat di Timor Leste, Papua Barat dan Aceh. Sepak terjangnya membuat almarhum mantan Presiden Soeharto murka dan melarang Allan Nairn masuk ke Indonesia karena dianggap sebagai musuh negara dan ancaman bagi keamanan nasional.

Demi kepentingan sisi kemanusiaan, Allan Nairn mengungkapkan sisi gelap pemikiran Prabowo Subianto melalui wawancara tatap muka mereka pada tahun 2001 yang silam di kantor salah satu perusahaan milik Prabowo Subianto di Mega Kuningan, Jakarta Pusat.

Dalam wawancara eksklusif yang berdurasi 4 jam itu, Prabowo Subianto menjelaskan dengan meledak-ledak bahwa bangsa ini belum siap untuk hidup berdemokrasi karena terlalu banyaknya ragam suku, agama dan ras. Oleh karena itu bangsa ini membutuhkan suatu sistem pemerintahan yang efektif berupa rezim otoriter yang jinak.

Prabowo Subianto juga berbicara panjang lebar tentang fasisme, demokrasi, kebijakan membunuh dalam tubuh militer, hubungannya dengan Pentagon dan intelijen Amerika, serta menyinggung mantan Presiden RI Gus Dur.

Dalam wawancara itu, Prabowo menyebutkan bahwa bahwa hal yang memalukan bagi militer tunduk pada Presiden yang matanya buta. Bukan hanya melontarkan hinaannya terhadap Gus Dur, Prabowo Subianto bahkan pernah mengancam akan menembak Gus Dur.

Dalam buku yang ditulis oleh H. Muhammad Zaki, “Gus Dur Presiden Republik Akhirat”, Prabowo Subianto yang saat itu menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus melontarkan ancaman kepada Gus Dur karena kerap mengkritisi pemerintahan Presiden Soeharto saat itu.

“Sampaikan pada Gus Dur, kalau tetap berkoar-koar seperti itu, saya punya 100 Snipper (penembak jitu) yang siap membuangkan Gus Dur”

Gus Dur menanggapi ancaman Prabowo kala itu dengan santai. “Kalau benar Prabowo bilang begitu, tolong tanyakan kepadanya, Prabowo agamanya apa? Kalau dia menjawab Islam, tolong tanyakan nyawa itu milik siapa?”

Sadis memang. Bukan tidak mungkin hal yang sama jika pada pilpres 2019 mendatang Prabowo Subianto berhasil memenangkan pilpres seperti kemenangannya yang telak pada pilkada DKI Jakarta 2017 ini. Saya tidak bisa membayangkan negara ini akan jadi apa jika ditelisik dari kepribadian Prabowo Subianto yang keras, pemarah dan cenderung otoriter, diktator, kejam dan bengis.

Yang jelas sistem pemerintahan yang dijalankan akan cenderung otoriter, militeristik dan fasis. Pola pemerintahannya akan membawa kembali bangsa ini ke genggaman penguasa tirani yang bahkan tidak menutup kemungkinan bisa lebih kejam daripada rezim Soeharto.

Dalam wawancaranya Allan Neirn kala itu, Prabowo Subianto mengidolakan sistem pemerintahan seperti yang dianut Presiden Pakistan Perves Musharraf yang fasis dan diktator.

Bukan hanya itu saja, Prabowo Subianto bahkan juga mengajari cara yang efektif bagi militer untuk membantai warga sipil. Sisi gelap pemikiran Prabowo Subianto itu terungkap setelah dipancing Allan Nairn mengenai tragedi santa Cruz, Timor Leste. Kepada Allan Nairn, Prabowo Subianto memberitahu bahwa untuk membantai warga sipil harus dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, bukan dengan cara mengumbar tembakan ditengah kota.
Prabowo Subianto menyebut bahwa militer Indonesia kala itu bodoh karena membantai warga sipil tanpa perencanaan yang matang. Seharusnya mereka membantai di desa-desa terpencil sehingga tidak diketahui oleh siapa pun, bukan di tengah ibu kota provinsi. Prabowo Subianto marah karena akibat kelalaian militer Indonesia tanpa perencanaan pembantaian yang matang, seluruh dunia jadi tahu kekejaman mereka.

Peluang Prabowo Subianto Menuju Kursi Orang Nomor Satu di Negeri Ini


Prabowo Subianto adalah mantan militer yang tangguh. Kekalahannya pada pillres 2014 yang lalu tidak serta merta membuatnya pantang menyerah begitu saja. Peluang Prabowo menuju kursi orang nomor satu di negeri ini cukup besar jika rakyat kecil tidak diberi asupan informasi yang benar sejak dini tentang karakter Prabowo Subianto yang sesungguhnya.



Keberhasilannya dalam pilkada DKI Jakarta 2017 ini adalah contoh nyata keberhasilan strateginya menyetir pemahaman politik rakyat kecil. Selain itu, Prabowo Subianto juga memiliki kekuatan pendanaan yang kuat.

Selain sebagai pengusaha yang punya hubungan dengan jaringan multinasional, Prabowo Subianto juga disokong penuh oleh adiknya, Hasyim Djojohadikusumo, seorang bilyuner dan merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia yang memiliki hubungan yang kuat dengan korporasi multinasional.

Selain itu, Prabowo Subianto juga menguasai ormas-ormas radikal, para pejuang oposisi jalanan, strategi militer yang efektif, serta kekuatan stasiun-stasiun TV yang dimiliki oleh para konglomerat oligarki untuk mengatur arah konten politiknya.

Prabowo Subianto juga adalah seorang orator yang handal yang menampilkan sosok sebagai sebagai seorang pengayom rakyat miskin dan orang yang tidak akan tunduk pada aseng (Baca: kekuatan asing).

Ini adalah fakta karena selama ini Indonesia dieksploitasi pihak asing selama puluhan tahun dimana rakyat kecil adalah pihak yang paling terkena imbasnya. Fakta-fakta inilah yang harus diwaspadai sejak dini sebelum semuanya terlambat.
Sikap Otoriter Prabowo Subianto, Bahaya Bagi Demokrasi NKRI

Selain kesaksian Allan Neirn, ada juga kesaksian Wiranto dalam bukunya “Dari Catatan Wiranto-Bersaksi di Tengah Badai”, Sintong Panjaitan dengan bukunya “Perjalanan Seorang Prajurit Komando”, B.J. Habibie dengan bukunya “Detik-detik yang Menentukan”, semuanya mengarah ke hal yang sama mengenai sisi kelam karakter Prabowo yang keras dan otoriter.

Ketika masih dalam pendidikan di Akademi Militer di Magelang, Prabowo Subianto pernah memukul SBY sampai babak belur karena menganggap SBY telah melaporkan dia ke atasan mereka saat itu, Sarwo Edhi Wibowo (ayah Ani Yudhoyono). Saat itu Prabowo bersama beberapa rekannya diam-diam keluar dari asrama mereka di Magelang, lalu ke Jakarta untuk bertemu dengan Titiek Soeharto, putri ke-empat Presiden Soeharto, yang saat itu dipacarinya.

Hal ini disampaikan oleh Hermawan Sulistyo, yang menjadi Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk kasus Kerusuhan Mei 1998. Hermawan juga menceritakan ketika ditemukannya mayat-mayat aktivis yang muncul satu per satu ke permukaan laut di sepanjang jalur Kepulauan Seribu sampai ke wilayah perairan Lampung di lepas Pantai Kalianda.

Menurut Hermawan hanya karena kebesaran Allah yang membuat mayat para aktivis itu bisa muncul ke permukaan laut, padahal kaki mereka semua sudah dirantai dan diberi pemberat. Tim TGPF juga menemukan satu mayat di Cemeru Sewu, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan luka tusukan bayonet di lambungnya.

Tantangan Allan Nairn dan Prabowo yang Membisu

Meskipun wawancara dengan Prabowo Subianto saat itu sudah terjadi kurang lebih 16 tahun yang lalu, namun sampai saat ini tidak ada perubahan pada karakter Prabowo Subianto. Sungguh tragis apabila masih saja ada rakyat Indonesia, yang karena ketidaktahuannya, tanpa sadar terhipnotis dengan ketokohan seorang Prabowo Subianto.

Tantangan Allan Nairn untuk dikonfrontir dengan Prabowo di depan Pengadilan pun tidak berani diladeni Prabowo. Padahal tidak sedikit rakyat Indonesia yang tidak percaya dengan apa yang diungkapkan Allan Nairn dari hasil wawancara mereka.

Bagi para pendukung fanatik Prabowo Subianto mungkin akan berkata bahwa kesaksian Allan Nairn tidak bisa dipakai sebagai rujukan karena Allan Nairn adalah orang asing yang barangkali punya niat terselubung untuk mengadu domba bangsa ini, tapi saya tidak berpendapat demikian. Ini bukan masalah mencampuri urusan negara lain, akan tetapi semata-mata murni masalah kemanusiaan yang diperjuangkan Allan Neirn selama ini.

Selain itu, selama tidak pernah ada upaya hukum dari Prabowo Subianto secara pribadi untuk membersihkan namanya dari dosa masa lalu guna meyakinkan rakyat Indonesia bahwa semua tuduhan Allan Nairn terhadap dirinya sama sekali tidak benar.

Allan Nairn bahkan mempersilahkan Prabowo Subianto mengajukan gugatan pencemaran nama baik di pengadilan Indonesia, namun tidak dilakukan oleh Prabowo Subianto. Di pengadilan dan dibawah sumpah, Allan Nairn akan membuka semua peran Prabowo Subianto dalam pembunuhan rakyat sipil di masa lalu.

Tantangan Allan untuk dikonfrontir dengan Prabowo Subianto di depan Pengadilan pun tidak diladeni Prabowo. Padahal tidak sedikit rakyat Indonesia yang tidak percaya dengan apa yang diungkapkan oleh Allan Nairn.

Selain itu, jika Allan Nairn bertujuan mengadu domba bangsa ini, buktinya Allan Nairn menantang Prabowo Subianto untuk bergabung bersama dirinya untuk menuntut semua Presiden Amerika Serikat yang hipokrit dan masih hidup untuk diadili dan dipenjara karena peran mereka dalam kejahatan terhadap kemanusiaan dan pembunuhan massal terhadap warga sipil di Indonesia.

Allan Nairn juga juga menantang Prabowo Subianto agar bergabung bersama dengannya guna menyerukan agar Freeport McMoRan diusir dari Indonesia karena eksploitasi sumber daya alam Papua yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Indonesia dan isu kontrak-kontrak tambang.

Namun Prabowo Subianto tidak berani meladeni tantangan Allan Nairn. Silahkan pembaca asumsi sendiri kenapa bisa begitu. [seeword]

Salam Dari Jabar Buat DK : Memimpin Daerah Yang Kompleks Tidak Semudah Seperti Memimpin Satu Agama


BY MUHAMMAD SABRI ON APRIL 21, 2017POLITIK
Di masa saya sekolah dulu dan di berbagai percakapan sering sekali saya dapati orang-orang dewasa dan anak-anak kecil warga negara Indonesia menanyakan “kenapa yah Indonesia alamnya kaya raya letak negaranya strategis tetapi negaranya tidak maju dan penduduknya banyak yang miskin?”
Hari ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mayoritas warga Jakarta karena telah memberi jawaban kongkrit atas pertanyaan tersebut, jawaban yang membuat saya tidak perlu bingung lagi menjawabnya dengan berbagai teori sosiologis, ekonomis dan politis dan sebagainya. kali ini, jika saya mendapati ada orang yang mengajukan pertanyaan seperti itu, akan saya jawab “lihat pilgub DKI 2017”.
ya, pilgub kali ini memaparkan dengan sangat jelas kenapa negara Indonesia sampai detik ini tidak menjadi negara maju.
sebelum melangkah lebih jauh saya ingin mengutip sebuah hadits
“Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuranitu.” (BUKHARI – 6015).
Ya, terima kasih warga Jakarta, kalian telah menyerahkan urusan pemerintahan di provinsi anda yang menjadi barometer Indonesia kepada yang bukan ahlinya, sekali lagi terima kasih.
karena beberapa ayat yang diterjemahkan dan disalahgunakan secara SEMBARANGAN kalian telah ikut andil melakukan KEDZALIMAN terhadap jutaan orang. Kalian DZALIM, kalian DZALIM karena telah menyerahkan kepengurusan (sekali lagi, KEPENGURUSAN bukan KEPEMIMPINAN) ibu kota negara SAYA dan 250 juta orang lainnya kepada yang BUKAN ahlinya. Kalian DZALIM, ingat itu, KALIAN DZALIM.
Sekarang jelas sudah, kalian telah membuktikan kebenaran hadits Rasulullah diatas. Ini baru pilgub, berarti sangat besar kemungkinan kita kita menggunakan standar yang sama dalam pemilihan pemilihan lainnya. Wajar dunia politik kita kacau balau seperti sekarang ini. Terima kasih warga Jakarta.
Besok kejutan apa lagi yang akan diberikan warga Indonesia? Memilih orang yang mengurus negara ini karena panjang panjangan jenggot? Karena hitam hitaman jidat? Karena merdu merduan suara dalam melakukan tilawah Qur’an?
Jujur saya dulu sempat besar di lingkungan yang seperti itu, saya sempat mengalami 2 kali pemilihan gubernur Jawa Barat. Apa yang dibicarakan oleh orang orang sekitar saya mengenai Ahmad Heryawan yang waktu itu merupakan kandidat gubernur Jawa Barat? “Kang Aher hafal Qur’an”, “Kang Aher bisa baca kitab gundul”. Sekarang saya jadi ingat orang orang di sekitar saya dulu sama sekali tidak pernah membicarakan program, prestasi dan track record, mereka hanya meng elu elu kan keshalehan pribadi Ahmad Heryawan.
Hey, sesaleh apapun birokrat yang mengurus wilayah kalian, tidak akan memperbesar peluang kalian masuk surga SEDIKIT PUN, ingat itu. Se bejat apapun birokrat yang mengurus wilayah kalian juga tidak akan mengurangi kesempatan kalian untuk masuk surga SEDIKIT PUN.
Yang kalian lakukan hanya menghancurkan kesempatan kalian dan orang orang lain untuk menikmati pelayanan publik yang baik, pembangunan yang nyata dan kelegaan ekonomi yang akan menjauhkan puluhan juta bahkan ratusan juta orang dari kefakiran yang dekat dengan kekafiran. Peluang kalian masuk surga SAMA SEKALI TIDAK DIPENGARUHI oleh kesalehan kepala daerah kalian. Ingat itu dasar orang orang dzalim.
Ayat yang kalian salah gunakan itu bukan tentang pemilihan kepala daerah, ayat itu bukan tentang pemilihan gubernur, ayat itu bukan tentang pilkada. Tidakkah kalian mempelajari itu? Tidakkah kalian takut mempergunakan ayat Allah untuk agenda politik kalian? BELAJAR TAFSIR WOY! Jangan langsung percaya saja apa yang diteriakkan orang yang KELIHATANNYA mengerti agama. Gak semua pengkhotbah Jum’at yang kalian dengarkan mengerti apa yang mereka bicarakan.
Kepada saudara sebangsa dan setanah air yang tidak beragama Islam, saya tidak bisa membayangkan betapa kecewanya kalian dengan bangsa yang kemerdekaan dan kemakmurannya kita perjuangkan bersama sama ini. kalian bisa saja menjadi seorang lulusan S3 dari universitas paling unggul di dunia, meraih hadiah nobel, memiliki bergudang gudang prestasi, jujur, pekerja keras tapi dalam pilkada atau pilpres kalian bisa saja akan dikalahkan oleh orang yang buta huruf, tidak berpendidikan, tidak berpengalaman, korup dan pemalas asalkan seiman dengan mayoritas penduduk. Maafkan kondisi Indonesia yang seperti ini, maaf saudara saudara.
Oke, kedepannya apa yang kita cari? Orang yang paling merdu adzannya untuk jadi mentri keuangan? Orang yang bisa baca kitab gundul untuk jadi gubernur? Ahli tafsir untuk jadi mentri telekomunikasi? Orang yang jenggotnya paling panjang dan dahinya paling hitam untuk jadi presiden? Apa besok kalian akan memberikan kejutan lagi dengan membuat orang orang paling berprestasi dan cemerlang di Indonesia tidak bisa mendapatkan posisi strategis hanya karena tidak berjenggot, tidak bisa baca kitab gundul dan ngomong bahasa Arabnya belepotan? Terima kasih warga jakarta, kalian menjawab dengan sangat jelas kenapa Indonesia tidak maju maju sampai hari ini. Kalian telah membuktikan kebenaran hadits Rasulullah diatas, terima kasih.
Kenapa saya ngotot sekali mengenai hal ini, karena saya tidak pernah SEKALI PUN menemui pendukung Anies-Sandi yang mengatakan mereka memilih karena program, prestasi dan track record, TIDAK SEKALI PUN. terima kasih warga Jakarta.
Mulai besok jika saya atau anak anak saya bercita-cita menjadi presiden atau gubernur, akan saya sarankan mereka menghafal Qur’an dan bisa membaca kitab gundul seperti kang Aher. Karena ternyata itu yang dicari mayoritas orang Indonesia. percuma berprestasi dan berpendidikan tinggi, jujur dan pekerja keras, hal itu tidak pernah dibahas. belajar dari Aher, belajar dari pilgub Jakarta. Terima kasih warga Jakarta.
Sekarang saya tidak heran lagi kenapa Indonesia tidak maju maju sampai hari ini.
Terima kasih (sebagian besar) warga Jakarta.
Dari perbatasan provinsi ini....
Lima Ciri Islam Sontoloyo Menurut Bung Karno

Lima Ciri Islam Sontoloyo Menurut Bung Karno

Juni adalah bulan Soekarno. Di bulan ia lahir dan wafat ini penting untuk kita mengingat kembali gagasan pendiri bangsa ini tentang Islam. Perhatiannya terhadap Islam begitu bergairah di zaman kemerdekaan. Berbagai gagasannya tentang Islam masih sangat relevan hingga kini.
Presiden pertama Indonesia yang akrab disapa Bung Karno ini mengedepankan esensi dan substansi Islam ketimbang simbol-simbol Islam yang kaku. Ia menyalakan, apa yang ia sebut sebagai, api Islam. Ia ingin menghidupkan kembali jiwa Islam sebagai ajaran universal sebagaimana visi etik Al-Quran dan sunah Nabi Muhammad.
Karena itu, ia menolak kecenderungan apa yang ia sebut sebagai masyarakat onta atau Islam Sontoloyo. Kecenderungan ini bukan hanya masih menggejala, bahkan kian menguat kini.
Sebagai pencetus Pancasila dan merumuskan nilai-nilainya, ia mengadopsi apa yang dilakukan Nabi Muhammad di Madinah sebagai petun­juk urusan menyusun dan membangkitkan masyarakat. Pancasila itu salah satu wujud bagaimana Bung Karno menerapkan visi etik Al-Quran dan sunah nabi itu.
Bung Karno mendalami Islam saat berada di Endeh. Bahkan menurut H.A. Notosoetardjo dalam Rakyat Bertanya Bung Karno Menjawab, ia menekuni pengetahuan Islam berawal saat dari Penjara Sukamiskin kemudian dilanjutkan dengan lebih intensif saat pembuangan di Endeh. Ia baru mulai mengeluarkan berbagai pendapatnya di media massa mengenai masalah-masalah Islam saat ia dipindahkan ke Bengkulu.
Dalam berbagai tulisannya tentang Islam itu tampak pengetahuan Bung Karno tentang Islam begitu luas dan mendalami persoalan. Selain melahap berbagai buku dari para ulama di berbagai negeri Islam, ia juga murid dari tokoh utama Sarekat Islam: Tjokroaminoto (Baca: Islam Progresif Tjokroaminoto).
Bisa dibilang, berbagai gagasannya tentang Islam ikut memberi landasan Islam Indonesia atau Nusantara.
Berikut lima ciri masyarakat onta atau Islam Sontoloyo yang menurutnya membuat Islam mundur dan konflik tak berujung di tengah masyarakat dan penghambat kemajuan bangsa.
  1. Royal Mencap Kafir
Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an) dan Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (1940), Bung Karno menulis kritik terhadap kecenderungan sebagian ulama dan umat Islam saat itu yang begitu mudah mencap kafir.
“Kita royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”. Pengetahuan Barat kafir; radio dan kedokteran kafir; sendok dan garpu dan kursi  kafir; tulisan Latin  kafir; yang bergaul dengan bangsa yang bukan bangsa Islam pun kafir!”
Menurut Bung Karno, yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, radio dan listrik, kemoderenan dan ke-uptodate-an berarti mereka mau tinggal dalam keterbelakangan, kuno, makan tanpa sendok, dan naik onta.
Astagfirullah, inikah Islam? Inikah agama Allah?” tulisnya.
  1. Taklid Buta
Bagi Bung Karno, taklid itu seperti abu, debu, dan asap. Ia bukan api Islam. Islam tak lagi jadi agama yang boleh dipikirkan secara merdeka, tapi telah menjadi monopoli kaum fakih dan kaum tirakat.
“Hampir seribu tahun akal dikungkung sejak kaum Mu’tazilah sampai Ibnu Rusyd dan lainnya. Asy’arisme pangkal taklidisme dalam Islam. Akal tidak diperkenankan lagi. Akal itu dikutuk seakan-akan dari setan datangnya,” paparnya.
Mengutip Snouck Hurgronje, ia mengatakan ulama dari segala waktu terikat pada ucapan ulama terdahulu, masing-masing dalam kalangan mazhabnya. Syariat itu akhirnya bergantung kepada ijma’ dan tidak kepada maksud-maksud firman yang asli.
Padahal jelas, baginya, dua sumber utama Islam adalah Kalam Allah dan Sunah Rasul. Dari dua sumber ini pula para ulama mengambil kesimpulan hukum. Dari dua sumber utama ini pula kita mesti menyalakan api Islam.
Menurut Bung Karno, Al-Quran dan Hadits itu tidak berubah. Bahkan “teguh selama-lamanya, tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas.” Tapi pandangan masyarakat yang senantiasa berubah, berevolusi, dinamis, mengalir.
  1. Mengutamakan Fikih
Dalam Islam Sontoloyo (1940), Bung Karno menulis bahwa fikih bukanlah satu-satunya tiang keagamaan. Tiang utamanya ialah terletak dalam ketundukan kita punya jiwa pada Allah.
“Fikih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama. Belum dapat memenuhi syarat-syarat ketuhanan yang sejati, yang juga berhajat kepada tauhid, akhlak, kebaktian ruhani, kepada Allah,” tulisnya.
Menurutnya, Al-Quran dan api Islam seakan-akan mati karena kitab fikih itu sajalah yang dijadikan pedoman hidup, bukan kalam Illahi sendiri.
“Dunia Islam sekarang ini setengah mati, \tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sama sekali tenggelam dalam kitab fikihnyasaja, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya agama yang hidup.”
Hal itu tak berarti Bung Karno membenci fikih. Menurutnya, fikih tetap penting. Bahkan ia menyebutkan, masyarakat Islam tak dapat berdiri tanpa hukum-hukum fikih. Sebagaimana tiada masyarakat tanpa aturan perundang-undangan.
“Saya hanya membenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fikih, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja,” tulisnya.
Dengan mengutip Farid Wadji, Muhammad Ali, Kwada Kamaludin, Amir Ali, ia mengatakan bahwa alangkah baiknya di samping mempelajari fikih kita juga dengan sungguh belajar nilai dan visi etik Al-Quran.
Ini Bung Karno praktikkan, salah satunya saat anjing yang ia pelihara menjilat air di dalam panci di­ dekat sumur. Ia kemudian Ia pun meminta Ratna Juami untuk membuang air itu dan mencuci  panci itu beberapa kali dengan sabun dan kreolin.
“Di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin! Nabi s.a.w. sendiri telah menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak nyata haram atau makruh,” paparnya.
  1. Tak Melek Sejarah
 Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an), Bung Karno menulis, umumnya kita punya ulama dan kiai tapi tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarahnya. Mereka punya minat hanya tertuju pada agama, terutama pada bagian fikih. Tapi pengetahuan tentang sejarah umumnya nihil. Padahal sejarah adalah padang penyelidikan yang maha penting!
“Kebanyakan mereka tak mengetahui sedikitpun dari sejarah itu. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masayarakat yang menyebabkan kemajuan atau kemundurannya sesuatu bangsa. Sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian,” tulisnya.
Paling mujur, lanjut Bung Karno, mereka hanya mengetahui tarikh Islam saja. Dari tarikh Islam ini seharusnya mereka sudah dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. Tapi umumnya kita mempelajari hukum, kenal isi kitab fikih, mengetahui tiap perintah dan larangan agama hingga yang terkecil, tapi kita tidak mengetahui bagaimana cara Nabi, para sahabat, tabiin, khalifah menaafsirkan perintah dan larangan-larangan Allah di dalam urusan sehari-hari dan urusan negara.
“Kita sama sekali gelap dan buta buat di dalam hal menafsirkan itu oleh karena tidak mengenal tarikh,” imbuhnya.
Menurutnya, pelajaran terbesar dari sejarah adalah bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda di atas angkasa karena fikih tidak berdiri sendiri. Fikih disertai dengan tauhid dan etiknya Islam yang menyala-nyala. Fikih  hanyalah “kendaraan” saja.
Kendaraan ini dikusiri oleh rohnya etik Islam serta tuhid yang hidup. Dengan fikih yang demikian itulah umat Islam menjadi cakrawati (pucuk pimpinan) di separuh dunia!
Dengan mengutip Essad Bey, Bung Karno mengatakan, jia kedudukan fikih begitu sentral  di situlah Islam membeku menjadi satu sistem formil belakang. Ia tiada bergerak lagi, ia mandek! Bukanlah saja mandek, fikih bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas hidup.
Jika pemuka dan umat Islam Indonesia tetap tidak mengindahkan pelajaran besar dari sejarahnya sendiri dan mengikuti jejak para pemimpin besar di negeri lain serta hanya berorientasi fikih, maka jangan harap umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai kekuatan jiwa hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang ini.
  1. Hadis Lemah sebagai Pedoman
Menurut sebagian ulama, hadis lemah (da’if) bisa dijadikan sumber hukum selama tak bertentangan dengan Al-Quran. Bagi Bung Karno sendiri, hadis lemah di antara yang menyebabkan kemunduran Islam.
“Saya perlu kepada Bukhari atau Muslim itu karena di situlah dihimpun hadis-hadis sahih. Walaupun dari keterangan salah seorang pengamat Islam bangsa Inggris, di Bukhari pun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Dia pun menerangkan, bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam banyaklah karena hadis-hadis lemah itu yang sering lebih laku daripada ayat-ayat Al-Quran. Saya kira anggapan ini adalah benar.”  ***
(Achmad Rifki)

KAPOK! Putri Marissa Haque Pendukung Paslon 3 di Skakmat Artis Chaca Frederica






Chicki Fawzi-www.dream.co.id

Ada yang menarik dari sebuah video yang diupload melalui laman video youtube baru-baru ini. Siaran televisi TV One yang menghadirkan beberapa artis pendukung paslon dihadirkan disatu tempat yang sama untuk memberikan argumentasi mereka dalam mendukung dua pasangan calon yang tersisa.


Dari kubu Anies-Sandi, artis Chiki Fawzi dihadirkan sebagai pendukung pasangan calon nomor urut tiga, sementara dari kubu Ahok-Djarot mendatangkan Chaca Frederica. Kenapa acara ini menarik seperti yang saya katakan diatas? Pertama, karena Chiki Fawzi hadir bukan untuk memaparkan keunggulan Anies-Sandi, melainkan memuji kinerja baik Ahok-Djarot dalam keberhasilan mereka mengatasi masalah transportasi di Ibu Kota.

Saya sempat tersenyum mendengarkan pengakuan Chiki, dalam hati saya berkata kebenaran tidak akan pernah bisa ditutupi dengan kebohongan. Sekuat apapunpun kita menyanggahnya, tetap saja kita tidak bisa berbohong atas sebuah kebaikan yang telah dijalankan oleh Ahok-Djarot.

Saya juga sempat bertanya dalam hati, apakah keputusan Chiki Fawzi mendukung Anies-Sandi memang dari kerelaan hati mereka, atau justru sebaliknya, karena ada pemaksaan dari ibundanya sendiri, Marissa Haque.

Selama ini kita sudah mengetahui begitu gencarnya Marissa Haque menolak Ahok, hingga mengatakan Ahok sebagai laknatullah, “Yang terpenting kedua putriku bukan pendukung paslon No.2 di Pilkada DKI 2017, karena laknatullah!,” tulisnya di akun media sosial miliknya.

Jelas pengakuan jujur dari Chiki diacara TV One merupakan ungkapan perasaan yang sebenarnya akan keberhasilan Ahok dalam membenahi Ibu Kota tersebut. Ketika presenter bertanya kepada chiki Fawzi mengenai masalah transportasi yang terintegrasi itu bagaimana menurut pandangannya sesuai dengan ide dari Anies-Sandi?

Chiki disini terlihat gugup dalam menjelaskannya, kemungkinannya ada dua, pertama, Chiki tidak mengerti bagaimana program OK Otrip ala Anies-Sandi, kedua Chiki tidak mengetahui apa sebenarnya yang menyebabkan masalah kemacetan di Ibu Kota, dan sebagainya.


Tak banyak penjelasan yang keluar dari artis Chiki Fawzi dalam memaparkan program pasangan nomor tiga yang ia dukung, selain “ya cukup menyakinkan, harus diintegrasikan”. Justru sebaliknya, Chaca Frederica dari kubu Ahok terlihat cerdas, dan benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya yang terjadi mengenai masalah transportasi di Ibu Kota. Chaca begitu lancar menjelaskannya kepada publik apa yang akan dilakukan oleh Ahok-Djarot untuk menyelesaikan masalah transportasi di Ibu Kota itu. Berikut penjelasannya.

“Kalau menurut aku apa yang dikatakan oleh Pak Djarot itu lebih realistis, kita harus lihat keadaan negara kita itu negara berkembang, kenyataannya gap antara si kaya dengan si miskin kesenjangan sosialnya masih sangat terlalu jauh. Saya sangat mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan Pak Anies, tapi coba deh, mungkin gak sih mbak kamu mau naik bus darimana deh ke TV One, mungkin gak untuk kalangan sosial golongan B (standar), kita ga usah ngomongin kalangan A karena golongan A sudah another level. Kita ga usah ngomongin A, kita ngomongin B mau gak sih golongan B digabungin sama masyarakat keadaan ekonominya golongan D? 5 ribu kemana-mana. Aku kenapa lebih setuju dengan cara berpikirnya bapak Djarot? Karena menurut aku, kesenjangan sosialnya masih sangat jauh. Transportasi terintegrasi itu sangat mungkin, kalau gap antara si miskin dan si kaya gap nya diperkecil. Nah itu banyak PR, pak Ahok-Djarot lagi mengerjakan ini dengan mensubsidi bus TransaJakarta khusus kalangan golongan A (Atas).”

Kemudian pernyataan Chaca tersebut langsung diamini oleh narasumber yang hadir, “benar, karena untuk golongan masyarakat kelas atas atau level menejer mereka lebih melihat keadaan bus harus bersih dan nyaman. Karena kalau tidak bersih dan nyaman, para masyarakat golongan atas tidak akan mau naik bus, mereka akan memilih naik mobil pribadi atau taksi.

Yang kedua yang membuat tayangan video tersebut menarik adalah pertanyaan Chaca yang men-skakmat Chiki Fawzi, seperti berikut ini!

Chaca: Kamu sama teman-teman mama kamu mau gak pergi ke arisan naik bus rame-rame? Hahaha

Seandainya Marissa Haque, mamanya Chiki si mulut besar yang mengatakan Ahok laknatullah menonton tayangan ini pasti dia merasa malu dan tertampar. Dalam hatinya pasti dia tidak bisa membohongi perasaannya bahwa memang hanya ide Ahok lah yang realistis dan bisa dikerjakan secara nyata, dibandingkan dengan program OK-Otrip yang sama sekali masih belum jelas seperti apa. swd
Artis Pendukung AHOK OK, tapi Artis pendukung ANIS koq Malah Muji prestasi AHOK

Wacana Perpindahan Ibukota Negara; Peluang Besar Untuk Paslon 3 Menang Pilkada Di Calon Ibukota Negara Baru


Lagu “Siapa suruh datang Jakarta” sering dinyanyikan jika penduduknya banyak berkeluh kesah akan permasalahan di Jakarta. Entah macetlah, banjirlah, susah cari makanlah dst. Iya, memang tidak ada yang suruh datang Jakarta. Tapi mau diapa lagi jika banyak yang mengira di Jakarta banyak pekerjaan baik nan bergengsi menanti kayak di pilem-pilem. Padahal di Jakarta aslinya jumpalitan baru bisa makan.

Tapi sepertinya tidak akan lama lagi banyak yang hijrah dari Jakarta menuju ibu kota baru. Atau bahkan mungkin orang tidak akan lagi berbondong-bondong ke Jakarta dengan alasan demi perut. Padahal dulu kalau sampai di Jakarta juga tidak kuat dengan kompetisi. Dikiranya hidup semulus seperti di sinetron. Yang hanya bercerita tentang cinta saja tanpa galau masalah perut.

Wacana presiden Jokowi bahwa beliau akan memindahkan ibukota negara tidak terlalu menciptakan euforia ataupun kepanikan. Iya, mungkin karena sejak Soekarno memimpin dulu wacana itu sudah ada tapi tidak pernah terealisasi. Toeng. Mungkin masyarakat sudah lelah dengan wacana yang sudah hampir seabad lamanya. Dikiranya tiada pemimpin yang akan mampu memindahkan ibukota negara ke wilayah lain.

Tapi Pak Jokowi bukanlah tipikal pemimpin yang suka bermain-main dengan apa yang sudah keluar dari mulutnya. Kalau sudah nekad, semuanya akan dieksekusi. Saya sih percaya sejuta persen ibukota negara akan pindah di bawah kepemimpinan Jokowi.

Lihatlah, Jakarta yang sudah sesak. Bukan hanya karena kepadatan penduduknya hingga orang gila pun akan ngakak sejadi-jadinya mendengar horizontal house dengan DP 0% yang serasa mustahil dibangun di Jakarta untuk kesejahteraan warga yang berbahagia. Mendadak mulai banyak yang gila di Jakarta. Karena fenomena sosial politik juga sudah berada pada tingkat menyebalkan yang sudah tidak tertolong lagi.

Lihat saja, pilkada DKI saja sudah bercita rasa pilpres. Salah satu pasangan calon gubernur mulai ikutan gila sebelum waktunya. Biasanya kan gila setelah pilkada, nah ini, kegilaan sudah di-booking memang jauh-jauh hari. Apa namanya itu kalau bukan gila jika kepada mayat saja pakai acara ngambek segala? Padahal ini bukan acara memperebutkan hati seorang kembang desa

Yang dimana jika tidak terpilih, lantas bermuram durja yang sukses membuat orang lain tertawa dan bahkan Tuhan pun geleng-geleng kepala karena agama di bawa-bawa — kekanak-kanakan!!

Iya, hanya di Jakarta segala sesuatunya menjadi terkecualikan. Di tempat lain boleh pemimpin non Muslim, kecuali di Jakarta. Di luar Jakarta boleh pemimpin non pribumi, kecuali di Jakarta. Katanya itu ada ayatnya. Kalau tidka sepakat, akan masuk dalam kaum munafik. Seolah-olah Jakarta adalah kota suci. Padahal kota suci saja tidak selebay itu.

Siapa pun akan tahu benar bahwa di Jakarta segala sesuatunya boleh menjadi ekstrim & sah-sah saja menjadi gila kronis demi kekuasaan & jabatan. Iya, karena Jakarta adalah surga dunia bagi penghini bumi datar. Dimana jika bisa bertahta di sana, maka kavling-kavling di akhirat akan ditelantarkan & terabaikan. Karena di Jakarta merupakan pusat kegiatan ekonomi terbesar di Bumi Pertiwi. Ketika berhasil berkuasa di sana, maka para pengusaha akan bertekuk lutut mempersembahkan sesembahan berupa suap yang akan mereka sebut sebagai suatu bentuk kerjasama yang harmonis nan romantis.

Mungkin fenomena Jakarta yang benar-benar penuh sandiwara & drama inilah yang menyebabkan Jokowi gemas buat segera memindahkan ibukota Jakarta. Entah, apakah ini sebagai ungkapan sayang kepada paslon yang sudah mulai jauh dari kata waras, seolah-olah Jokowi ingin bilang, “Kalau kalian kalah di Jakarta, kalian bisa ikut saya ke ibu kota baru. Jangan ngotot sampai gila gitu ih. Kalau kalian menang, ya kecele deh. Ibu kota negara sudah mau pindah.” Hahahah.

Mungkin tidak akan terlalu berpengaruh secara signifikan terhadap Jakarta dengan wacana akan dipindahkannya ibukota negara. Tapi yang pasti jika itu benar, pertumbuhan ekonomi di Jakarta tentu sudah tidak melesat atau mungkin akan lambat. Karena tentunya investor lebih tertarik menanamkan modal di ibukota negara baru.

Untuk paslon yang sudah telanjur gila sebelum waktunya, saya cuma mau bilang, “Siapa suruh ikut pilkada. Lain kali, kalau memang tidak mampu berkompetisi ya lebih baik jadi penonton saja. Memang tidak ada salahnya ikut berkompetisi, tapi kalau sudah gila sebelum waktunya, itu artinya memang belum siap berkompetisi. Lawannya berat ya. Sudah, rehat saja dulu. Ibukota negara mau pindah noh. Kali saja di sana bisa mencalonkan diri & bisa menang berdiri. Karena di sana tidak ada Ahok lho.”swd

Membongkar Hubungan PKS Dengan Partai Komunis China, Jonru Bungkam !!!


Ada yang sering melihat berita hoax dan fitnah yang mengatakan Presiden Jokowi sebagai antek komunis ???
Ada yang mau tahu siapa “pembuat / penyebar” berita hoax dan fitnah tentang Presiden Jokowi sebagai antek komunis ???

Jawabannya adalah kader-kader PKS yang mengklaim dirinya sebagai partai dakwah tapi “halal” menyebarkan berita hoax dan fitnah !!!

Ada yang masih ingat jika beberapa situs milik kader PKS dipetisi karena “TERBUKTI” menyebarkan berita hoax dan fitnah seperti yang dimuat dalam media Islam ini ???

PKS boleh saja melakukan “cuci tangan” dengan mengatakan pemilik situs penyebar hoax dan fitnah tersebut adalah ulah oknum bukan kader PKS secara keseluruhan. Tapi Penulis memiliki fakta bahwa pemilik situs PKS itu adalah para kader PKS yang berasal dari seluruh Indonesia, mulai dari simpatisan, kader, anggota DPRD sekaligus ketua DPW, caleg gagal beserta suaminya, bahkan orang DPP juga memiliki situs penyebar hoax dan fitnah. Penulis sudah menyampaikan semua informasi yang penulis miliki ke pihak berwajib.

Hoax dan Fitnah bahwa Presiden Jokowi adalah antek Komunis oleh Kader PKS

Untuk membuktikan bahwa benar jika kader-kader PKS adalah sebagai “pembuat / penyebar” berita hoax dan fitnah bahwa Presiden Jokowi adalah antek komunis, mari kita lihat langsung situs PKS dan pertanyaan Jonru yang merupakan kader militan PKS.

Pertanyaan penulis hanya satu, jika PKS mengatakan penyebar berita hoax dan fitnah itu adalah ulah oknum bukan ulah kader PKS secara keseluruhan, lalu kenapa kader-kader PKS tersebut seperti jonru dan kawan-kawannya masih “DIPELIHARA” oleh PKS sampai detik ini ???

Akhirnya, penulis paham bagaiman cara kerja PKS yang bermain di dua kaki, di satu sisi mereka berlagak santun dengan kedok dakwah untuk “menipu” umat tetapi di sisi lain, mereka juga “halal” menyebarkan berita hoax dan fitnah.

Apakah penulis perlu membongkar siapa kader-kader PKS di seluruh Indonesia yang menjadi pemilik dan pengelola situs penyebar hoax dan fitnah selama ini ???

Mari kita lihat beberapa contoh bagaimana kader-kader PKS menyebarkan berita hoax dan fitnah tentang Presiden Jokowi sebagai antek Komunis dalam situs PKS berikut ini :


http://pksnusantara.blogspot.co.id/2014/09/setelah-dilantik-jokowi-akan-kunjungi.html

Dari postingan dalam situs PKS tersebut di atas, para kader PKS ingin membentuk opini sesat dan menyesatkan bahwa benar jika Presiden Jokowi sebagai antek komunis.

Sekarang mari kita lihat pernyataan dari jonru, kader militan PKS yang masih “DIPELIHARA” oleh PKS sampai detik ini yang juga ingin membentuk opini sesat menyesatkan bahwa benar jika Presiden Jokowi adalah antek komunis dari FP jonru langsung berikut ini :


https://id-id.facebook.com/jonru.page/photos/pb.68286339728.-2207520000.1431268433./10153347281144729/?type=1

Saya heran dengan jonru dan kader-kader PKS yang sudah “TERBUKTI” menyebarkan banyak berita hoax dan fitnah tapi masih merasa paling benar dan suci dari PKS yang mengklaim dirinya sebagai partai dakwah ???


Mari kita lihat sudah berapa banyak berita hoax dan fitnah yang sudah disebarkan oleh jonru di FP nya yang bertujuan untuk memperkaya dirinya sendiri dengan berita hoax dan fitnah yang sesat dan menyesatkan umat berikut ini :






Fakta Hubungan PKS dengan Partai Komunis China

Jika jonru yang merupakan kader militan PKS yang masih “DIPELIHARA” oleh PKS sampai detik ini memfitnah Presiden Jokowi sebagai Syiah HANYA karena Presiden Jokowi bertemu dengan perwakilan negara Iran (Syiah) seperti dalam FP jonru berikut ini :


https://id-id.facebook.com/jonru.page/posts/10153315742444729:0

Lalu bagaimana dengan foto Presiden PKS, Sohibul Iman yang bertemu dengan dubes negara komunis di markas DPP PKS yang dimuat dalam situs resmi Pks berikut ini ??? Mana suara jonru ??? Bungkam ???


http://pks.id/foto/pks-terima-kunjungan-dubes-tiongkok

Presiden Jokowi bertemu dengan perwakilan negara Iran (Syiah) dalam rangka kerjasama antar dua negara, jadi hubungan kerjasama antara negara Indonesia dengan negara Iran.

Lalu Presiden PKS, Sohibul Iman bertemu dengan dubes negara komunis dalam rangka apa ???

Dalam rangka kerjasama antara PKS dengan negara komunis ya ??? Hahaha

Jonru pura-pura lupa atau pura-pura tidak tahu jika Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengklaim dirinya sebagai partai dakwah ternyata sudah lama bekerjasama dengan Partai Komunis China sejak beberapa tahun yang lalu.

Jonru, kasih tau donk nama-nama kader PKS yang dikirim oleh PKS untuk menghadiri acara yang digelar oleh Partai Komunis China di China beberapa tahun yang lalu ???

Ketua Bidang luar negeri PKS sendiri yang MENGAKUI jika PKS sudah lama bekerja sama dengan Partai Komunis China (PKC) sejak lama seperti yang dimuat dalam media nasional ini.

Masih percaya pada jonru kader militan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengklaim dirinya sebagai partai dakwah tapi “halal” memfitnah Presiden Jokowi sebagai antek komunis tetapi FAKTANYA bahwa PKS sudah lama bekerjasama dengan Partai Komunis China (PKC) ???




Hahaha
Anies-Sandi Menolak Kontrak Politrik Jakarta Bersyariah, Banyak Pendukungnya Yang Merasa Dikhianati

Anies-Sandi Menolak Kontrak Politrik Jakarta Bersyariah, Banyak Pendukungnya Yang Merasa Dikhianati




Sejak lama FPI beserta dengan ormas yang sepaham dengan mereka seperti FUI mau pun GNPF MUI ingin menerapkan syariat Islam di Jakarta. Jadi tidak heran jika sekarang mereka ingin Anies-Sandi memenangkan Pilgub DKI Jakarta, agar Jakarta bersyariah dapat dilaksanakan. Mereka ingin Piagam Jakarta dapat diberlakukan di Jakarta. Oleh karena itu, FPI dan kawan-kawannya berjuang dengan keras agar Anies-Sandi dapat menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta.

Untuk menarik pemilih yang sepaham dengan mereka, mereka terus memasang banyak spanduk yang bertuliskan Jakarta Bersyariah dengan gambar Anies-Sandi di sampingnya. Spanduk-spanduk ini disebar di seluruh pelosok Jakarta, dan harapan mereka banyak warga yang akan tergoda dan turut mendukung Anies-Sandi.

Sungguh pengorbanan mereka ini dapat diacungi dua jempol, bagaimana tidak jika sebelum matahari terbit mereka sudah harus menjelajahi pelosok-pelosok Jakarta untuk memasang spanduk tersebut. Mereka total mendukung Anies-Sandi agar Jakarta dapat diterapkan syariat Islam sesuai dengan keinginan mereka.

Bahkan Habib Novel Chaidir Hasan Bamukmin, Sekjen Dewan Syuro DPD Front Pembela Islam (FPI) Jakarta dengan yakin bahwa warga Jakarta sudah mengerti tentang syariat Islam sebagai rahmatan lil alamin, dan tidak salah jika syariat Islam diterapkan di Jakarta.

Yang menjadi harapan dari FPI ini adalah bahwa Jakarta Bersyariah nanti akan mencakup Perda Polisi Syari’ah, Perda hukum cambuk bagi muda-mudi yang berpacaran, dan Perda wajib berbusana Muslim bagi PNS dan Pelajar dengan tertanda Persatuan Muslim Indonesia, seperti yang tertulis pada spanduk yang mereka sebarkan.



Tetapi mimpi tetaplah mimpi, yang akan segera sirna ketika matahari mulai terbit. Sungguh sangat menyakitkan apalagi dalam mimpi tersebut sesuatu yang indah. Begitu juga FPI, sudah memimpikan Jakarta Bersyariah apabila Anies-Sandi terpilih menjadi Gubernur, tetapi impian mereka dibantah sendiri oleh Anies mau pun Sandiaga Uno.

Bagi Anies spanduk Jakarta Bersyariah adalah fitnah dari paslon nomor 2 kepada dirinya. Karena selama ini Anies-Sandi tidak bermaksud untuk menjadikan Jakarta bersyariat Islam. Menurut Anies warga Jakarta sangat pluralis jadi tidak cocok jika diterapkan syariat Islam. Inilah yang membuat FPI kecewa dengan Anies, karena telah tersebar surat kontrak politik Anies yang mendukung Syariat Islam jika terpilih menjadi Gubernur nantinya.



Surat Kontrak Politik Anies Baswedan Seperti yang tersebar di Media Sosial

Begitu juga dengan Sandiaga Uno, yang merupakan Calon Wakil Gubernur pendamping Anies Baswedan juga menyatakan hal yang sama, Sandi ingin Jakarta Plural dan bukan Jakarta Bersyariah. Bahkan Sandi menegaskan tidak ada kontrak politik mengenai Jakarta Bersyariah dengan kelompok Islam.

Sandi bahkan ingin menjadikan Jakarta Plural, menjadi rumah yang ramah bagi semua orang. Jadi Sandi jelas-jelas menolak Jakarta Bersyariah seperti yang digagas oleh FPI dan kawan-kawannya tersebut.


“Mayoritas warga ingin Jakarta yang pluralis, yang bisa memberikan hormat kepada setiap warga,” kata Sandiaga di Jakarta Utara, Sabtu (8/4/2017).

Jika Anies-Sandi sudah menyatakan bahwa jika mereka terpilih nanti, mereka akan menjadikan Jakarta tetap plural seperti sekarang ini, dan bukan menjadikan Jakarta Bersyariah. Jika demikian apakah Anies telah mengkhianati para pendukungnya? Jelas-jelas pendukungnya seperti FPI ingin menjadikan Jakarta Bersyariah agar syariat Islam dapat diterapkan di Jakarta seperti di Aceh. Tetapi Anies-Sandi malah menolak harapan mereka.

Belum terpilih saja Anies sudah mengkhianati pendukungnya, apalagi nanti terpilih menjadi Gubernur. Mungkin semua janji yang diucapkannya selama kampanye akan menjadi omong kosong belaka. Yang ini saja, yang jelas-jelas Anies telah menandatangani kontrak politik Jakarta Bersyariah saja diingkari, apalagi yang tidak tertulis. Mungkin Anies akan mengatakan bahwa dia tidak pernah berucap demikian.

Pengkhianatan sudah dilakukan Anies-Sandi kepada pendukungnya, kepada pendukung yang telah berjuang dengan keras untuk memenangkan mereka. Uang yang tidak sedikit telah mereka keluarkan untuk membuat spanduk-spanduk Jakarta Bersyariah, tenaga juga mereka keluarkan untuk memasang spanduk-spanduk tersebut pada pagi buta. Bahkan mereka mengabaikan keluarga mereka hanya untuk memenangkan pasangan yang mereka idolakan. Tetapi justru kini pasangan yang mereka dukung, mengingkari harapan mereka. Bahkan hal yang menyakitkan adalah mereka dituduh sebagai biang fitnah kepada Anies-Sandi. Mereka justru dituduh sebagai Ahokers yang menyusup di kubu Anies-Sandi. Menyakitkan memang, tapi itulah yang harus mereka terima.

Pengkhianatan ini tentu akan ada balasannya.swr
Back To Top