Powered by Blogger.

CB Blogger Lab

PEMBACA

JASA SEO CB

MISTERI PULAU JAWA KUNO DI ZAMAN SWETA DWIPA


OLEH : GOENAWAN WE

Sebelum dihuni manusia, bumi Jawa telah dihuni oleh golongan dewa-dewi dan makhluk halus lainnya. Salah satu putra Sang Hyang Jagad Girinata, yaitu Bathara Wisnu, turun ke arcapada lalu kawin dengan Pratiwi, dewinya bumi….

Sebuah teori geologi kuno menyebutkan, proses terbentuknya daratan yang terjadi di Asia belahan selatan adalah akibat proses pergerakan anak benua India ke utara, yang bertabrakan dengan lempengan sebelah utara. Pergerakan lempeng bumi inilah yang kemudian melahirkan Gunung Himalaya.
Konon, proses tersebut terjadi pada 20-36 juta tahun yang silam. Anak benua yang di selatan sebagian terendam air laut, sehingga yang muncul di permukaan adalah gugusan-gugusan pulau yang merupakan mata rantai gunung berapi. Gugusan pulau-pulau di Asia Tenggara, yang sebagian adalah Nuswantoro (Nusantara), yang pada zaman dahulu disebut Sweta Dwipa. Dari bagian daratan ini salah satunya adalah gugusan anak benua yang disebut Jawata, yang satu potongan bagiannya adalah pulau Jawa.Jawata artinya gurunya orang Jawa. Wong dari kata Wahong, dan Tiyang dari kata Ti Hyang, yang berarti keturunan atau berasal dari Dewata. Konon karena itulah pulau Bali sampai kini masih dikenal sebagai pulau Dewata, karena juga merupakan potongan dari benua Sweta Dwipa atau Jawata.

Mengingat kalau dulunya anak benua India dan Sweta Dwipa atau Jawata itu satu daerah, maka tidak heran kalau ada budayanya yang hampir sama, atau mudah saling menerima pengaruh. Juga perkembagan agama di wilayah ini, khususnya Hindu dan Budha yang nyaris sama.
Al kisah, dalam kunjungan resminya sebagai utusan raja, Empu Barang atau nama bangsawannya Haryo Lembusuro, seorang pandhito terkemuka tanah Jawa, berkunjung ke Jambu Dwipa (India).

Sesampainya menginjakkan kaki di negeri Hindustan ini, oleh para Brahmana setempat, Empu Barang diminta untuk bersama-sama menyembah patung perwujudan Haricandana (Wisnu). Namun, dengan kehalusan sikap manusia Jawa, Empu Barang menyatakan bahwa sebagai pandhito Jawa, dia tidak bisa menyembah patung, tetapi para Brahmana India tetap mendesaknya, dengan alasan kalau Brahmana dinasti Haricandana menyembahnya karena Wisnu dipercaya sebagai Sang Pencipta Tribuwana.
Dengan setengah memaksa, Empu Barang diminta duduk, namun sewaktu kaki Empu Barang menyentuh tanah, tiba-tiba bumi bergoyang (tidak disebutkan berapa kekuatan goyangannya dalam skal ritcher). Yang jelas, saking hebatnya goyangan tersebut, patung tersebut hingga retak-retak.

Memang, menurut tata cara Jawa, penyembahan kepada Sang Penguasa Hidup itu bukan patung, tetapi lewat rasa sejati, sehingga hubungan kawula dengan Gusti menjadi serasi. Itulah Jumbuhing Kawula Dumateng Gusti.
Orang Jawa melakukan puja-puji penyembahan kepada Gustinya langsng dari batinya, maka itu dalam perkembangannya disebut aliran Kebatinan atau perkembangan selanjutnya dikenal dengan istilah Kejawen, karena bersumber dari Jawa.
Bagi orang Jawa tentang cerita waktu bumi Jawa belum dihuni manusia, telah dihuni oleh golongan dewa-dewi dan makhluk halus lainnya. Dan salah satu putra Sang Hyang Jagad Girinata, yaitu Bathara Wisnu turun ke arcapada kawin dengan Pratiwi, dewi bumi.
Dalam pemahaman kejawen, hal itu disikapi dengan terjemahan, kalau Wisnu itu artinya urip/hidup, pemelihara kehidupan. Jadi jelasnya awal mula adanya kehidupan manusia di bumi, atas izin Sang Penguasa Jagad. Dewa perlambang sukma, manusia perlambang raga. Begitulah hidup manusia, raganya bisa rusak, namun sukmanya tetap hidup langgeng.

Kemolekan bumi Jawa laksana perawan rupawan yang amat jelita, sehingga Kerajaan Rum (Ngerum) yang dipimpin Prabu Galbah, lewat laporan pendeta Ngali Samsujen, begitu terpesona karenanya. Maka diutuslah dutanya yang pertama yang bernama Hadipati Alip.
Hadipati Alip berangkat bersama 10.000 warga Ngerum menuju Nuswa Jawa. Mereka dalam waktu singkat meninggal terkena wabah penyakit. Tak tersisa seorang pun. Lalu dikirimlah ekspedisi kedua dibawah pemimpinan Hadipati Ehe. Malangnya, mereka juga mengalami nasib sama, tupes tapis tanpa tilas.
Masih diutus rombongan berikutnya, seperti Hadipati Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Semuanya mengalami nasib sama, tumpes kelor.
Melihat semua itu, Prabu Galbah terkejut dan mengalami shock hebat. Akibatnya, sakit jantungnya kambuh. Dia kemudian jatuh sakit, dan dalam waktu tak lama mangkat.
Pendeta Ngali Samsujen, merasa bersalah karena nasehatnya menimbulkan malapateka ini terjadi. Akhirnya beliau mati dalam rasa bersalah. Tinggal Mahapati Ngerum, karena rasa setianya, dia ingin melanjutkan missi luhur yang dicita-citakan rajanya. Dia akhirnya ingat pada sahabatnya yang sakti bersanama Jaka Sangkala alias Aji Saka, yang tinggal di Tanah Maldewa atau Sweta Dwipa.

Habisnya para migran dari Ngerum ke Tanah Jawa itu, menurut Jaka Sangkala adalah karena hati mereka yang kurang bersih. Mereka tidak meminta izin dahulu pada penjaga Nuswa Jawa. Padahal, karena sejak zaman dahulu, tanah ini sudah ada yang menghuni. Yang menghuni tanah Jawa adalah manusia yang bersifat suci, berwujud badan halus atau ajiman (aji artinya ratu, man atau wan artinya sakti).
Selain penghuni yang baik, juga dihuni penghuni brekasakan, anak buah Bathara Kala. Makanya tak ada yang berani tinggal di bumi Jawa, sebelum mendapat izin Wisnu atau manikmaya atau Semar.

Akhirnya, Mahapati Ngerum diantar Aji Saka menemui Wisnu dan isterinya Dewi Sri Kembang. Saat bertemu, dituturkan bahwa wadyabala warga Ngerum yang mati tidak bisa hidup lagi, dan sudah menjadi Peri Prahyangan, anak buah Batara Kala. Tapi ke-8 Hadipati yang gugur dalam tugas itu berhasil diselamatkan oleh Wisnu dan diserahi tugas menjaga 8 mata angina. Namun mereka tetap menghuni alam halus.
Atas izin Wisnu, Mahapati Negrum dan Aji Saka berangkat ke tanah Jawa untuk menghadap Semar di Gunung Tidar. Tidar dari kata Tida; hati di dada, maksudnya hidup. Supaya selamat, oleh Wisnu, Mahapati Ngerum dan Aji Saka diberi sifat kandel berupa rajah Kalacakra, agar terhindar dari wabah penyakit dan serangan anak buah Batara Kala.
Kisah di atas hanya merupakan gambaran, bahwa ada makna yang tersirat di dalamnya. Wisnu dan Aji Saka itu dwitunggal, bagaikan matahari dan sinarnya, madu dan manisnya, tak terpisahkan. Loro-loro ning atunggal.

Maka itu, keraton Wisnu dan Aji Saka itu di Medang Kamulan, yang maksudnya dimula-mula kehidupan. Kalau dicermati, intinya adalah kawruh ngelmu sejati tentang kehidupan manusia di dunia, sejak masih gaib hingga terlahir di dunia, supaya hidup baik, sehingga kembalinya nanti menjadi gaib lagi, perjalanannya sempurna.
Singkat cerita, perjalanan ke tanah Jawa dipimpin oleh Aji Saka dengan jumlah warga yang lebih besar, 80 ribu atau 8 laksa, disebar di berbagai pelosok pulau. Sejak itulah, kehidupan di tanah Jawa Dwipa yang disebut masyarakat Kabuyutan telah ada sejak 10.000 SM, tetapi mulai agak ramai sejak 3.000 SM.

Sesudah kedatangan pengaruh Hindu, muncul kerajaan pertama di Jawa yang lokasinya di Gunung Gede, Merak. Rajanya Prabu Dewowarman atau Dewo Eso, yang bergelar Sang Hyang Prabu Wismudewo. Raja ini memperkuat tahtanya dengan mengawini Puteri Begawan Jawa yang paling terkenal, yakni Begawan Lembu Suro atau Kesowosidi di Padepokan Garbo Pitu (penguasa 7 lapis alam gaib) yang terletak di Dieng atau Adi Hyang (jiwa yang sempurna), juga disebut Bumi Samboro (tanah yang menjulang tinggi). Puterinya bernama Padmowati atau Dewi Pertiwi.

Dari perkawinan campuran itu, lahirlah Raden Joko Pakukuhan, yang kelak di kemudian hari menggantikan tahta ayahnya di kerajaan Jawa Dwipa atau Keraton Purwosarito, dan bergelar Sang Prabu Sri Maha Panggung. Lalu keraton dipindah lokasinya ke Medang Kamulan.
Penggantinya adalah putranya Prabu Palindriyo. Dari perkawinannya dengan puteri Patih Purnawarman, Dewi Sinto, lahir Raden Radite yang setelah bertahta dan bergelar Prabu Watuguung. Dia memerintah selama 28 tahun. Pemerintahannya mempunyai pengaruh kuat di Jawa Barat. Adalah kakaknya, Prabu Purnawarman yang membuat Prasasti Tugu, sebelah timur Tanjung Priuk dalam pembuatan saluran Kali Gomati, Prasasti Batu Tulis di Ciampea, Bogor.

Untuk menguasai Jawa Timur, Prabu Watugunung mengawini puteri Begawan Kondang, yaitu Dewi Soma dan Dewi Tumpak. Dia juga mengawini Ratu Negeri Taruma yang bernama Dewi Sitowoko.
Dalam pemerintahannya terjadi perebutan tahta dengan Dewi Sri Yuwati, saudara lain ibu (Dewi Landep). Dewi Sri Yuwati dibantu adiknya lain ibu, Joko Sadono (putera Dewi Soma). Akhirnya Prabu Watugunung berhasil dikalahkan, dan Joko Sadono menggantikan tahtanya dengan gelar Prabu Wisnupati, permaisurinya Dewi Sri. Kakak Dewi Sri diangkat sebagai raja Taruma, bergelar Prabu Brahma Raja.
Sejarah Panjang nan Memukau Suku Jawa

Sejarah Panjang nan Memukau Suku Jawa

Menurut data kependudukan tahun 2010, tercatat bahwasannya orang Jawa mempunyai populasi terbanyak di Indonesia, yakni lebih dari 120 juta orang. Orang-orang Jawa ini tersebar hampir merata di seluruh daerah di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Maka jangan heran apabila anda mendapati orang-orang Jawa ada di daerah yang sudah sangat jauh dari pulau Jawa itu sendiri.
Pembahasan ini bukanlah untuk membangga-banggakan satu ras tertentu, akan tetapi semata untuk pembelajaran sejarah yang perlu untuk kita pelajari dan ketahui.

Asal Usul Suku Jawa

Jika kita membahas asal usul suku Jawa, maka bisa dibilang kita sedang membahas asal usul orang Indonesia secara keseluruhan. Hal ini disandarkan kepada penemuan fosil dari homo erectus yang dikenal juga dengan nama “Manusia Jawa” oleh Eugene Dubois, seorang ahli anatomi dari Belanda pada tahun 1891 di Trinil, Ngawi. Fosil tersebut diperkirakan berumur mencapai 700.000 tahun, sehingga ia termasuk dari salah satu spesies manusia kuno yang pernah ditemukan.
Kurang lebih sekitar 40 tahun kemudian, ditemukan lagi fosil lainnya, yang jika dilihat dari perkakas yang juga ditemukan, diperkirakan fosil ini lebih muda dari fosil sebelumnya, yakni ‘baru’ berumur kurang lebih 150.000 tahun.

Versi Pertama

Menurut versi pertama, nenek moyang masyarakat Jawa adalah orang purba yang berasal dari Austronesia, sebuah spesies yang diperkirakan berasal dari Taiwan yang bermigrasi ke pulau Jawa pada tahun 1500 dan 1000 sebelum masehi.

Versi Kedua

Versi kedua menyatakan, bahwa asal mula orang Jawa berasal dari daratan Indochina yang datang dari tanah Kamboja atau Laos. Ada kemungkinan juga berasal dari Vietnam.

Versi Ketiga

Ada rumor juga yang mengatakan bahwa orang Jawa merupakan keturunan orang dari tanah Pasundan yang berkawin-campur dengan para pendatang dari India atau dari Indochina.
Sedangkan menurut beberapa tulisan, baru pada pertengahan abad 3 M, orang Jawa mulai menempati pulau Jawa. Ditandai dengan hadirnya sebuah kerajaan Taruma pada abad 4.  Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah barat pulau Jawa pada abad 4 hingga abad 7 M. Kerajaan Taruma termasuk salah satu kerajaan tertua di wilayah Indonesia yang meninggalkan catatan sejarah.

Kepercayaan Orang Jawa Sebelum Masuknya Agama

pohon keramat yang disembah orang jawa kuno
zainfadhil.wordpress.com
Situasi kehidupan “religius” masyarakat di Tanah Jawa sebelum datangnya Islam sangatlah heterogen. Kepercayaan import maupun kepercayaan yang asli telah dianut oleh orang Jawa. Sebelum Hindu dan Budha, masyarakat Jawa prasejarah telah memeluk keyakinan yang bercorak animisme dan dinamisme.
Pandangan hidup orang Jawa adalah mengarah pada pembentukan kesatuan numinous antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap keramat. Di samping itu, mereka meyakini kekuatan magis keris, tombak, dan senjata lainnya. Benda-benda yang dianggap keramat dan memiliki kekuatan magis ini selanjutnya dipuja, dihormati, dan mendapat perlakuan istimewa.

Suku Jawa pada Masa Hindu-Budha

asal usul orang jawa
Candi Singosari | tourismkabupatenmalang.com
Kepercayaan kuno yang dianut oleh suku Jawa adalah animisme dan terus berlanjut seperti itu hingga datang para pembawa agama Hindu dan Budha ke Tanah Jawa melalui perdagangan dengan orang-orang India. Masyarakat Jawa lebih mudah tertarik dengan agama yang dibawa oleh mereka lantaran filosofi agama Hindu-Budha bisa menyatu dengan filosofi orang Jawa lokal yang unik.
Kedu dan Kewu adalah tempat berkumpulnya kultur suku Jawa yang terdapat di lereng Gunung Merapi yang sekaligus menjadi jantung dari Kerajaam Medang Bhumi Mataram. Beberapa dinasti kuno lainnya, seperti Sanjaya dan Syailendra juga menggunakan tempat itu sebagai pusat pemerintahan mereka.
Ketika Mpu Sendok memerintah, pada abad 10, ibu kota kerajaan dipindahkan ke dekat Sungai Brantas. Kejadian ini yang dipercaya juga sebagai sebab pergeseran pusat kebudayaan dan politik suku Jawa. Diperkirakan, perpindahan ini disebabkan oleh erupsi vulkanik dari Gunung Merapi, tapi ada juga yang mengatakan bahwasannya perpindahan pusat pemerintahan ini disebabkan oleh serangan dari Kerajaan Sriwijaya.
Perkembangan suku Jawa mulai bangkit lagi ketika Kertanegara menjadi raja dari Kerajaan Singosari pada awal abad ke-13. Raja yang senang memperluas wilayah ini melakukan ekspedisi besar-besaran ke Madura, Bali, Kalimantan dan Sumatera, yang pada akhirnya, Kerajaan Singosari berhasil menguasai perdagangan di selat Malaka, menyusul kekalahan Kerajaan Melayu.
Kedigdayaan Kerajaan Singosari terhenti pada tahun 1292 M ketika pecahnya pemberontakan oleh Jayakatwang yang berhasil membunuh Kertanegara. Pada akhirnya, Jayakatwang sendiri dibunuh oleh anak dari Kertanegara, yaitu Raden Wijaya. Dan Raden Wijaya inilah yang kelak mendirikan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara kala itu, Kerajaan Majapahit.

Masuknya Islam ke Tanah Jawa

Para Wali yang berdakwah di tanah jawa
habibrizieq.com
Sebelum Islam masuk ke tanah Jawa, sebagaimana yang kita telah paparkan di atas, mayoritas masyarakat Jawa telah menganut agama Hindu-Budha. Namun, seiring dengan waktu berjalan, tidak lama kemudian Islam masuk ke Jawa melewati Gujarat dan Persi dan ada yang berpendapat langsung dibawa oleh orang Arab.
Kedatangan Islam di Jawa dibuktikan dengan ditemukannya batu nisan kubur bernama Fatimah binti Maimun serta makam Maulana Malik Ibrahim. Saluran-saluran Islamisasi yang berkembang ada enam yaitu: perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dan politik.
Era Walisongo (Sembilan Wali Allah) adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Walisongo adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa peranan Walisongo sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam di Jawa.
sejarah suku jawa
Menara Kudus yang dibuat oleh Sunan Kudus | sholihinz.blogspot.com
Di pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo. Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dengan usaha dakwah mereka, para wali ini kemudian mendapatkan posisi strategis di kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik tahta sekaligus penasihat sultan.
Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian diberi gelar sunan alias susuhunan (yang dijunjung tinggi).
Kesembilan wali tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim). Inilah wali yang pertama datang ke Tanah Jawa pada abad ke-13 dan menyiarkan Islam di sekitar Gresik, Jawa Timur. Dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.
  2. Sunan Ampel (Raden Rahmat). Menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Beliau merupakan perancang pembangunan Masjid Demak.
  3. Sunan Drajad (Syarifudin). Beliau adalah wali sekaligus anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan agama di sekitar Surabaya. Ia dikenal sebagai seorang sunan yang sangat berjiwa sosial.
  4. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim). Beliau juga anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang. Beliau terkenal sangat bijaksana.
  5. Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said). Murid Sunan Bonang. Menyiarkan Islam di Jawa Tengah. Seorang pemimpin, pujangga, dan filosof. Menyiarkan agama dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan setempat.
  6. Sunan Giri (Raden Paku). Menyiarkan Islam di Jawa dan luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku. Menyiarkan agama dengan metode bermain.
  7. Sunan Kudus (Jafar Sodiq). Menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Seorang ahli seni bangunan. Hasilnya ialah Masjid dan Menara Kudus.
  8. Sunan Muria (Raden Umar Said). Menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa Tengah. Sangat dekat dengan rakyat jelata.
  9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Seorang pemimpin berjiwa besar.

Kerajaan Islam Masa Lalu

Ketika Majapahit mengalami banyak permasalahan tentang siapa yang menjadi penerus, beberapa perang sipil terjadi dan membuat Majapahit kehilangan kekuatan mereka sendiri. Ketika Majapahit mulai runtuh, pulau Jawa juga mulai berubah dengan berkembangnya Islam.
Maka keruntuhan Majapahit ini menjadi momentum bagi kesultanan Demak untuk menjadi kerajaan yang paling kuat. Kesultanan Demak ini nantinya juga memainkan peranan penting dalam menghalau kekuatan kolonial Portugis yang datang. Dua kali Demak menyerang Portugis ketika para kaum Portugis menundukkan Malaka.
sejarah asal usul jawa
Masjid Agung Demak, jejak peninggalan Kerajaan Islam Demak | indonesiakaya.com
Demak juga dikenal dengan keberanian mereka menyerang aliansi Portugis dan Kerajaan Sunda. Kesultanan Demak kemudian dilanjutkan oleh Kerajaan Pajang dan Kesultanan Mataram, dan perubahan ini juga memaksa pusat kekuatan berpindah dari awalnya ada di pesisir Demak menuju Pajang di Blora, dan akhirnya pindah lagi ke Mataram tepatnya di Kotagede yang ada di dekat Yogyakarta sekarang ini.

7 Filosofi Hidup Suku Jawa

orig07.deviantart.net
  1. Urip Iku Urup (Hidup itu harus menyala/bermanfaat)Filosofi ini menggambarkan sifat dasar sebagian besar orang Jawa yang senang berbagi atau memberikan manfaat kepada orang lain.
  2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).Inilah filosofi yang dipakai oleh orang-orang Jawa yang melahirkan sifat tenang dan tidak suka dengan kerusuhan.
  3. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).Sebetulnya filosofi ini sangatlah penting, namun sayangnya sudah banyak ditinggalkan kecuali oleh kakek-nenek kita dahulu.
  4. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidro Mundak Ciloko (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).Salah satu filosofi yang paling berharga yang mengarahkan (sebagian besar) keturunan orang Jawa agar tidak sombong dan licik.
  5. Wong Jowo Kwi Gampang Ditekak-tekuk (Orang Jawa itu luwes).Bukan berarti mereka mudah dikendalikan, akan tetapi lebih karena mereka adalah orang-orang yang luwes dan mudah bergaul dengan beragam masyarakat yang ada.
  6. Mangan Ora Mangan Sing Penting Ngumpul (Makan tidak makan yang penting kumpul).Filosofi yang sangat terkenal ini menunjukkan sifat suka bergotong-royong.
  7. Nrimo Ing Pandum (Menerima Pemberian Dari Yang Kuasa).Inilah ciri khas orang-orang Jawa, yaitu Nrimo. Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sangat pandai bersyukur atas apa saja yang diberikan oleh Tuhan.

Sifat serta Karakter Masyarakat Jawa Kebanyakan

masjidalhudajobohan.wordpress.com
Sebagian besar masyarakat Jawa hingga kini masih tetap mengamalkan filosofi mereka sehingga kita pun bisa mengenali sifat dan karakter mereka yang khas. Karakter orang Jawa diidentikkan dengan sikap sopan, segan, pemalu serta menjaga etika bicara. Dalam keseharian masyarakat Jawa, mereka sangat menjunjung tinggi sifat Andap Asor terhadap orang yang lebih tua. Andap Asor adalah adab ketika berbicara yang memiliki tingkatan-tingkatan, melihat siapa lawan bicaranya.

Pemalu

Masyarakat Jawa juga umumnya cenderung sering menyembunyikan perasaannya. Mereka akan menampik penawaran yang ditawarkan dengan lemah lembut demi menjaga perasaan orang yang memberi. Contoh lainnya, apabila mereka bertamu, orang Jawa tidak akan mencicipi hidangan yang disediakan hingga dipersilakan oleh tuan rumah. Karena sikap ini, terkadang mereka rela mengorbankan kehendak atau keinginan hati.

Sopan

Ketika berbicara, masyarakat Jawa akan sangat menjunjung tinggi etika. Seseorang yang lebih muda ketika berbicara dengan orang tua atau yang lebih mulia harus menggunakan bahasa kromo inggil, yaitu bahasa Jawa halus. Sedangkan bahasa yang dipakai ketika berbicara dengan orang seumuran atau lebih muda adalah bahasa ngoko atau bahasa Jawa biasa.

Gotong-Royong

Salah satu ciri khas yang sulit dilepaskan dari pribadi orang-orang Jawa adalah sifat gotong royong atau saling membantu sesama masyarakat, terutama tetangga. Apabila kita berkunjung ke desa-desa, kita akan dengan mudah mendapati orang-orang yang memiliki sifat ini. Terkadang, apabila ada tetangga mereka yang hendak membangun rumah, mereka tidak akan segan ikut membantu sekalipun tidak dibayar, begitu juga sebaliknya.

Terima Apa Adanya

Sifat inilah yang membuat orang-orang dari berbagai suku mengincar wanita-wanita Jawa sebagai calon pendamping hidup. Selain karena berbagai aspek lainnya, sifat menerima apa adanya inilah yang menjadi daya tarik tersendiri. Hal ini sangat berpengaruh dalam proses perjalanan rumah tangga karena istri yang memiliki sifat mudah menerima, terutama dalam hal ekonomi, tidak akan menjadi beban pikiran sang suami.

sumber:
1. [Makalah] Islam Masuk ke Tanah Jawa, oleh: Mohammad Bahrul Ulum, Suwaibatul Islamiyah, Rohmatul Izzah.
2. portalsejarah[dot]com.

Misteri Kampung Keputihan, Akar Budaya Bertahan Hidup di Rumah Gubug Beratap Welit


PULUHAN rumah bilik dengan menggunakan atap “welit” (terbuat dari daun tebu kering) yang terhampar di atas tanah seluas lebih kurang tiga hektar di kampung Keputihan, Desa Kertasari, Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon, Jawa Barat yang berdiri di antara rumpun bambu dan pohon lainnya kini mulai terpinggirkan dan mulai ditinggalkan keturunannya.

Rumah-rumah gubuk tersebut tetap dipertahankan keasriannya oleh masyarakat setempat, karena selain memang rata-rata dihuni keluarga yang tergolong rumah tangga miskin, juga keyakinan tidak boleh membangun rumah permanen tetap hidup turun temurun. Sekarang mulai sedikit bergeser yang dulu menggunakan atap welit yang terbuat dari daun tebu, kini ada yang menggunakan asbes seng gelombang.

Juga kampung seluas kira-kira tiga hektar yang dulu hanya dihuni sekira 30 kepala keluarga (KK) yang terdiri dari 107 jiwa tersebut, kini banyak ditinggalkan keturunannya. Sejumlah anak keturunan dari Kampung keputihan, setelah menikah atau ekonominya meningkat, ia memilih membangun rumah permanen di kampung lain, kata Pejabat Kuwu Desa Kertasari Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon, Sarika.

Pada tahun 1960-an hingga akhir tahun 1990-an jumlah rumah yang ada tetap 17 buah, namun, belakangan terus berkurang dan sekarang tinggal 12 rumah gubuk yang letaknya tersebar di lokasi itu. Semakin sedikitnya jumlah rumah tersebut, dikarenakan pindah ke kampung lain atau sudah tidak ada lagi keluarga yang menempatinya karena meninggal dunia, jelas Sarika.

“Memang betul warga kampung Keputihan di Desa Kertasari sampai sekarang tetap mempertahankan rumah gubuk. Jika warga ingin membuat rumah permanen atau yang bagus dia membeli tanah di luar kampung Keputihan, tapi sekarang sudah masuk jalan aspal ke kampung ini,” terang Pj.Kuwu Sarika .

Sarika mengaku tidak tahu persis terkait misteri di kampung Keputihan. Namun, yang pasti warga di sana tetap dihantui ketakutan membangun rumah permanen. Bahkan ketika ada proyek PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat), terpaksa MCK (mandi-cuci-kakus) nya dibangun di luar kampung tersebut. Padalah tujuan pemerintah desa mengalokasikan di kampung tersebut, agar terpiliharanya kesehatan lingkunan dan tidak ada lagi yang “dolbon” (membuang air besar di kebon).
Menurutnya untuk melestarikan rumah-rumah gubuk budaya atap welit tiap tahunnya memerlukan biaya tidak sedikit dan perlu perhatian khusus dari pemerintah daerah. Karena sekarang welit sudah sulit didapatkan, karena di wilayahnya sawah tidak lagi ditanam tebu.

Patahkan pantangan

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di Keputihan kini ada seorang pendatang asal Kabupaten Subang yang diduga ingin mematahkan pantangan tersebut. Pria berusia empat puluh tahunan itu bernama Carmun yang dikenal memiliki kekuatan supranatural. Dia membangun rumah permanen di sisi barat kampung tersebut.

Untuk melastarikan budaya rumah welit, sudah seharusnya menjadi program pemerintah daerah (Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olah Raga) Kabupaten Cirebon, agar tiap tahun menganggarkan untuk pembelian welit yang terbuat dari daun tebu., sehingga perpaduan keyakinan masyarakat setempat dengan rumah welit, bisa dijadikan budaya daerah setempat, paparnya. Sarika mengakui, sejak dia kecil hingga sekarang melihat kampung Keputihan tetap asri dan teduh, rumah-rumahnya pun tetap gubug. Namun, dia tidak tahu asal-usul kampung tersebut hingga mengandung misteri. Bahkan telah dipesan oleh Lebe Sholeh agar tidak turut campur tentang Keputihan.

Kondisi rumah yang sama-sama gubug, mengakibatkan kehidupan rumah tangga di sana tampak tenteram. Sumber kehidupan warga setempat rata-rata buruh tani, sebagian pekerja anyaman mebeler rotan dan perajut net. Namun, meskipun rumah bilik, banyak di antaranya yang memiliki sepeda motor bagus, bahkan, beberapa tahun lalu ada warga yang memiliki kendaraan roda empat. Akan tetapi karena secara ekonomi sudah mapan, warga tersebut akhirnya pindah dari Keputihan.

Selain sepeda motor, pesawat televisi juga ada, sementara listriknya menyambung dari kantor desa. Masuknya aliran listrik ini sepertinya sedikit berpengaruh pada sebagian warga. Ada beberapa di antaranya yang telah berani menggunakan atap asbes dan seng, bahkan, menjadikan rumahnya sebagai tempat usaha subkontraktor kerangka mebeler aluminium yang nantinya dipadukan dengan anyaman rotan atau plastik.***

Nurdin M Noer, Pemerhati Kebudayaan Lokal.cirebontrust
Back To Top